Tuhan sertamu !

Sebenernya gua mau langsung bahas komparasi tritunggal sabelius yang modalisme vs Tritunggal Kristen beserta ketentuan formula baptisan Kristen, tapi gua takut otak lu semua pada pecah, jadi bertahap dulu ya kita kupas artian-artian dalam Theologi menyangkut Tritunggal dulu.

Sebelumnya gua mau jelasin kalau penjabaran tentang ajaran Kristen yang ditulis oleh Bapa-Bapa Gereja itu bukan maksud untuk memaksa memasukkan Allah didalam logika, Bapa Gereja Santo Agustinus mengatakan “Kalau engkau memahamiNya, Ia bukan lagi Allah”(Santo Agustinus, khotbah). Tetapi perkataan Santo Agustinus sudah jelas bukan mempertentangkan penjabaran-penjabaran menyangkut ajaran Kristen, sebab Santo Agustinus sendiri memiliki banyak tulisan yang menjabarkan iman Kristen dengan sangat tegas dan penuh hikmat, tatapi maksudnya adalah kita manusia yang belum sempurna tidak akan bisa mengetahui Allah yang diluar pikiran dan indra manusia, sebab pengetahuan akan Allah secara klimaks hanya akan kita dapatkan nanti setelah hari kebangkitan dan kita diangkat ke Surga untuk menyatu dengan Sang Ilahi(bdk. 2 Petrus 1:4). Penjabaran Para Bapa Gereja tentang iman Kristen ini adalah daya upaya manusia yang mencintai Allah untuk mengenalNya lebih jauh dengan mencari hal-hal tentangNya didalam Kitab Suci lalu mendeskripsikan hal-hal ini dengan kata-kata tegas untuk maksud agar tidak dipertentangkan oleh para bidat dan kafir, sebab iman dan akal budi itu tidak bertentangan, kalau iman dan akal budi bertentangan ya tidak mungkin Allah memberikan ilham Ilahi kepada Para Nabi dan Rasul untuk menulis Kitab Suci, yang tulisan ini sarat akan manusia penulisnya yang memiliki akal budi.

1. Ουσια(Ousia)

Ousia adalah kata dalam Bahasa Yunani yang digunakan oleh Para Bapa Gereja untuk bertheologi dan juga digunakan dalam Kitab Suci, diantaranya:

ΛΟΥΚΑΝ 15:12
και ειπεν ο νεωτερος αυτων τω πατρι πατερ δος μοι το επιβαλλον μερος της ουσιας και διειλεν αυτοις τον βιον

Loukan 15:12
Kai eeipeen o neeooteeros autoon too patri pater dos moi to eephiballon meeros tis OUSIAS kai dieeileen autois ton bion

Lukas 15:12
Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian HARTA MILIK(OUSIAS) kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

Ousia memiliki akar kata ουσα(ousa) yang bermakna “ada” atau “menjadi” yang adalah bentuk feminim dari ειμι(eimi), kata ini juga dapat disejajarkan dengan to be dalam Bahasa Inggris seperti am, is, were, was, dll.

ΜΑΡΚΟΝ 5:25
και γυνη τις ουσα εν ρυσει αιματος ετη δωδεκα

Markon 5:25
Kai gyne tis OUSA een ruseei aimatos eeti doodeeka

Markus 5:25
Adalah(Ousa) di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan

Makna dari kata ousia yang digunakan dalam sastra-sastra Yunani adalah sebagai berikut:
– Sesuatu yang dimiliki oleh seseorang, kekayaan, harta benda.
– Keberadaan yang stabil (tetap), kenyataan yang tidak berubah.
– Sifat alami yang membentuk sesuatu menjadi anggota suatu kelompok atau jenis
– Milik yang substansial
– Dalam bentuk abstrak, eksistensi.
– Dalam bentuk konkrit, kenyataan primer mencakup segala perubahan dan proses alami.
– Dalam logika, substansi sebagai kategori.

Kata ousia ini dapat diterjemahkan kedalam bahasa Arab menjadi Dzat(bedakan dengan zat) atau dalam bahasa Latin menjadi Substantia, dapat juga diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi Hakikat.
Contoh penggunaannya adalah: cebong tolol dan cebong pinter walaupun berbeda jenis detilnya tetapi mereka tetap memiliki ousia yang serupa yaitu sama-sama cebong.

2. υποστασις(hypostasis)

Contoh penggunaan dalam Alkitab:

-Keyakinan

ΚΟΡΙΝΘΙΟΥΣ Β 9:4
μηπως εαν ελθωσιν συν εμοι μακεδονες και ευρωσιν υμας απαρασκευαστους καταισχυνθωμεν ημεις ινα μη λεγωμεν υμεις εν τη υποστασει ταυτη της καυχησεως

Korinthious B 9:4
Mipoos eean eelthoosin sun emoi makeedonees kai eeuroosin hymas aparaskeeuastous kataiskhynthoomeen imeis ina mi leegoomeen hymeeis een ti HYPOSTASEI tauti tis kaukhiseeoos

2 Korintus 9:4
supaya, apabila orang-orang Makedonia datang bersama-sama dengan aku, jangan mereka mendapati kamu belum siap sedia, sehingga kami — untuk tidak mengatakan kamu — merasa malu atas keyakinan(hypostasei) kami itu.

– Wujud/Persona

ΕΒΡΑΙΟΥΣ 1:3
ος ων απαυγασμα της δοξης και χαρακτηρ της υποστασεως αυτου φερων τε τα παντα τω ρηματι της δυναμεως αυτου δι εαυτου καθαρισμον ποιησαμενος των αμαρτιων ημων εκαθισεν εν δεξια της μεγαλωσυνης εν υψηλοις

Ebraious 1:3
Os oon apaugasma tis doksis kai kharaktir tis HYPOSTASEEOOS outou pheeroon tee ta panra too rimati dynameeoos autou di eeautou katharismon poiesameenos toon amartioon imoon eekathiseen een deksia tis megaloosynis een hypsilois

Ibrani 1:3
Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud(hypostaseeoos) Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,

Secara etimologis kata hypostasis adalah kata benda feminim dari υφισιστημι(hyphisistemi), kata hyphisistemi sendiri berasal dari dua kata yaitu: υπο(hypo) yang berarti “di bawah” dan dan ιστημι(istemi) yang berarti “berdiri”, “mendirikan”, “meletakkan”, “menempatkan”. Jadi υφισιστημι(hyphisistemi) bermakna “menempatkan” atau “meletakkan” sesuatu di bawah

Secara konseptualnya hypostasis bermakna “sesuatu yang letaknya dibawah sesuatu”, misalnya dibawah ousia(substansi). Contoh: domba adalah suatu ousia(substansi), dibawah ousia domba ini terdapat hypostasis-hypostasisnya seperti domba garut, domba batak, domba manado, domba cina, dll, walaupun hypostasis-hypostasisnya ini berbeda secara ruang dan bentuk detilnya tetapi tetap memiliki ousia yang serupa yaitu sama-sama domba.

3. ομοουσιος(homoousios) vs ομοιουσιος(homoiousios)

-Homoousios berasal dari dua kata yaitu homo yang artinya “satu/tunggal” dan ousios(ousia) yang artinya “dzat” atau “hakikat”.
Contoh penggunaanya: dada dan perut adalah dua hal yang dapat diidentitikan tapi saling melekat dan tak terpisahkan oleh karena dada dan perut itu homoousios(satu hakikat) dari TUBUH.

-Homoiosios berasal dari dua kata yaitu homoi yang artinya “serupa” dan ousios(ousia) yang artinya “dzat” atau “hakekat”.

Contoh penggunaannya: perut Aura Kasih dan perut Prety Asmara adalah dua hal yang memiliki homoiousios(hakikat yang serupa) yaitu sama-sama perut, tetapi dapat diidentikkan secara total karena berbeda ruang, tidak saling melekat, dan berbeda dzat kepemilikannya, hanya saja dzat kepemilikannya SERUPA yaitu sama-sama perut tapi tetap TIDAK SAMA karena yang satu perutnya Aura Kasih dan yang satu perutnya Prety Asmara.

satu contoh lagi biar paham:
Aqua dan Le Minerale memiliki hakikat yang serupa(homoiousios) yaitu sama-sama air mineral, tetapi dapat diidentikkan secara total karena berbeda ruang dan tidak saling melekat, dan secara hakikatnya memang BERBEDA tetapi SERUPA(serupa tapi tak sama).

4. Penggunaan dalam menjelaskan Tritunggal:

Allah itu Ousia(Dzat/Hakikat) Yang Maha Tunggal, yang tidak ada satu Ousia pun dialam semesta ini yang serupa dengan Ousia yang Allah miliki, dan tidak ada satu makhluk pun didunia ini yang memiliki Ousia yang serupa dengan Allah. Didalam Dzat Allah Yang Maha Tunggal ini terdapat tiga realita konkrit(hypostasis) Allah Yang Maha Tunggal, yang mana tiga hypostasis ini dapat diidentikkan tetapi saling MELEKAT dan TAK TERPISAHKAN karena ada didalam SATU HAKIKAT(HOMOOUSIOS) yaitu ke-Allah-an.

Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allahkita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi
(St. Irenaeus, melawan bidat-bidat, I:10:1).

saran gua abis baca ini lu lanjut baca tentang Tritunggal

Penulis: Ephitimia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.