MENGAPA ADA LUKISAN FILSUF YUNANI KUNO DI GUNUNG ATHOS?

Jika kamu penganut Ortodoks Timur maka kamu tidak akan asing dengan Gunung Athos. Ya, gunung yang di atasnya berdiri 20 biara tempat para monachos atau biarawan khusus pria ini terkenal karena begitu ketatnya aturan masuk di sana terutama avaton atau larangan masuk untuk wanita sampai-sampai binatang-binatang besar yang berkelamin betina seperti ayam, sapi, domba, kambing, kuda dan babi pun tidak boleh ada di sana.

Gunung Athos, menurut tradisi dimulai sebagai pusat kebiaraan Kristen sejak Bunda Maria ibu Yesus terdampar di semenanjung itu bersama Rasul Yohanes Penginjil. Karena begitu terpukau dengan keindahan panorama semenanjung itu maka Bunda Maria memohon kepada Anaknya agar semenanjung itu menjadi tamannya dan permintaan itu makbul oleh Kristus sendiri lewat suara dari surga. Sejak itu, gunung ini menjadi suaka bagi yang ingin mengakses keselamatan yang telah dianugerahkan Allah dengan berkarya dalam kebiaraan.
Menariknya, meskipun memiliki nuansa agamis yang kentara, dapat ditemukan mural-mural di sekitar biara yang berbau sekuler. Beberapa mural seperti peristiwa Alexander Agung dan para filsuf seperti Solon, Sybil, Sokrates, Plutarkhos, Homer, Theucydides, Plato dan Aristoteles. Mural-mural ini berada di biara seperti Meteora, Hagia Lavra dan Vatopedi).

Lukisan para Filsuf Yunani Kuno (pra Kristen) di salah satu Biara di Gunung Athos

Pertanyaanya adalah, “mengapa mural-mural sekuler ini bisa ada di tempat yang sakral seperti ini?” Well, jawabannya adalah karena selama periode Ottoman, biara adalah tempat untuk menimba ilmu berhubung sekolah-sekolah berbasis keagamaan dilarang di masa pemerintahan Turki. Akibatnya, biara bukan hanya sebagai tempat menimba spiritualitas tetapi juga pengetahuan yang sifatnya kognitif dan fresko atau mural ini digambar sebagai ilustrasi untuk mempermudah para pelajar yang menimba ilmu di sana. Lalu apa makna mural-mural ini dan apakah tidak bertentangan dengan kehidupan religius biara? Untuk menjawabnya kita perlu tahu apa bagaimana Gereja dalam memandang kehidupan non-religius.
Pertama, mengutip Janasuci Maximos sang Pengaku Iman yang pernah berkata, “tidak ada kejahatan di dalam segala sesuatu, yang jahat hanya ada di dalam penyalahgunaannya” Gereja sama sekali tidak menolak ilmu-ilmu sekuler yang satu bidang dengan para filsuf di mural tersebut. Tidak ada pertentangan antara jiwa-raga di mana yang ragawi harus kalah. Malah sebaliknya, yang ragawi bisa dipakai untuk memuliakan yang rohani dan sebaliknya, rohani memuliakan yang jasmani. Kasus-kasus di mana Gereja bersinergi dengan filsafat, sains, seni, ilmu sosial, dan lain-lain seperti ini sudah mulai marak sejak zaman Romawi-Yunani hingga dunia modern saat ini seperti uskup ROCOR Alm. Alexander Mileant (1938-2005) yang adalah pasca-sarjana teknik elektronika yang bekerja di laboratorium pengembangan propulsi pesawat jet NASA sekaligus penulis 300 pamflet penginjilan dalam 4 bahasa dan uskup Nicholas Hatzinikolaou (1954-) dari Gereja Yunani yang pernah menjadi peneliti kardiovaskular dan medis luar angkasa untuk NASA.

Kedua, para filsuf sendiri memang mengajarkan filosofi duniawi. Tapi, jika dipakai dengan benar akan mengantarkan kita pada kebenaran Kristus sehingga para filsuf ini berjasa dalam perkembangan teologi kekristenan karena karya-karya mereka dapat dipakai untuk memahami, menjabarkan dan membela pemahaman terhadap wahyu Tuhan. Karya-karya mereka berkontribusi untuk kemajuan umat manusia yang ujungnya adalah demi kebaikan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Namun sekali lagi, jika penggunaannya baik dan benar.
Oleh karena itu, adalah hoax jika iman membunuh akal budi, membinasakan kreativitas, dan memupuk fanatisme buta. Mari kita berdayakan akal budi, nurani, dan kehendak bebas kita agar bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan lewat kasih dengan sesama sesuai dengan talenta masing-masing supaya kelak ketika kita di hadapan tahta Anak Domba perbuatan kita bisa menjadi pertanggungjawaban yang baik. Tuhan memberkati.
Sumber:
• Data tentang Gunung Athos: Wikipedia Bahasa Inggris
• Data tentang mural filsuf: John Sanidopoulos dalam wordpressnya (johnsanidopoulos.com)

Special thanks to: Innokentios Chang, Seminarian Orthodox
Penulis: Andreas Henry Kurniadi

Tak Berkategori

Pengantar Kitab Habakuk

Jika melihat dari kitab Habakuk secara langsung, diperkirakan Habakuk hidup di sekitar abad ke-7 SM, sezaman dengan Nabi Yeremia, Zefanya dan Nahum[1]. Sangat minim penjelasan mengenai latar belakang Nabi Habakuk di bagian lain alkitab. Namun, dalam Deuterokanonika, nama Habakuk sempat disebut sebagai yang memberi makan kepada Daniel ketika Daniel berada dalam gua singa (Dan 14:33-39). Sedangkan, dalam LXX (Septuaginta), pasal 1:1 diberi tambahan “anak dari Yesus, seorang imam Lewi”[2]. Saya sendiri lebih condong ke LXX, alasannya akan saya kemukakan kemudian.

Menafsirkan pasal 3 tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan 2 pasal sebelumnya. Dalam pasal 1, Habakuk menyadari realita kebobrokan Yehuda dan meminta Tuhan menunjukkan keadilan-Nya. Habakuk gelisah akan diamnya melihat terjadinya kekerasan dan penindasan yang dilakukan orang fasik (Hab 1:2-4). Tuhan menjawab kegelisahan Habakuk tersebut dengan mengirim orang Kasdim sebagai penakluk Israel (Hab 1:5-11). Ini kiranya menggambarkan situasi kebangkitan Imperium Babilonia (orang-orang Kasdim) pasca runtuhnya Imperium Asyur. Menariknya, hal ini menimbulkan keterkejutan yang tak kalah hebat dengan yang pertama. Habakuk kembali mempertanyakan keputusan Tuhan memilih bangsa yang sama bobroknya dengan Yehuda untuk menghukum mereka (Hab 1:12-17). Habakuk melihat bahwa tindakan Tuhan mengirim orang Kasdim yang bengis tidaklah sesuai sifat Tuhan yang penuh kasih dan keadilan (Hab 1: 12-13).

Keterkejutan dan pertanyaan Habakuk awalnya tidak mendapatkan jawaban sehingga ia menantikan di tempat pengintaian. Pada zaman kerajaan, sangat lazim sebuah kota membangun benteng-benteng perlindungan. Dalam benteng perlindungan tersebut, didirikan juga menara pengintaian yang jauh lebih tinggi dari bagian benteng lain sehingga pengintai dapat melihat kedatangan musuh dari jauh. Di menara seperti inilah Habakuk mencari jawaban Tuhan dan mendapatkannya (Hab 2:1-2). Tuhan pun memberi ia jawaban atas tindakanNya memilih orang Kasdim. Tuhan meminta Habakuk untuk menunggu saat dimana hukuman atas orang-orang jahat akan menimpa mereka (Hab 2:3-5). Dari teks ini, kita melihat bahwa Tuhan memang menggunakan orang lalim untuk mewujudkan kehendak-Nya, namun itu tidak berarti Tuhan setuju atas perbuatan lalim mereka. Disini juga terasa pengaruh tradisi imamat dalam pasal 2:6-20. Di sini, Habakuk menuliskan kembali perintah Tuhan dan hukuman bagi yang melanggarnya. Hal inilah yang membuat saya condong dengan pendapat LXX karena jika memang Habakuk adalah anak seorang imam, sangat mungkin pemikirannya mengikuti tradisi imamat yang sangat menekankan unsur legal berdasarkan Torah.

John J Collins berusaha melihat keterkaitan bagian ini dengan konteks waktu itu. Collins melihat bahwa kesia-siaan akan berhala yang ditunjukkan pada ayat 19-20 menggambarkan situasi zaman deutro-Yesaya yang menghadapi polemik penyembahan ilah-ilah lain oleh bangsa Yehuda (Bdk 44:9-20)[3]. Penghukuman yang akan menimpa Babel juga dilihat sebagai kemiripan dengan nubuatan hukuman terhadap Asyur yang tertulis dalam Yesaya 10[4].

Pasal 3 sendiri berisi nyanyian ungkapan iman atas jawaban dan tindakan Tuhan yang digambarkan dalam pasal 1-2. J A Telnoni membagi pasal ini menjadi 3 bagian yaitu bagian pertama (Hab 3:1-7), bagian kedua (Hab 3:8-13) dan bagian ketiga (Hab 3:14-19)[5]. Disini Telnoni berbeda dengan TB-LAI yang tidak membagi pasal ini dalam perikop-perikop seperti dua pasal sebelumnya. Saya sendiri lebih memilih untuk membagi pasal ini sesuai dengan bentuk awalnya yaitu madah. Hal itu saya lakukan dengan memperhatikan kata sela pada teks ini. Hasilnya, saya membagi teks ini menjadi 4 bagian juga dengan beberapa perbedaan yaitu bagian pertama (Hab 3:1-3a), bagian kedua (Hab 3:3b-9a), bagian ketiga (Hab 3:9b-13) dan bagian keempat (Hab 3:14-19).

Bagian pertama menceritakan secara singkat bagaimana Habakuk menyadari bahwa tindakan Tuhan atas bangsa-bangsa, termasuk Israel, sedang terjadi. Kata T’eman disini diartikan Telnoni sebagai badai yang terjadi di Selatan sebagai wujud kekuatan Tuhan atau jalur masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan pasca eksodus[6]. Pegunungan Paran sendiri menunjuk pada pegunungan yang menjadi tempat Bangsa Israel tinggal setelah peristiwa di gunung Sinai. Bertolak dari pendapat Telnoni, saya berpendapat bahwa penulis berusaha menunjukkan bahwa Allah kembali turut bertindak menyelamatkan umat-Nya layaknya peristiwa eksodus.

Perasaan takjub akan tindakan Allah yang muncul pada bagian pertama, diperkuat oleh bagain kedua. Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang mengatasi langit dan lautan serta menimbulkan ketakutan terhadap bangsa-bangsa. Penggambaran dalam ayat 9a saya kira sengaja dituliskan untuk menunjukkan bahwa Allah telah siap “berperang” melawan musuh-musuh umat-Nya. Ini juga lekat dengan penggambaran YHWH oleh bangsa Israel yang seringkali diindentikkan dengan dewa perang.

Bagian ketiga juga berusaha mengingatkan bangsa Israel akan kedahsyatan kekuatan Allah yang berkuasa atas alam (Sungai, Gunung, Air, Matahari). Kedahsyatan ini kemudian diarahkan untuk menghukum musuh-musuh dan menyelamatkan orang yang diurapi Tuhan (Hab 3:13). Allah kembali lagi digambarkan sebagai penghukum bangsa-bangsa yang lalim meskipun bangsa tersebut digunakan Allah sebagai alatnya.

Bagian keempat, mirip seperti konklusi dan penutup. Menyadari akan kedahsyatan dan besarnya kuasa serta kasih Tuhan, membuat Habakuk yakin dan takjub akan janji Tuhan (Hab 3:16a). Ketakjuban inilah yang mendorong untuk tetap setia dan taat menunggu pemenuhan janji Allah meskipun ia berada dalam kondisi terpuruk (3:16b-17). Kondisi terpuruk ini kemudian tidak ia jadikan alasan untuk meninggalkan Tuhan melainkan ia memilih tetap setia dan bersukacita menanti janji Tuhan (3:18-19).

Catatan kaki:

[1] Blommendaal, J (diterjemahkan oleh: Naipospos, P.S)., Pengantar kepada Perjanjian Lama. (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967). Hlm 107

[2] Bergant, Dianne dan Karris, Robert J (diterjemahkan oleh: Hadiwiyata, A. S)., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. (Yogyakarta: Kanisius, 2002). Hlm 689

[3] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333.

[4] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333

[5] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 105

[6] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 111

Penulis: Qohelet

Tak Berkategori

Kekristenan Dalam Al-Qur’an

Raja Al-Harith V
Seorang Raja dari Kerajaan Kristen yang bernama Ghassan, terletak di tanah Arabia. Kerajaan ini lalu jatuh ke dalam kekuasaan Kekhilafahan Islam.
Sumber gambar: http://www.royalghassan.org

Al-Qur’an sebagai kitab suci sekaligus world view dari umat Muslim seringkali menjadi dasar yang menentukan sikap Muslim terhadap agama lain hingga hari ini. Pada dasarnya di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat inklusif yang mendukung kedamaian dalam hidup berdampingan dengan agama yang lain. Namun di lain sisi ada juga ayat-ayat yang bersifat ekslusif dan bersifat mengkritik ajaran agama lain. Kritik ini seringkali dipandang sebagai penghambat dalam hidup berdampingan dan merusak kebijakan modern yang menjunjung tinggi sikap respek dan toleransi. Untuk itu hal yang kerap menjadi polemik itu harus diduskusikan agar dapat membangun dasar bagi dialog inter religius di era modern ini.

Ambivalensi sikap terhadap yang lain seringkali ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Misalnya pada QS 2:62 ditunjukan sikap yang simpatik berkaitan dengan jaminan keselamatan bagi yang lain. hal ini berlaku bagi orang yang percaya pada Tuhan dan melakukan perbuatan baik. Selain itu dalam QS 2:265 dan QS 190:5, kita dapat melihat bagaimana visi kebebasan beragama dijunjung dalam Al-Qur’an. Di sisi lain ada juga ayat Al-Qur’an yang bersifat sangat ekslusif, yang menganggap bahwa hanya Islam lah satu-satunya jalan menuju keselamatan (QS 3:19; 3:85; 5:3). Pada bagian tertentu (QS 5:17 dan 72) menunjukan kritik terhadap keliahian Yesus. Dibagian lain ada juga kritik terhadap doktrin Trinitas (QS 4:171; 5:73; dan 5:116) yang mana dalam Qur’an mereka memahami bahwa Tuhan disetarakan dengan Yesus dan Maria sebagai tiga persona dalam trinitas. Hal ini membuat kebanyakan Muslim mencoba menyerang Kekristenan dan Yahudi dengan keyakinan bahwa kitab mereka (yahudi dan kristen) telah dipalsukan. Walaupun demikian Al-Qur’an mengakui kitab-kitab suci yang telah ada sebelumnya (torah, injil, zabur, suhuf, dan alwah) bahkan dipandang sebagai sesuatu yang memberikan bimbingan dan cahaya. Penyelewengan terhadap perintah kitab suci serta asumsi bahwa kitab suci umat yahudi dan kristen telah dipalsukan akhirnya melatarbelakangi lahirnya teks-teks ekslusif. Lalu bagimana menyelesaikan ambivalensi sikap ini?

Untuk menyelesaikan ambivalensi ini ada dua strategi yang dilakukan oleh kalangan tradisonalis. Yang pertama adalah melihat sebab munculnya suatu wahyu (Asbab al nuzul) dalam hal ini konteks historisitas wahyu coba digali dengan metode eksegesis. Hal yang menjadi masalah dalam hal ini adalah perbedaan pendapat yang kontradiksi antara penafsir yang satu dengan yang lain. Strategi yang kedua adalah dengan melihat ayat yang membatalkan dan dibatalkan (al-nasikh wal mansukh). Dalam strategi ini ayat Alquran yang menjadi wahyu mula-mula dapat dibatalkan atau menjadi inactive oleh wahyu yang datang kemudian. Kedua strategi ini dapat dipahami sebagai upaya memahami kronologi fase-fase kehidupan yang dialami oleh Muhammad. Pada periode Mekah ketika agama Islam baru lahir dan masih lemah, sikap toleransi menjadi hal yang dijunjung tinggi, bahkan mereka sangat bersahabat dengan orang Kristen dan Yahudi. Julukan yang diberikan kepada kristen dan yahudi pun sangat ramah yakni “Ahl al kitab”. Akan tetapi ketika masuk ke periode Madinah, Muhammad mengalami perjumpaan yang berbeda dengan orang Kristen dan Yahudi disana. Karena kontak yang demikian besar dengan populasi umat Yahudi yang cukup banyak hal ini menjadi tema utama dalam periode Medinah. Klaim otoritatif atas teks kitab suci menjadi hal yang dikompetisikan antara Islam dan Yahudi. Belum lagi penolakan terhadap wahyu yang dibawa oleh Muhammad membuat ayat tertentu dalam Al- Qur’an merespons dengan keras agama yang lebih tua (Yahudi dan Kristen). Kemudian berdasarkan penelitian Angel Neuwirth jika kita membandingkan teks tentang Yesus dalam surah madinah (Surah al maryam) dan surah mekah (surah al imran), maka kita akan menjumpai agenda politis untuk melemahkan dominasi Yahudi di Medinah yang menganggap bahwa mereka telah menyalibkan Yesus sang Mesias. Dalam surah Medinah dikatakan bahwa Yesus tidaklah mati disalibkan, hal ini tentu saja sasaran utamanya bukan untuk mengkritik kekristenan tapi mengalahkan umat Yahudi. Dalam periode ini juga konsep teologi kekristenan berkaitan dengan Yesus dan Maria menjadi kontroversi. Walaupun demikian dalam sura Al maida (QS 5:48) pluralisme agama dipandang sebagai sebuah misteri ilahi yang harus diterima demi kemulusan relasi di ruang publik.

Pendekatan lain yang dapat digunakan selain kedua strategi di atas adalah heretical explanation yang dilakukan oleh para sarjana. Berdasarkan pendekatan ini, Quran sebenarnya tidak mengkritik doktrin Alkitab tentang trinitas tetapi mengkritik doktrin trinitas yang dibuat oleh beberapa sekte sesat dari kekristenan. Hal ini bisa dikatakan sebagai kesalahpahaman Islam dalam memahami doktrin kekristenan. Namun hal ini juga tidak sepenuhnya salah karena keristenan mempunyai beragam konsep tentang trinitas. Pandangan lain berpendapat bahwa teks tersebut berangkat dari praktek devosional yang dilakukan oleh orang Kristen yang mengkultuskan Maria. Praktek ini dilakukan oleh kalangan yang bernama Collyridians yang menganggap bahwa ada tiga tuhan : yakni Bapa, Putra, dan Maria. Rupanya sekte sesat ini nampaknya juga sempat ditentang dengan keras oleh St. Epiphanius of Salamis. Para sarjana juga mengatakan bahwa hal ini cukup wajar karena Arabia yang saat itu dikenal sebagia sumber ajaran sesat.

Dari sini kira bisa melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan staregi retorikal dan mengangkat pernyataan yang polemik guna memenangkan argumen melawan kalangan/orang yang menolaknya. Dari beragam pemaparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa pertama polemik Al-Qur’an terhadap orang Yahudi dan Kristen menunjukan sejauh mana Muhammad mengenal sejumlah besar istilah agama dan budaya dari komunitas yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu menurut para sarjana wajar jika Al-Qur’an meminjam istilah-istilah dari sumber Yahudi dan Kristen. pointnya bukanlah untuk membuktikan atau menolak teori “pinjaman” tetapi untuk menekankan bahwa studi polemik kitab suci sangat membantu dalam upaya merekonstruksi skenario agama periode awal dalam pengembangan komunitas agama. Kedua asal-usul Islam tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan pola interaksi antara agama monoteistik .Oleh karena itu polemik dalam kitab suci perlu direfleksikan dan di-reinterpretasikan dalam terang keberagaman agama di era modern.

Karya ini adalah resume dari buku:

“Other Religions” By Mun’im Sirry dalam The willet blackwell company to the Quran, second edition. edited by: Andrew Rippin and Jawid Mojaddeli.

Penulis: Eirens Josua Mata Hine

Tak Berkategori

WAHYU UMUM DAN WAHYU KHUSUS DALAM MEMANDANG AGAMA-AGAMA NON-KRISTEN

Nabi Musa di Gunung Sinai

Kadang kita bertanya: kalau Tuhan itu satu, mengapa banyak agama di dunia ini dengan ciri khasnya masing-masing. Hindu misalnya, identik dengan dewa-dewa yang berjumlah banyak sekali dan berpakaian ala India atau Bali sehingga rumit bagi golongan non-Hindu untuk mencerna kalau ternyata Yang di Atas itu berbeda budaya dari yang di bawah. Demikian pula Buddhisme dengan Boddhisatva dan Arhatnya atau Konghucu dengan pakaian ala Tiongkoknya.

Menanggapi keberagaman ini ada beberapa respon. Pertama, adalah mereka yang menganggap kalau Tuhan itu buatan manusia karena Tuhan tidak jauh-jauh menyerupai manusia tempat di mana Tuhan itu dipuja. Giliran ganti budaya otomatis ganti Tuhan. Voltaire, seorang Deis (percaya Tuhan tapi tidak percaya agama) menganggap, keberadaan wahyu-wahyu yang ditemui dalam berbagai agama membuat Tuhan tidak dapat diketahui sebab kalau Tuhan dapat diketahui, tentunya Ia akan mewahyukan kebenaran secara konsisten[1]. Golongan kedua menganggap bahwa semua wahyu ini sebenarnya memiliki 1 sumber Tuhan yang sama. Hanya saja karena mendarat di tempat yang berbeda maka mengalami refraksi (bias) namun tetap berfungsi untuk menyampaikan kebenaran. Golongan ini menganggap wahyu lain pun sama benarnya asal sudah disaring dari konteks tempat ia mendarat sehingga nampaklah wahyu yang ingin disampaikan Tuhan. Model yang diambil golongan ini adalah Gajah Ashoka, setiap agama hanyalah fragmen dari kebenaran besar yang tidak akan bisa dipahami manusia dan setiap fragmen ini terbuka untuk dikritik. Inilah model pluralis (yang juga tercermin dalam ekumenisme dalam Kekristenan)[2]. Golongan ketiga lebih tegas dalam menanggapi isu ini. Mereka berpemahaman bahwa hanya ada 1 wahyu yang benar dan yang lain adalah manipulasi dan tipu daya dari manusia[3A] atau kuasa jahat[3B]. Inilah prespektif fundamentalis.

Secara sepintas, ketiga pandangan ini tidak memuaskan menurut caranya masing-masing:

Pandangan Pertama meskipun tidak mendustai keberadaan Tuhan namun membuat Tuhan menjadi terlalu nan jauh di atas sana sehingga tidak punya urusan terhadap alam ini. Pandangan ini merekomendasikan Agnostikisme (tidak tahu akan keberadaan Tuhan) dan Deisme. Kelemahan pandangan ini adalah prespektif ini gagal menyadari bahwa manusia dalam kelemahannya pasti membutuhkan sosok untuk bersandar dan sosok ini harus accessible dan dekat. Jika Tuhan dibuat terlalu nan jauh di sana, maka tidak akan ada gunanya Tuhan ada atau tidak sebab Tuhan cuma pajangan

Pandangan Kedua selain relatif mendustai ortodoksi setiap agama yang tentunya akan membuat kaum fundamentalis memberang karena sifat kebenaran agama adalah konstan, juga membuat suatu kemunduran: wahyu yang dimaksudkan untuk membuat diri Tuhan diketahui menjadi manusia malah dimundurkan menjadi Tuhan yang abstrak sebab Tuhan bukan lagi Yesus, Brahma maupun Ahura Mazda melainkan Unknown yang mana Yesus, Brahma dan Ahura Mazda adalah cuma penerkaan manusia atas yang Unknown ini.

Pandangan Ketiga, sekalipun menegakkan ortodoksi tiap agama tempat pandangan ini berpijak, gagal menerka bahwa di luar agamanya sebenarnya ada orang-orang yang memiliki rasa keberimanan dan kerinduan akan yang ilahi. Bapa Reformator, John Calvin mempostulatkan adanya suatu sensus divinitatis atau perasaan akan keberadaan Ilahi pada semua orang[4], hanya saja tidak tahu mau dikemanakan atau diungkapkan perasaan itu. Menganggap bahwa semua orang di luar agamanya adalah pemuja setan, sebenarnya mendustai keberadaan sensus itu.

Maka, pengarang menawarkan pandangan keempat. Pandangan ini melibatkan wahyu umum. Sebelumnya, apa itu wahyu umum? Singkatnya, Wahyu Umum adalah pengungkapan ilahi yang nampak kepada semua orang tanpa memandang iman mereka. Wahyu Umum ada 5 yaitu[5]:

  • Alam Semesta
  • Musim-musim
  • Sejarah Dunia
  • Peristiwa-peristiwa sehari-hari dalam kehidupan manusia
  • Hati Nurani

Semua manusia secara spontan dapat mengetahui bahwa tidak mungkin dalam durasi yang sangat lama dan dalam skala yang sangat besar segala sesuatu bisa tertata sedemikian tepat dan rapinya tanpa kesengajaan dan tentunya, setiap yang sengaja pasti memiliki kehendak, dan dengan demikian, pribadi. Dari situ mereka bisa menginferensikan adanya Tuhan sekalipun tidak bisa mengamati-Nya.

Bagi kita orang Kristen yang tahu lewat kesaksian para Rasul bahwa alam semesta ini dijadikan oleh Firman Allah atau Kristus, kita tahu bahwa agama-agama lain pun mengamati Kristus juga dari gejala-gejala karya-Nya. Kita sudah tidak perlu lagi berdebat apakah Kristus ada atau tidak sebab agama lain pun tahu Kristus itu ada tetapi mereka tidak tahu siapa Kristus sehingga masih harus bergumul, menunggu, mencari dan berusaha untuk menggapai-Nya. Nah, bagi iman Kristen jelas bahwa Yesus adalah Kristus sehingga tugas setiap kita adalah mewartakan kepada mereka, bahwa yang telah mereka cari itu sudah datang sebagaimana yang dicontohkan Rasul Paulus pada penduduk Athena yang ditulis dalam Kisah Rasul 17:23 tentang mezbah kepada dewa yang tidak dikenal.

Banyak peradaban yang sebenarnya pararel dengan iman Kristen. Misal: Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un dalam Islam, sejajar dengan 1 Korintus 8: 6[6]; Sunyata dalam Buddhisme pararel dengan Kenosis pada Filipi pasal 2: 9[7]. Sementara Tao Te Jing dalam Taoisme sejajar secara substansi dengan Matius pasal 5: 1-12. Trimurti dalam Hinduisme pun bisa sejajar secara fungsional dengan Roma 11: 36. Pararelisme yang dicantumkan pada tulisan ini hanya sedikit dari banyak aspek yang ada. Kesejajaran ini mengimplikasikan 2 hal:

Pertama, tidak ada agama yang kurang secara substantif-fungsional baik Kristen maupun agama lain yang sampai menuntut adanya inkorporasi story agama satu ke agama yang lain (mendekati sinkretisme). Semua worldview agama-agama memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum karena mereka telah eksis selama ribuan tahun dengan obyek material (manusia, alam, Tuhan) dan obyek formal (kosmologis, antropologis, etis, eksistensial, dll) sama walaupun dengan narasi, ekspresi dan regulasi yang berbeda-beda. Demikian pula tidak perlu kita merasa rendah diri ketika berhadapan dengan teks lain yang menyajikan hal yang selama ini terkubur dalam iman kita. Tidak perlu sampai kemudian merasa terkhianati oleh Alkitab karena silau akan teks lain lalu berbalik menyerang iman Kristen dengan bermodalkan kitab lain sebagai kacamata, yang tentunya tidak fair.

Kedua, melihat bahwa secara substansi ada kesejajaran antara Kristen dengan non-Kristen mestinya kita tidak perlu melihat iman non-Kristen sebagai sesuatu yang pasti, seluruhnya, dan selamanya datang dari setan melainkan suatu upaya manusia yang ingin menggapai Tuhan namun tidak mendapatkan kesempatan untuk menerima pengungkapan khusus yaitu Inkarnasi Yesus. Agar mereka bisa menggapai itulah Gereja perlu bermisi. Alih-alih memposisikan teologi iman lain sebagai musuh dan berusaha menghancurkan tatanan mereka dalam rangka menang atas setan, Kekristenan mestinya memposisikan teologi lain ini sebagai slot untuk diisi oleh Kristus, subyek yang mereka cari-cari selama ini.

Referensi:

1. https://enacademic.com/dic.nsf/enwiki/197208 diakses pada 1 Oktober 2019

2. Said, Nur. 2015. Nalar Pluralisme John Hick Dalam Keberagamaan Global dalam FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 3

3A. https://www.gotquestions.org/so-many-religions.html diakses pada 1 Oktober 2019

3B. https://www.gotquestions.org/oldest-religion.html diakses pada 1 Oktober 2019

4. Pritchard, Duncan. 2014. What Is This Thing Called Knowledge; New York; Routledge halaman 136

5. Katekisasi dengan Pater Lazarus Bambang Sucanto, Gereja Ortodoks Aghios Dionysios Zakynthos, Yogyakarta pada tanggal 20 November 2018

6. Dr. Bambang Noorsena dalam ceramahnya di GKJ Adisucipto, Yogyakarta pada 11 Juni 2019

7. Pdt. Seno Adhi Noegroho, M.th dalam lekturnya di AKINDO Yogyakarta pada 30 September 2019

Penulis: Henry Kurniadi

Tak Berkategori