Raja Al-Harith V
Seorang Raja dari Kerajaan Kristen yang bernama Ghassan, terletak di tanah Arabia. Kerajaan ini lalu jatuh ke dalam kekuasaan Kekhilafahan Islam.
Sumber gambar: http://www.royalghassan.org

Al-Qur’an sebagai kitab suci sekaligus world view dari umat Muslim seringkali menjadi dasar yang menentukan sikap Muslim terhadap agama lain hingga hari ini. Pada dasarnya di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat inklusif yang mendukung kedamaian dalam hidup berdampingan dengan agama yang lain. Namun di lain sisi ada juga ayat-ayat yang bersifat ekslusif dan bersifat mengkritik ajaran agama lain. Kritik ini seringkali dipandang sebagai penghambat dalam hidup berdampingan dan merusak kebijakan modern yang menjunjung tinggi sikap respek dan toleransi. Untuk itu hal yang kerap menjadi polemik itu harus diduskusikan agar dapat membangun dasar bagi dialog inter religius di era modern ini.

Ambivalensi sikap terhadap yang lain seringkali ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Misalnya pada QS 2:62 ditunjukan sikap yang simpatik berkaitan dengan jaminan keselamatan bagi yang lain. hal ini berlaku bagi orang yang percaya pada Tuhan dan melakukan perbuatan baik. Selain itu dalam QS 2:265 dan QS 190:5, kita dapat melihat bagaimana visi kebebasan beragama dijunjung dalam Al-Qur’an. Di sisi lain ada juga ayat Al-Qur’an yang bersifat sangat ekslusif, yang menganggap bahwa hanya Islam lah satu-satunya jalan menuju keselamatan (QS 3:19; 3:85; 5:3). Pada bagian tertentu (QS 5:17 dan 72) menunjukan kritik terhadap keliahian Yesus. Dibagian lain ada juga kritik terhadap doktrin Trinitas (QS 4:171; 5:73; dan 5:116) yang mana dalam Qur’an mereka memahami bahwa Tuhan disetarakan dengan Yesus dan Maria sebagai tiga persona dalam trinitas. Hal ini membuat kebanyakan Muslim mencoba menyerang Kekristenan dan Yahudi dengan keyakinan bahwa kitab mereka (yahudi dan kristen) telah dipalsukan. Walaupun demikian Al-Qur’an mengakui kitab-kitab suci yang telah ada sebelumnya (torah, injil, zabur, suhuf, dan alwah) bahkan dipandang sebagai sesuatu yang memberikan bimbingan dan cahaya. Penyelewengan terhadap perintah kitab suci serta asumsi bahwa kitab suci umat yahudi dan kristen telah dipalsukan akhirnya melatarbelakangi lahirnya teks-teks ekslusif. Lalu bagimana menyelesaikan ambivalensi sikap ini?

Untuk menyelesaikan ambivalensi ini ada dua strategi yang dilakukan oleh kalangan tradisonalis. Yang pertama adalah melihat sebab munculnya suatu wahyu (Asbab al nuzul) dalam hal ini konteks historisitas wahyu coba digali dengan metode eksegesis. Hal yang menjadi masalah dalam hal ini adalah perbedaan pendapat yang kontradiksi antara penafsir yang satu dengan yang lain. Strategi yang kedua adalah dengan melihat ayat yang membatalkan dan dibatalkan (al-nasikh wal mansukh). Dalam strategi ini ayat Alquran yang menjadi wahyu mula-mula dapat dibatalkan atau menjadi inactive oleh wahyu yang datang kemudian. Kedua strategi ini dapat dipahami sebagai upaya memahami kronologi fase-fase kehidupan yang dialami oleh Muhammad. Pada periode Mekah ketika agama Islam baru lahir dan masih lemah, sikap toleransi menjadi hal yang dijunjung tinggi, bahkan mereka sangat bersahabat dengan orang Kristen dan Yahudi. Julukan yang diberikan kepada kristen dan yahudi pun sangat ramah yakni “Ahl al kitab”. Akan tetapi ketika masuk ke periode Madinah, Muhammad mengalami perjumpaan yang berbeda dengan orang Kristen dan Yahudi disana. Karena kontak yang demikian besar dengan populasi umat Yahudi yang cukup banyak hal ini menjadi tema utama dalam periode Medinah. Klaim otoritatif atas teks kitab suci menjadi hal yang dikompetisikan antara Islam dan Yahudi. Belum lagi penolakan terhadap wahyu yang dibawa oleh Muhammad membuat ayat tertentu dalam Al- Qur’an merespons dengan keras agama yang lebih tua (Yahudi dan Kristen). Kemudian berdasarkan penelitian Angel Neuwirth jika kita membandingkan teks tentang Yesus dalam surah madinah (Surah al maryam) dan surah mekah (surah al imran), maka kita akan menjumpai agenda politis untuk melemahkan dominasi Yahudi di Medinah yang menganggap bahwa mereka telah menyalibkan Yesus sang Mesias. Dalam surah Medinah dikatakan bahwa Yesus tidaklah mati disalibkan, hal ini tentu saja sasaran utamanya bukan untuk mengkritik kekristenan tapi mengalahkan umat Yahudi. Dalam periode ini juga konsep teologi kekristenan berkaitan dengan Yesus dan Maria menjadi kontroversi. Walaupun demikian dalam sura Al maida (QS 5:48) pluralisme agama dipandang sebagai sebuah misteri ilahi yang harus diterima demi kemulusan relasi di ruang publik.

Pendekatan lain yang dapat digunakan selain kedua strategi di atas adalah heretical explanation yang dilakukan oleh para sarjana. Berdasarkan pendekatan ini, Quran sebenarnya tidak mengkritik doktrin Alkitab tentang trinitas tetapi mengkritik doktrin trinitas yang dibuat oleh beberapa sekte sesat dari kekristenan. Hal ini bisa dikatakan sebagai kesalahpahaman Islam dalam memahami doktrin kekristenan. Namun hal ini juga tidak sepenuhnya salah karena keristenan mempunyai beragam konsep tentang trinitas. Pandangan lain berpendapat bahwa teks tersebut berangkat dari praktek devosional yang dilakukan oleh orang Kristen yang mengkultuskan Maria. Praktek ini dilakukan oleh kalangan yang bernama Collyridians yang menganggap bahwa ada tiga tuhan : yakni Bapa, Putra, dan Maria. Rupanya sekte sesat ini nampaknya juga sempat ditentang dengan keras oleh St. Epiphanius of Salamis. Para sarjana juga mengatakan bahwa hal ini cukup wajar karena Arabia yang saat itu dikenal sebagia sumber ajaran sesat.

Dari sini kira bisa melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan staregi retorikal dan mengangkat pernyataan yang polemik guna memenangkan argumen melawan kalangan/orang yang menolaknya. Dari beragam pemaparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa pertama polemik Al-Qur’an terhadap orang Yahudi dan Kristen menunjukan sejauh mana Muhammad mengenal sejumlah besar istilah agama dan budaya dari komunitas yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu menurut para sarjana wajar jika Al-Qur’an meminjam istilah-istilah dari sumber Yahudi dan Kristen. pointnya bukanlah untuk membuktikan atau menolak teori “pinjaman” tetapi untuk menekankan bahwa studi polemik kitab suci sangat membantu dalam upaya merekonstruksi skenario agama periode awal dalam pengembangan komunitas agama. Kedua asal-usul Islam tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan pola interaksi antara agama monoteistik .Oleh karena itu polemik dalam kitab suci perlu direfleksikan dan di-reinterpretasikan dalam terang keberagaman agama di era modern.

Karya ini adalah resume dari buku:

“Other Religions” By Mun’im Sirry dalam The willet blackwell company to the Quran, second edition. edited by: Andrew Rippin and Jawid Mojaddeli.

Penulis: Eirens Josua Mata Hine

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.