Jika melihat dari kitab Habakuk secara langsung, diperkirakan Habakuk hidup di sekitar abad ke-7 SM, sezaman dengan Nabi Yeremia, Zefanya dan Nahum[1]. Sangat minim penjelasan mengenai latar belakang Nabi Habakuk di bagian lain alkitab. Namun, dalam Deuterokanonika, nama Habakuk sempat disebut sebagai yang memberi makan kepada Daniel ketika Daniel berada dalam gua singa (Dan 14:33-39). Sedangkan, dalam LXX (Septuaginta), pasal 1:1 diberi tambahan “anak dari Yesus, seorang imam Lewi”[2]. Saya sendiri lebih condong ke LXX, alasannya akan saya kemukakan kemudian.

Menafsirkan pasal 3 tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan 2 pasal sebelumnya. Dalam pasal 1, Habakuk menyadari realita kebobrokan Yehuda dan meminta Tuhan menunjukkan keadilan-Nya. Habakuk gelisah akan diamnya melihat terjadinya kekerasan dan penindasan yang dilakukan orang fasik (Hab 1:2-4). Tuhan menjawab kegelisahan Habakuk tersebut dengan mengirim orang Kasdim sebagai penakluk Israel (Hab 1:5-11). Ini kiranya menggambarkan situasi kebangkitan Imperium Babilonia (orang-orang Kasdim) pasca runtuhnya Imperium Asyur. Menariknya, hal ini menimbulkan keterkejutan yang tak kalah hebat dengan yang pertama. Habakuk kembali mempertanyakan keputusan Tuhan memilih bangsa yang sama bobroknya dengan Yehuda untuk menghukum mereka (Hab 1:12-17). Habakuk melihat bahwa tindakan Tuhan mengirim orang Kasdim yang bengis tidaklah sesuai sifat Tuhan yang penuh kasih dan keadilan (Hab 1: 12-13).

Keterkejutan dan pertanyaan Habakuk awalnya tidak mendapatkan jawaban sehingga ia menantikan di tempat pengintaian. Pada zaman kerajaan, sangat lazim sebuah kota membangun benteng-benteng perlindungan. Dalam benteng perlindungan tersebut, didirikan juga menara pengintaian yang jauh lebih tinggi dari bagian benteng lain sehingga pengintai dapat melihat kedatangan musuh dari jauh. Di menara seperti inilah Habakuk mencari jawaban Tuhan dan mendapatkannya (Hab 2:1-2). Tuhan pun memberi ia jawaban atas tindakanNya memilih orang Kasdim. Tuhan meminta Habakuk untuk menunggu saat dimana hukuman atas orang-orang jahat akan menimpa mereka (Hab 2:3-5). Dari teks ini, kita melihat bahwa Tuhan memang menggunakan orang lalim untuk mewujudkan kehendak-Nya, namun itu tidak berarti Tuhan setuju atas perbuatan lalim mereka. Disini juga terasa pengaruh tradisi imamat dalam pasal 2:6-20. Di sini, Habakuk menuliskan kembali perintah Tuhan dan hukuman bagi yang melanggarnya. Hal inilah yang membuat saya condong dengan pendapat LXX karena jika memang Habakuk adalah anak seorang imam, sangat mungkin pemikirannya mengikuti tradisi imamat yang sangat menekankan unsur legal berdasarkan Torah.

John J Collins berusaha melihat keterkaitan bagian ini dengan konteks waktu itu. Collins melihat bahwa kesia-siaan akan berhala yang ditunjukkan pada ayat 19-20 menggambarkan situasi zaman deutro-Yesaya yang menghadapi polemik penyembahan ilah-ilah lain oleh bangsa Yehuda (Bdk 44:9-20)[3]. Penghukuman yang akan menimpa Babel juga dilihat sebagai kemiripan dengan nubuatan hukuman terhadap Asyur yang tertulis dalam Yesaya 10[4].

Pasal 3 sendiri berisi nyanyian ungkapan iman atas jawaban dan tindakan Tuhan yang digambarkan dalam pasal 1-2. J A Telnoni membagi pasal ini menjadi 3 bagian yaitu bagian pertama (Hab 3:1-7), bagian kedua (Hab 3:8-13) dan bagian ketiga (Hab 3:14-19)[5]. Disini Telnoni berbeda dengan TB-LAI yang tidak membagi pasal ini dalam perikop-perikop seperti dua pasal sebelumnya. Saya sendiri lebih memilih untuk membagi pasal ini sesuai dengan bentuk awalnya yaitu madah. Hal itu saya lakukan dengan memperhatikan kata sela pada teks ini. Hasilnya, saya membagi teks ini menjadi 4 bagian juga dengan beberapa perbedaan yaitu bagian pertama (Hab 3:1-3a), bagian kedua (Hab 3:3b-9a), bagian ketiga (Hab 3:9b-13) dan bagian keempat (Hab 3:14-19).

Bagian pertama menceritakan secara singkat bagaimana Habakuk menyadari bahwa tindakan Tuhan atas bangsa-bangsa, termasuk Israel, sedang terjadi. Kata T’eman disini diartikan Telnoni sebagai badai yang terjadi di Selatan sebagai wujud kekuatan Tuhan atau jalur masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan pasca eksodus[6]. Pegunungan Paran sendiri menunjuk pada pegunungan yang menjadi tempat Bangsa Israel tinggal setelah peristiwa di gunung Sinai. Bertolak dari pendapat Telnoni, saya berpendapat bahwa penulis berusaha menunjukkan bahwa Allah kembali turut bertindak menyelamatkan umat-Nya layaknya peristiwa eksodus.

Perasaan takjub akan tindakan Allah yang muncul pada bagian pertama, diperkuat oleh bagain kedua. Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang mengatasi langit dan lautan serta menimbulkan ketakutan terhadap bangsa-bangsa. Penggambaran dalam ayat 9a saya kira sengaja dituliskan untuk menunjukkan bahwa Allah telah siap “berperang” melawan musuh-musuh umat-Nya. Ini juga lekat dengan penggambaran YHWH oleh bangsa Israel yang seringkali diindentikkan dengan dewa perang.

Bagian ketiga juga berusaha mengingatkan bangsa Israel akan kedahsyatan kekuatan Allah yang berkuasa atas alam (Sungai, Gunung, Air, Matahari). Kedahsyatan ini kemudian diarahkan untuk menghukum musuh-musuh dan menyelamatkan orang yang diurapi Tuhan (Hab 3:13). Allah kembali lagi digambarkan sebagai penghukum bangsa-bangsa yang lalim meskipun bangsa tersebut digunakan Allah sebagai alatnya.

Bagian keempat, mirip seperti konklusi dan penutup. Menyadari akan kedahsyatan dan besarnya kuasa serta kasih Tuhan, membuat Habakuk yakin dan takjub akan janji Tuhan (Hab 3:16a). Ketakjuban inilah yang mendorong untuk tetap setia dan taat menunggu pemenuhan janji Allah meskipun ia berada dalam kondisi terpuruk (3:16b-17). Kondisi terpuruk ini kemudian tidak ia jadikan alasan untuk meninggalkan Tuhan melainkan ia memilih tetap setia dan bersukacita menanti janji Tuhan (3:18-19).

Catatan kaki:

[1] Blommendaal, J (diterjemahkan oleh: Naipospos, P.S)., Pengantar kepada Perjanjian Lama. (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967). Hlm 107

[2] Bergant, Dianne dan Karris, Robert J (diterjemahkan oleh: Hadiwiyata, A. S)., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. (Yogyakarta: Kanisius, 2002). Hlm 689

[3] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333.

[4] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333

[5] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 105

[6] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 111

Penulis: Qohelet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.