Menyadari kematian, membuka diri terhadap yang lain, dalam realitas acak yang membingungkan: pandangan teologi berdasarkan pembacaan Pengkhotbah 9:1-12

Pendahuluan: gambaran umum

Dalam agama Israel kuno, terdapat tiga kelompok yang memiliki pandangan-pandangan terhadap hukum Taurat yaitu Imam (penjaga Taurat), Nabi (pelaksana Taurat) dan tradisi hikmat (penafsir taurat). ketiga ini tradisi ini saling berkait kelindan dalam alkitab (bersama dengan golongan apokaliptik yang terkemudian). Pengaruh golongan hikmat sendiri mulai terasa sejak zaman para raja dimana saat itu golongan hikmat dijadikan penasihat disamping golongan imam yang memimpin upacara ritus dan golongan nabi yang melakukan reformasi terhadap masyarakat israel dengan membawa visi profetik dari Tuhan.

Wim Van Der Weiden melihat kemungkinan bahwa Salomo-lah yang memulai tradisi hikmat dan hikmat dengan “mengimpor” tradisi intelektual Mesir yang waktu itu adalah sekutu Israel dan mendirikan sekolah kepegawaian yang mirip dengannya. Tradisi ini kemudian terus-menerus berkembang karena posisinya yang dekat dengan kalangan bangsawan. Tradisi ini jugalah yang mengalami alkuturasi paling banyak dengan budaya dari negeri-negeri sekitar ABDk (Asia Barat Daya kuno) karenanya sifatnya yang lebih inklusif dibanding 2 golongan lain. Pasca pembuangan dan kembalinya bangsa Israel ke tanah Palestina, tradisi hikmat juga mengalami perkembangan sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai keyahudian dalam menghadapi banyaknya pemikiran lain dari luar Israel. Inilah konteks sosial historis yang dihadapi oleh penulis tradisi-tradisi terkemudian, termasuk penulis (dan editor) kitab pengkhotbah.

Titik tolak: Pandangan Barth tentang golongan hikmat

Dari antara tiga golongan ini, golongan hikmat lah yang muncul kemudian sebagai penyeimbang dari kekuatan dua golongan lain. Barth sendiri melihat bahwa golongan hikmat berusaha mengkritisi teologi-teologi yang mengklaim diri sebagai kebenaran mutlak. Barth juga melihat bahwa ajaran-ajaran yang dibawa oleh golongan Hikmat lebih berpatokan dari pengalaman dan realita kehidupan yang dihadapi masyarakat Israel waktu itu. Golongan-golongan tumbuh pesat di Yerusalem yang waktu itu menjadi pusat ekonomi, pendidikan dan keagamaan.

Hikmat sendiri awalnya diajarkan oleh orangtua kepada anaknya sebagai upaya pembentukan karakter. Hikmat dipandang sebagai upaya yang perlu dilakukan manusia untuk dapat melihat dunia secara lebih luas, untuk kemudian memahaminya dalam terang Firman Tuhan. Yang menarik dari golongan ini menurut Barth juga adalah pandangannya terhadap kekuasaan, yang dalam hal ini adalah raja. Raja tidak selalu disetujui pandangan, namun kehadiran seorang raja tetaplah dihargai sebagai penguasa. Pengajaran yang disampaikan golongan hikmat juga tidaklah didasarkan atau mengutip langsung wahyu Allah dalam bagain lain kitab taurat, namun lebih kepada pengalaman kehidupan.

Kritik terhadap Barth

Barth perlu diakui dan diapresiasi usahanya dalam mendefinisikan apa pola teologi yang dibawa oleh kaum Hikmat dan pengaruhnya dalam agama Israel Kuno. Sayangnya, penjelasan Barth pada golongan ini masih kurang mendalam bila dibandingkan dengan penjelasan Barth tentang pola berteologi kedua golongan lain. Selain itu, Barth saya lihat belum menangkap bahwa ada perbedaan-perbedaan konsep teologi para hikmat, terutama dalam menafsir hukum taurat.

Kemudian, saya juga melihat pertentangan dalam gaya berteologi antara golongan imam dan nabi dengan golongan hikmat masih belum diekspos oleh Barth dengan baik. Padahal, jika pertetangan ini diperlihatkan lebih detail lagi, maka pembacaan dan perbandingan antara teks-teks tradisi imam, nabi dan golongan hikmat akan lebih kontekstual. Hal itu dapat terjadi karena jika pertentangan telah lebih jelas dan tajam, proses berteologi untuk menghasilkan teologi-teologi tersebut dapat lebih terlihat, untuk kemudian diproses lagi, baik dalam bentuk dekonstruksi maupun di rekonstuksi untuk membentuk teologi baru.

Pengantar: latar belakang keseluruhan kitab pengkhotbah

Seperti lazimnya kitab-kitab lain dalam alkitab, kitab pengkhotbah juga memiliki masalah terkait pertanyaan siapakah yang mengarangnya. Tafsiran tradisional yang berangkat dari pengetahuan umum mengenai alkitab akan berpendapat bahwa kitab ini dikarang oleh Raja Salomo. Pendapat ini didukung oleh ayat 1 dan 12 dari pasal pertama dalam kitab ini yang berbunyi:

 דִּבְרֵי קֹהֶלֶת בֶּן-דָּוִד, מֶלֶךְ בִּירוּשָׁלִָם1 1

Transliterasi: divarey qohelet ben-dawid, melek birusyalam

TB-LAI: inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem

NKJV: The words of the Preacher, the son of David, king in Jerusalem.

EGS: Perkataan-perkataan Kohelet, anak Daud, Raja di Yerusalem.

Dari ayat tersebut, beberapa pembaca biasanya langsung mengasumsikan bahwa penulis kitab ini adalah anak Daud yang menjadi raja di Yerusalem yang tak lain adalah Salomo. Pendapat ini biasanya disertai penjelasan bahwa Salomo menuliskan kitab ini dalam usia tuanya pasca ia bertobat atas sikap menyembah berhalanya (1 Raj 11:1-43).

Namun melalui beberapa metode tafsir, ditemukan adanya ketidak-cocokan antara isi kitab ini dan pendapat bahwa Salomo-lah pengarang kitab ini. Emanuel Gerrith Singgih pun dalam bukunya menunjukkan beberapa alasan mengenai kemungkinan tersebut. Alasan yang menjadi sorotan saya adalah alasan gaya bahasa dan penulisan. Singgih melihat gaya bahasa dan penulisan kitab ini terkesan lebih “modern” dengan adanya serapan bahasa yang sekiranya belum ada di zaman Salomo. Kemudian, keunikan kitab ini yang sebagian besar mengkritik ajaran hikmat tidak sesuai dengan konteks historis Salomo yang mana tradisi hikmat belum cukup mapan untuk setidaknya dikritik. Saya melihat kedua alasan ini menjadikan penjelasan akan konteks sekitar penulisan kitab Pengkhotbah dan posisinya dalam golongan hikmat menjadi lebih jelas.

Berkaitan dengan konteks historis kitab Pengkhotbah, para penafsir seperti misalnya Singgih dan Van der Weiden melihat bahwa kitab ini ditulis pada sekitaran abad 3 SM yaitu ketika paham helenis mulai menyebar di wilayah ABDk, yang termasuk wilayah Imperium Yunani. Van der Weiden kemudian bertolak lebih jauh dengan melihat ideologi penulis yaitu usaha mengintegrasikan tradisi hikmat Yahudi dengan ajaran filsafat Yunani yang masuk ke Israel.

Seperti lazim ditemukan dalam metode kritik naratif, penulis suatu teks dalam alkitab tidaklah selalu sama dengan pengarang teks tersebut. Hal ini ditunjukkan lagi dalam ayat 1 pasal 1 yang terkesan seperti pengantar dan pembuka yang diberikan untuk memasuki suatu paparan dan ayat 9-13 pasal 12 yang terkesan seperti sebuah penutup dan tanggapan oleh orang yang berbeda dengan yang memberikan paparan di ayat-ayat sebelumnya. Atas dasar hal inilah maka saya berani berpendapat bahwa pengarang kitab Pengkhotbah tidaklah sama dengan orang yang mengumpulkan dan mengedit hingga sampai ke bentuk sekarang (lazim disebut editor).

Mengenai adanya kemungkinan bahwa penulis dan editor adalah orang yang berbeda, Singgih melihat indikasi bahwa telah ada perbedaan pandangan teologis yang bertumbukan kemudian mencapai bentuk final dalam kitab ini. Adapun pandangan teologis yang “diselipkan” editor kemungkinan ada dalam Pkh 12:1-7 &12-14 yang lebih bernuansa eskatologis dibandingkan dengan bagian lain. Hal ini dapat dilihat dari penekan yang ada dalam bagian ini yang lebih menekankan hukuman Tuhan atas mereka yang tidak mau taat akan perintah Tuhan dan malah menyibukkan diri mencari pengetahuan.

Salah satu yang menjadi ciri khas kitab Pengkhotbah adalah digunakannya pemikiran-pemikiran Yunani/Helenis dalam kerangka berteologinya. Adapun ajaran filsafat Yunani yang sangat jelas terasa pengaruhnya adalah ajaran untuk menikmati kehidupan. Kehidupan, bagi Pengkhotbah adalah sesuatu yang singkat, namun justru karena itulah kehidupan menjadi berharga. Ini tidak serta merta menjadikan Pengkhotbah adalah seorang yang menolak pemikiran Yudaisme. Malahan, ia mencoba menawarkan prespektif baru dalam melihat realita kehidupan dan bagaimana hal tersebut berkolerasi dengan kehadiran Allah dan kuasa-Nya. Singgih dalam buku Dunia yang Bermakna melihat bahwa dalam penulisan kitab Pengkhotbah, antitesa antara pemikiran Yudaisme yang dinamis dan pemikiran Helenis yang statis dipertemukan dan kemudian menghasilkan dialektika sifatnya kolaboratif. Helenisme yang masuk dan hadir bukannya ditentang mati-matian dan dianggap sebagai ajaran yang merusak keimanan namun dipakai untuk membaca pemikiran Yudaisme yang dalam beberapa titik menemukan celah dan kekosongan secara makna.

Intermezzo: menyoal sebutan “Pengkhotbah”

Kebanyakan penafsir, terutama yang bertolak dari prespektif historis kritis, melihat bahwa penggunaan kata “pengkhotbah” (bhs ingg: Preacher, bhs Jer: der Prediger) masih kurang tepat menangkap makna dari kata aslinya yaitu Qohelet (קֹהֶלֶת) dalam bahasa ibrani dan Ecclesiastes (Εκκλεσιαστες) dalam bahasa Yunani LXX. Saya melihat, penggunaan kata pengkhotbah dalam kebanyakan terjemahan alkitab tak lain adalah upaya mempermudah pembaca awam yang konteksnya lebih banyak ada dalam lingkup Gereja. Tentulah dengan persona yang dibangun ketika membaca Kitab ini akan menggiring jemaat pada imaji seorang “pengkhotbah” yang menyampaikan hasil tafsirannya.

Namun, saya setuju dengan pendapat kebanyakan penafsir untuk tidak puas pada pemutlakan kata pengkhotbah sebagai terjemahan dari kata qohelet/ecclesiastes. Saya juga bahwa pemutlakkan terjemahan ini hanya mereduksi makna yang ingin dibawa oleh Kitab ini. Untuk itu, saya akan coba me-dekontruksinya untuk kemudian dicari kata yang lebih pas.

Derek Kidner dan Robert Davidson sebagaimana dituliskan Singgih cenderung memilih kata “the professor” sebagai kelanjutan dari kata “Philosopher” pilihan terjemahan GNB (terjemahan inggris modern) untuk memberikan kesan netral. Singgih sendiri mengikuti terjemahan bahasa jawa yang hanya mentransliterasikan kata tersebut ke dalam bahasa jawa “kohelet” agar tidak mengalami reduksi makna. Saya sendiri, berdasarkan pemaparan yang telah dilakukan EGS akan makna dari dasar katanya yaitu qahal atau ecclesia yang berarti umat/perkumpulan, lebih memilih padanan kata “pentolan/pemuka”. Kata ini saya lihat menjadi dapat menangkap makna qohelet/ecclesiates yang sangat bergantung pada kata qahal/ecclesia. Sang “pengkhotbah” tak lain adalah pemuka/pentolan dari satu perkumpulan hikmat di Yerusalem yang berusaha memberi pendapatnya akan realita kehidupan dengan menggunakan dialektika akan dua pemikiran yang kuat di konteksnya, yaitu helenisme dan yudaisme.

(salah satu) Teologi  kitab Pengkhotbah

Dalam rangka mengelaborasi sekaligus mengembangkan apa yang telah dilakukan Barth, maka saya akan memperdalam penelaahan atas teologi yang ada dalam teks hasil produksi golongan hikmat. Adapun teks yang saya ambil adalah teks Pengkhotbah 9:1-12. Singgih melihat frasa “tangan Allah” menunjukkan bahwa ketersembunyian dari pengetahuan manusia. Bagi Pengkhotbah, kehidupan adalah sebuah misteri acak yang membingungkan dan kompleks, sehingga akal manusia tidak dapat memahami sepenuhnya (9:1).

Pengkhotbah kemudian juga menyatakan bahwa semua orang akan merasakan hal yang sama: kematian. Tak peduli apa pekerjaannya, secerdas apa dirinya, sesaleh apapun dirinya, semua orang akan mati. Kematian dilihat pengkhotbah sebagai sebuah kepastian bagi semua mahluk yang hidup (9:2). Namun, kehidupan masih dipandang Pengkhotbah lebih baik karena memiliki harapan (9:4), tetapi tidak dijelaskan harapan apa yang dimaksud Pengkhotbah. Pandangan Pengkhotbah mengenai kehidupan yang berpengharapan ini saya lihat dilakukan Pengkhotbah untuk memberi semangat kepada mereka yang masih ada, untuk kemudian diteruskan dan dimaknai selagi waktunya masih ada.

Pendapat ini saya lihat menggema dalam ayat-ayat berikutnya. Di ayat 7-10, Pengkhotbah mengajak pembacanya untuk menikmati hidup. Namun, bukan hanya kenikmatan seperti pesat pora saja yang Pengkhotbah anjurkan untuk nikmati, namun juga segala pekerjaan yang diberikan kepada manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan mengerjakan sesuatu dengan sekuat tenaga, sebelum kematian tiba.

Pengkhotbah kemudian mendapati hal lain dalam realita: sifat acak. Pengkhotbah melihat bahwa meskipun manusia telah melakukan sesuatu dalam hidupnya, itu tidak serta merta menjadikan dirinya mendapat apa yang (menurut manusia) pantas ia dapatkan. Dalam realita, Pengkhotbah melihat bahwa tak selalu kebaikan diganjar hadiah, pun juga kejahatan diganjar hukuman. Ini menuntun Pengkhotbah pada satu kesimpulan: Manusia “terperangkap” dalam misteri waktu layaknya hewan-hewan terperangkap dalam jerat (9:11-12). Manusia dalam segala usahanya tak dapat memungkiri kenyataan bahwa ada kematian yang menantinya.

Konteks Indonesia post-modern: pemetaan

Jika melihat dalam konteks Indonesia, sangat jelas bahwa masih terjadi stagnansi dalam kehidupan beragama dan spiritual. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pola beragama di Indonesia yang masih berpatokan pada dogma secara kaku, terutama dalam hal menafsir teks suci. Saya juga melihat bahwa hal ini sedikit banyak terjadi karena kaum agamawan maupun orang awam kebanyakan meniru (baik sadar maupun tidak sadar) pandangan Barth terhadap teologi-teologi Perjanjian Lama. Peniruan ini saya lihat membawa dampak negatif, terutama pada teologi-teologi tertentu yang cenderung eksklusif dan menegasikan keberadaan mereka yang berbeda.

Contoh dari teologi-teologi tersebut misalnya saja teologi umat pilihan ataupun teologi “Tuhan yang membalas”. Teologi-teologi ini saya lihat berusaha meninggikan posisi umat kristen sebagai umat pilihan dan melupakan hakikat panggilan kristiani yaitu dipilih untuk melayani. Pun juga dengan teologi “Tuhan yang membalas”. Teologi ini saya lihat sangat jelas dalam konteks Indonesia ketika menghadapi bencana. Warga yang terdampak oleh bencana tersebut akan dipandang sebagai “yang dikutuk” oleh Tuhan ataupun menerima hukuman atas dosa-dosanya. Hal ini juga kemudian mendorong kelompok-kelompok tertentu untuk menyalahkan warga yang terdampak, alih-alih membantunya. Padahal secara realita, belum tentulah bencana  tersebut adalah cara Tuhan menghukum dan belum tentulah warga yang terkena bencana telah melakukan dosa sehingga layak dihakimi.

Saya juga menemukan bahwa kebanyakan penafsir dan pengkhotbah biasanya melihat teks kitab Pengkhotbah dalam kacamata PB atau dogma kristiani sehingga pandangannya akan realita kehidupan malah digeserkan menjadi kepatuhan mutlak akan hukum dan aturan (alih-alih ketaatan pada Tuhan). Hal yang miris jika kita melihat judul dari kitab ini dalam bahasa Indonesia yaitu pengkhotbah. Ini juga saya lihat mirip dengan sikap editor kitab Pengkhotbah yang menggeser pandangan teologis pengkhotbah akan realita kehidupan yang rumit menjadi lebih mudah asalkan tetap berpegang pada hukum-hukum Tuhan dalam penafsiran Taurat dan doktrin Yudaisme, yang nyatanya masih kurang menangkap realita kehidupan secara utuh.

Secara konteks-historis, dapat juga dilihat bahwa kitab pengkhotbah sendiri menggunakan alat-alat dan pedoman-pedoman filsafat Yunani yang mulai masuk waktu itu sebagaimana telah disebutkan di atas (tahun 400 SM). Pandangan filsafat ini menekankan pada pemikiran (rasio) dan pengalaman (indrawi) dalam menafsirkan realitas. Ini kiranya cocok dengan pola utama postmodernisme dimana dalam usaha mencari makna, subjektivitas individu dipandang sebagai salah satu penentu bahkan menjadi penentu final.

Kesimpulan: sebuah jalan dan cara berteologi yang berbeda

Dalam pemaparan telah jelas bahwa dalam satu teologi saja, Kitab Pengkhotbah sudah memiliki perbedaan yang signifikan dengan teologi-teologi mainstream dalam PL, yang otomatis menjadikan pemikiran berbeda lain dengan tradisi ortodoks Yudaisme. Namun sebagaimana telah dipaparkan, kitab ini sendiri telah mengalami peyuntinggan yang memperlihatkan adanya pertentangan pandangan teologis didalamnya. Pertentangan ini saya lihat bukanlah sebagai sesuatu yang harus ditemukan titik temunya untuk kemudian dipadatkan sebagai dogma yang kaku, melainkan sebuah dialektika yang harus terus menerus digumuli dalam setiap konteks. Apalagi, dalam ranah postmodern, subyektifitas adalah sesuatu yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Sehingga saya berpikir pembacaan atas suatu teologi tertentu dapat dengan sangat mudah mendapat hasil yang berbeda tergantung subyeknya.

Mengenai kematian, Pengkhotbah mengajak kita untuk berusaha sepanjang hidup untuk memberi makna akan kehidupan, karena telah jelas bahwa makna dari kehidupan kita tidak diberikan secara ontologis namun tetap kita beri sebagai subjek yang menghidupinya. Kematian juga tak perlu dilihat sebagai suatu kemengerian yang harus dihindari, melainkan suatu kepastian yang malah menambayh keindahan kehidupan dengan memberinya batas. Dan dengan ditunjukkan oelh Pengkhotbah bahwa kehidupan adalah realitas acak, kita diajak untuk berani mengambil pilihan dan mengkajinya, sembari tetap menghargai pilihan orang lain akan kehidupannya.

Mengenai konteks yang mempengaruhi subyek dan keterbalikkannya, kiranya baik juga untuk memperhatikan konteks kitab Pengkhotbah. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, Pengkhotbah menuliskan pandangannya dengan menggabungkan pandangan Yudaisme dan Helenis yang saling mempengaruhi pola pikir dan berteologi masyarakat Israel. Menariknya, konteks yang mengelilingi tidak serta ia tolak melainkan ia olah bersama-sama untuk menghasilkan pemikiran, yang meskipun berbeda, nyatanya memberi sumbangsih dalam upaya memahami realitas kehidupan dan kenyataan akan hadirnya Allah. Ini dapat menjadi refleksi bagi diri kita untuk tidak langsung menolak dan bersikap anti-pati terhadap suatu pemikiran yang berbeda dengan kita. Pemikiran tersebut ternyata bisa juga diolah, dipelajari, dikritisi bahkan digunakan utnuk menghasilkan pemikiran teologis baru.

Daftar pustaka

Barth, Christoph, dan Marie-Claire Barth-Frommel. Teologi Perjanjian Lama 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

Der Weiden, Wim Van. Seni Hidup: Sastra Kebijaksanaan Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Singgih, Emanuel Gerrith. Hidup di bawah bayang-bayang maut: Sebuah tafsir kitab Pengkhotbah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

———. “Sebuah Kapak Buat Laut yang Beku: Kitab Kohelet dan para Pembacanya: Tafsiran Pengkhotbah 12:9-14.” Dalam Dunia Yang Bermakna: Kumpulan Karangan Tafsir Perjanjian Lama, 1 ed. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019.

penulis: Qohelet


Tak Berkategori