Malaikat dan orang-orang Majus dari Timur.

Ilustrasi by: Timothy Aditya Riyoza

Matius 2:1-12
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Ketika Natal telah tiba, pembicaraan mengenai kelahiran Yesus dengan berbagai pengajaran selalu dibicarakan di Gereja-gereja, guna untuk mengingatkan semua orang bahwa pernah lahir Mesias di dunia ini.
Pada tulisan saya yang ini, saya ingin membahas, sesuatu yang tabu. Bahkan mungkin yang jarang kita ketahui dan dengar di Gereja saat Natal. Yaitu kehadiran sosok Malaikat dengan orang-orang Majus.

Menjelang akhir Oktober kemarin 2018(saya lupa tanggalnya) Tuhan berbicara kepada saya di sore hari, dengan sedikit kalimat seperti: siapakah orang-orang Majus ini?

Dengan perkataan yang seperti itu, saya berusaha mencari tau secara teliti siapa orang-orang Majus ini melalui Alkitab dan berbagai sumber di Internet. Tidak banyak sumber di Alkitab mengenai orang-orang Majus ini, tapi puji Tuhan, Hikmat membuka pikiran saya tentang peristiwa ini untuk menuliskannya.

Cobak mari kita berpikir sejenak mengenai ini. Apa kalian pernah bertanya-tanya, siapa orang Majus ini? Mengapa mereka bisa datang ke Israel hanya untuk bertemu bayi Yesus? Siapa yang memberitahu orang-orang ini? Atau pertanyaan-tanyaan lain yang mungkin kalian sedang pikirkan?
Dan inilah yang ingin saya beritahukan kepada kalian yang ingin mengetahuinya melalui tulisan saya yang sederhana ini.

Pertama-tama kita perlu mengetahui terlebih dulu latar belakang orang-orang Majus ini.

Kata Majus adalah sebutan bagi para pengikut Agama Zoroaster. Yang diajarkan lewat seorang Nabi orang Persia bernama Zarathustra pada abad ke 6SM(mundur 600 tahun sebelum kelahiran Yesus)
Mereka juga menyembah Dewa yang bernama Ahura-Mazda, dalam bahasa Indonesia artinya Dewa yang bijaksana.

Inilah yang menjadi pertanyaan besar yang jarang dibicarakan di Gereja ketika hari Natal.
SADARKAH ORANG-ORANG MAJUS INI? Sehingga mereka datang jauh-jauh untuk menyembah dan memberikan harta benda mereka kepada bayi Yesus? Apa yang menyebabkan mereka semua melakukan itu ?

Namun sebelum saya menjelaskan secara mendetail lagi, perlu diketahui lagi terlebih dulu. Bahwa orang-orang Majus ini datang dan menyembah Yesus hanya sebagai Raja orang Yahudi, tidak lebih. Itulah yang tertulis dalam: Matius 2:2
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, RAJA ORANG YAHUDI yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.

Lalu apa yang menyebabkan orang-orang Majus ini melakukan semua ini?

Jawabannya yaitu Malaikat Tuhan. Lalu dimana kata Malaikat di satu Perikob tersebut ? Sepertinya tidak disebutkan kata Malaikat?

Kata BINTANG yang tertulis dalam Matius 2:2,7,9,10 dan 12. Adalah Malaikat Tuhan yang Tuhan utus untuk memberitahukan orang-orang Majus ini, mengenai kelahiran Yesus di bumi.
Saya tidak berspekulasi, Beropini atau Berasumsi sendiri tentang hal ini. Di dalam Alkitab, penyebutan Malaikat terkadang ditulis kata BINTANG, tapi itu hanya sebagian kecil saja dari semua kata BINTANG yang tertulis di dalam Alkitab. Dan Tidak semua BINTANG adalah Malaikat.

Sebagai dasar pembuktiannya, saya akan memberikan Tiga ayat di dalam Alkitab, mengenai Bintang adalah Malaikat, dan Tiga alasan yang secara Logis bahwa hal itu Benar Malaikat.

Pertama: Yesaya 14:12
“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai BINTANG Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Kedua: Daniel 8:10
Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari BINTANG-BINTANG, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.

Ketiga: Wahyu 1:20
Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh BINTANG ITU IALAH MALAIKAT ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”

Apakah ini sudah cukup jelas? Jika yang tertulis dalam Yesaya adalah Bintang biasa, bisakah Bintang mengalahkan bangsa-bangsa ? Jika Bintang yang tertulis dalam Daniel adalah Bintang biasa, mungkinkah Bintang tersebut mempunyai Bala Tentara ? Dan di dalam Wahyu menulisnya, Ketujuh Bintang itu ialah Malaikat.

Jika bukti ayat-ayat itu kurang cukup, maka saya akan memberikan bukti lain secara Logis, supaya mudah dipahami lebih lagi.

Pertama: jika itu bukan Malaikat, maka tidak bisa memberikan informasi yang jelas secara rinci, mengenai kelahiran bayi kepada orang Majus ini:
Matius 2:2
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Perhatikan apa yang dikatakan orang Majus ini, mereka mengetahui kelahiran seorang Bayi sebagai Raja.
Apakah mungkin Bintang biasa bisa memberikan informasi lengkap seperti itu ?
Seorang Astronom memang bisa meramalkan kapan Gerhana terjadi, meteor jatuh ke bumi, melalui perhitungan Matematika yang tepat. Tapi untuk kelahirang seorang anak, apakah seorang Astronom bisa meramalkan kejadiannya secara rinci, lengkap dengan status bayi tersebut? Mustahil bukan.Kedua: bukti kedua adalah Jarak. Jarak bumi dan Bintang itu sangat jauh sekali, banyak variasi mengenai jarak dari bumi ke Bintang. Entah Ratusan juta atau Miliayaran tahun cahaya, saya tidak tau. Yang pasti sangaaaat jauh sekali.
Mungkinkah jarak yang begitu sangat jauh sekali, menuntun orang-orang Majus dari Timur(Persia) ke Yerusalem, sampai ke tempat dimana Yesus itu lahirkan?: Matius 2:1,9: Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem.9: Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Ketiga: Bintang biasa tidak bisa memberikan Sukacita: Matius2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

Ketiga penjelasan secara Logis dan ketiga ayat tersebut, saya rasa sudah cukup untuk membuktikan bahwa Bintang yang dimaksud tersebut adalah sosok Malaikat.

Setelah saya membahas latar belakang dan apa yang menyebabkan orang-orang Majus ini datang dan rela melakukan semua ini, maka saya akan mengajak kalian masuk lebih dalam lagi. Yaitu, apakah makna dan penjelasan dari semua Kajadian ini?

Tuhan pasti mempunyai maksud mengutus Malaikat-Nya kepada orang-orang Majus ini.
Karena tidak mungkin orang yang beda Negara, Agama dan Budaya. Rela dan mau datang jauh-jauh, hanya untuk melakukan semua ini.

Ada dua hal lagi, yang sangat perlu diketahui, dari kedatangan orang-orang Majus ini. Yaitu?

Penjelasan Pertama: menjadi saksi sejarah kelahiran Yesus di Dunia: 2 Korintus 13:1
Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.

Dengan pembuktian diluar orang-orang Israel, maka sejarah ini sangat Valid buktinya.
Banyak penafsir yang mengatakan, kalau jumlah orang-orang Majus ini Tiga, karena bukti persembahan yang mereka berikan kepada Yesus, yaitu Emas, Kemenyan dan Mur.
Ada yang mengatakan jumlah orang Majus itu 4 atau bahkan 40 orang Majus.
Saya tidak mempermasalahkan jumlahnya berapa, yang jelas atas kesaksian 2 atau 3 orang maka sejarah ini benar adanya, dan kelahiran Yesus ini disaksian oleh orang diluar Israel.

Kedua: kelahiran Yesus di dunia ini, atau yang dikenal sebagai hari Natal. Tidak hanya menjadi Sukacita bagi orang-orang Israel/Kristen semata. Melainkan orang yang jauh diluar kita yang sama sekali tidak mengetahui hal ini harus menjadi Sukacita bagi mereka semua. Inilah yang Tuhan mau dan makna terdalam dari Matius 2:1-12 ini.

Hari Natal harus menjadi Sukacita bagi semua orang, itulah arti kedatangan orang-orang Majus ini.
Apakah Gerejamu memikirkan ini? Banyak sekali Gereja-Gereja diluar sana. Baik itu Gereja besar atau Kecil. Mereka mengundang siapa saja untuk datang pada hari Natal, namun menekankan sebuah HADIAH MELALUI UNDIAN.
Bukankah ini sangat MEMALUKAN ? Apakah dengan cara ini, orang tersebut pulang dan mengingat Hadiahnya, ketimbang Yesus?
Tidak salah berbagi di hari Natal, kalau bisa lakukan aksi Sosial, keluar dari Gereja. Berikan sesuatu, yang sepantasnya apa yang pantas untuk diberikan kepada mereka.
Ingatlah, bahwa orang-orang Majus ini keluar dari tempat tinggalnya(Persia) datang ke Betlehem dan memberikan sesuatu kepada Bayi Yesus.

Maka kelahiran Yesus begitu sangat mendalam dan berarti bagi umat Manusia. Tidak peduli kaya atau miskin, jauh atau dekat, Ia tetap memberitakan Sukacitanya kepada siapa saja yang Ia Kehendaki’Nya. Namun ingat, meski saya mengatakan bahwa kelahiran Yesus menjadi Sukacita bagi banyak orang, tapi tidak bagi Raja Herodes, Imam Kepala dan Ahli Taurat. Yang sebagai simbol keangkuhan hidup keagamaan mereka dan status sosialnya sebagai raja.

Sekiranya damai dan sukacita turun atas kita semua.

Penulis: Gabriel R

BalasTeruskan
Tak Berkategori

ULASAN KHOTBAH THE SOUND OF PENTECOST

St. Seraphim of Sarov
Sumber Gambar: http://damascenegallery.com/

Dari perkataan Pdt. Pieter Faraknimella, yang saya tangkap adalah bahwa persentase kekristenan di Amerika turun 12%, namun hanya satu aliran yang tetap bertahan, yaitu Karismatik. Beliau juga berkata bahwa hanya gereja yang mengandalkan Roh Kudus yang akan bertahan, yang berarti hanya gereja karismatik yang mengandalkan Roh Kudus. Gereja-gereja tradisi berarti tidak mengandalkan Roh Kudus karena persentasenya menurun. Saya tidak setuju, karena pada denominasi lain juga mengakui Roh Kudus dan peranannya.

Contohnya adalah perkataan Santo Serafim dari Sarov : “It is the classical teaching of the Orthodox Church, made popular in recent times by Saint Seraphim of Sarov (19th c.), that the very essence of Christian spiritual life, the very essence of life itself, is the acquisition of the Holy Spirit of God. Without the Holy Spirit, there is no true life for man. In spite of our sinfulness, in spite of the darkness surrounding our souls, the Grace of the Holy Spirit, conferred by baptism in the name of the Father and the Son and the Holy Spirit, still shines in our hearts with the inextinguishable light of Christ . . . and when the sinner turns to the way of repentance the light smooths away every trace of the sins committed, clothing the former sinner in the garments of incorruption, spun of the Grace of the Holy Spirit. It is this acquisition of the Holy Spirit about which I have been speaking . . . (Saint Seraphim of Sarov, Conversation with Motovilov). https://www.oca.org/orthodoxy/the-orthodox-faith/spirituality/orthodox-spirituality/the-holy-spirit

Penulis: Devon Josiah

Tak Berkategori

INKARNASI, ALLAH ADALAH KASIH

Father, Son, and Holy Spirit karya Munir Alawi
Sumber Gambar: http://www.fineartamerica.com

Saya dulu pernah berpikir, mengapa Allah kita itu kok mau-maunya jadi manusia? Kok Allah kita itu mau menyatakan diriNya didalam Yesus Kristus. Ada agama yang membangga-banggakan allahnya karena ia menganggap bahwa allah mereka yang tidak pernah kelihatan itu jauh lebih kudus daripada Allah kita. Saya sempat terguncang dengan berbagai pertanyaan dan tudingan dari oknum agama tertentu dan jujur saja sempat mempertanyakan iman saya. Dan juga karena Allah mau turun ke dunia, hal ini lantas menjadi olok-olokan oknum agama tertentu dengan mengatakan bahwa Tuhan kita kok dibunuh ciptaanNya? Mengapa Allah orang Kristen itu mau menampakkan diriNya dan mau dengan repotnya datang ke dunia?

Jawabannya adalah DOSA (Yohanes 8:34, Roma 3:23). Namun mereka yang tetap berkeras hati tetap mengajukan pertanyaan yang menyerang. Mereka beranggapan bahwa jika Allah orang Kristen mau mengampuni dosa umatNya kenapa tidak langsung diampuni saja? Mengapa Allah orang Kristen malah repot-repotnya untuk datang ke dunia, menjadi manusia lemah?

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:1-25), hubungan antara manusia dengan Allah cenderung merenggang, tidak intim seperti sebelum kejatuhan manusia dalam dosa. Dosa yang dilakukan manusia membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dosa juga telah membentuk suatu jurang pemisah antara manusia dan Allah  (Yesaya 59:2) sehingga manusia yang berdosa tidak mampu menjangkau Allah, karena Ia kudus (Yesaya 6:3, 1 Petrus 1:16) Allah memberikan hukuman kepada manusia atas dosa yang diperbuat (Yehezkiel 18:30, Mazmur 62:12-13, Yohanes 5:29, Wahyu 22:12), dosa telah mengikat manusia dan sukar untuk terlepas dari kencenderungan berbuat dosa (Matius 26:41). Setiap saat manusia selalu berbuat dosa baik kecil maupun besar. Allah kita adalah Allah yang maha adil (Mazmur 11:7, Mazmur 116:5, Yesaya 30:18, Yeremia 12:1), sudah layak dan sepantasnya kita mendapatkan hukuman atas dosa yang kita perbuat dan hukuman yang setimpal adalah kebinasaan yang kekal (Roma 6:23). Namun di balik sifat Allah yang Maha adil dan Maha berdaulat itu adapula sifat Allah yang paling utama adalah KASIH (Mazmur 86:15, Roma 5:8, Efesus 2:4-5, 1 Yohanes 3:1, 1 Yohanes 4:10,16) dan bukan sembarangan kasih, bukan kasih eros, fileo ataupun storge, tetapi kasih Agape, kasih sejati yang tidak mengenal perhitungan dan tidak mementingkan diri sendiri serta rela berkorban (Yohanes 15:13). Namun bukankah akan menjadi hal yang bertentangan, antara menyelamatkan manusia berdosa dengan keadilan Allah untuk menghukum manusia?

Untuk itulah Allah mengosongkan diriNya dan menjadi rupa insan (Yohanes 1:14). Ia yang adalah KASIH yang AGAPE itu telah menjadikan diriNya sebagai korban tebusan (Roma 3:25, Yohanes 10:17, Efesus 1:7, Ibrani 7:27)  yang terbaik (1 Petrus 1:18-19) agar manusia yang percaya padaNya diselamatkan (Yohanes 3:16) serta tidak akan dipermalukan (Roma 10:11, 1 Petrus 2:6). Hal ini terjadi supaya keadilan serta kasih daripada Allah itu tidak saling bertentangan.

Allah harus langsung turun tangan untuk menyelamatkan manusia karena manusia yang berdosa adalah sukar untuk menggapai dan memandang Allah yang Kudus itu (Keluaran 33:20) maka dari itu Ia harus turun  dan berinkarnasi menjadi manusia fana seperti kita (Yohanes 1:14, 1 Timotius 3:16, 1 Yohanes 4:2). Dan hanya Ia yang mampu dan layak menyelamatkan kita dari jeratan dosa dan mengantar kita pada Bapa, sebab Ialah yang satu-satunya tak bernoda dan berdosa (Yohanes 14:6, 2 Korintus 5:21).

Meskipun Ia dilahirkan dalam rupa insan, Ia sungguh Allah (Yohanes 1:1, Yohanes 8:58, Yohanes 13:13, Yohanes 20:28, Roma 9:5, Kolose 2:9), bukan setengah Allah bukan setengah manusia tetapi Ia juga sungguh adalah manusia yang utuh seperti kita juga (Matius 4:2, Roma 5:15, 1Timotius 2:5). Ia menunjukkan diriNya sebagai Mesias (Matius 16:16-17, Markus 8:29) dan Jalan Kehidupan (Yohanes 14:6, Yohanes 11:25-26) serta adalah Allah itu sendiri (Yohanes 10:30, Yohanes 8:58) Namun bangsa yang dipilihNya (Keluaran 19:5-6, Ulangan 14:2) justru menolak  diriNya (Yohanes 1:10-11) serta bersepakat untuk menangkap (Matius 26:4, Markus 14:1, Yohanes 18:12) , mengadili (Matius 27:27, Yohanes 18:33) dan menyalibkan Dia (Matius 27:35, Markus 15:24, Lukas 23:33, Yohanes 19:23). Peristiwa penyaliban Yesus ini menjadi suatu momentum dimana Allah yang adil, berdaulat itu mau menunjukkan kasihNya yang Maha Dahsyat (Yohanes 3:16) kepada kita melalui pengorbanan Yesus dan oleh darahNya yang Kudus, dosa kita turut disucikan (1 Yohanes 1:7). Melalui pengorbananNya juga kita yang percaya kepada Kristus beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16, Roma 10:9). Kasih yang dahsyat melalui kematian Yesus dan kebangkitan Yesus, membuat hidup kita telah beroleh pengampunan (Efesus 1:7, Kolose 1:14) sehingga kita layak menjadi anak-anak Allah oleh sebab Yesus Kristus (Galatia 3:26-27, Galatia 4:7) Kita patut bersyukur karena memiliki Allah yang Adil dan juga adalah Allah yang KASIH sebab keselamatan yang daripada Allah bukan hasil usaha kita dan perbuatan baik kita tetapi anugerah semata/ Sola Gratia (Efesus 2:8)

Penulis: Elisa Hendriko Hutabarat (San Gorge Wilayah Kalimantan. Jemaat HKBP Teluk Mulus Ress. Pontianak)

Tak Berkategori

MENGAPA ADA LUKISAN FILSUF YUNANI KUNO DI GUNUNG ATHOS?

Jika kamu penganut Ortodoks Timur maka kamu tidak akan asing dengan Gunung Athos. Ya, gunung yang di atasnya berdiri 20 biara tempat para monachos atau biarawan khusus pria ini terkenal karena begitu ketatnya aturan masuk di sana terutama avaton atau larangan masuk untuk wanita sampai-sampai binatang-binatang besar yang berkelamin betina seperti ayam, sapi, domba, kambing, kuda dan babi pun tidak boleh ada di sana.

Gunung Athos, menurut tradisi dimulai sebagai pusat kebiaraan Kristen sejak Bunda Maria ibu Yesus terdampar di semenanjung itu bersama Rasul Yohanes Penginjil. Karena begitu terpukau dengan keindahan panorama semenanjung itu maka Bunda Maria memohon kepada Anaknya agar semenanjung itu menjadi tamannya dan permintaan itu makbul oleh Kristus sendiri lewat suara dari surga. Sejak itu, gunung ini menjadi suaka bagi yang ingin mengakses keselamatan yang telah dianugerahkan Allah dengan berkarya dalam kebiaraan.
Menariknya, meskipun memiliki nuansa agamis yang kentara, dapat ditemukan mural-mural di sekitar biara yang berbau sekuler. Beberapa mural seperti peristiwa Alexander Agung dan para filsuf seperti Solon, Sybil, Sokrates, Plutarkhos, Homer, Theucydides, Plato dan Aristoteles. Mural-mural ini berada di biara seperti Meteora, Hagia Lavra dan Vatopedi).

Lukisan para Filsuf Yunani Kuno (pra Kristen) di salah satu Biara di Gunung Athos

Pertanyaanya adalah, “mengapa mural-mural sekuler ini bisa ada di tempat yang sakral seperti ini?” Well, jawabannya adalah karena selama periode Ottoman, biara adalah tempat untuk menimba ilmu berhubung sekolah-sekolah berbasis keagamaan dilarang di masa pemerintahan Turki. Akibatnya, biara bukan hanya sebagai tempat menimba spiritualitas tetapi juga pengetahuan yang sifatnya kognitif dan fresko atau mural ini digambar sebagai ilustrasi untuk mempermudah para pelajar yang menimba ilmu di sana. Lalu apa makna mural-mural ini dan apakah tidak bertentangan dengan kehidupan religius biara? Untuk menjawabnya kita perlu tahu apa bagaimana Gereja dalam memandang kehidupan non-religius.
Pertama, mengutip Janasuci Maximos sang Pengaku Iman yang pernah berkata, “tidak ada kejahatan di dalam segala sesuatu, yang jahat hanya ada di dalam penyalahgunaannya” Gereja sama sekali tidak menolak ilmu-ilmu sekuler yang satu bidang dengan para filsuf di mural tersebut. Tidak ada pertentangan antara jiwa-raga di mana yang ragawi harus kalah. Malah sebaliknya, yang ragawi bisa dipakai untuk memuliakan yang rohani dan sebaliknya, rohani memuliakan yang jasmani. Kasus-kasus di mana Gereja bersinergi dengan filsafat, sains, seni, ilmu sosial, dan lain-lain seperti ini sudah mulai marak sejak zaman Romawi-Yunani hingga dunia modern saat ini seperti uskup ROCOR Alm. Alexander Mileant (1938-2005) yang adalah pasca-sarjana teknik elektronika yang bekerja di laboratorium pengembangan propulsi pesawat jet NASA sekaligus penulis 300 pamflet penginjilan dalam 4 bahasa dan uskup Nicholas Hatzinikolaou (1954-) dari Gereja Yunani yang pernah menjadi peneliti kardiovaskular dan medis luar angkasa untuk NASA.

Kedua, para filsuf sendiri memang mengajarkan filosofi duniawi. Tapi, jika dipakai dengan benar akan mengantarkan kita pada kebenaran Kristus sehingga para filsuf ini berjasa dalam perkembangan teologi kekristenan karena karya-karya mereka dapat dipakai untuk memahami, menjabarkan dan membela pemahaman terhadap wahyu Tuhan. Karya-karya mereka berkontribusi untuk kemajuan umat manusia yang ujungnya adalah demi kebaikan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Namun sekali lagi, jika penggunaannya baik dan benar.
Oleh karena itu, adalah hoax jika iman membunuh akal budi, membinasakan kreativitas, dan memupuk fanatisme buta. Mari kita berdayakan akal budi, nurani, dan kehendak bebas kita agar bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan lewat kasih dengan sesama sesuai dengan talenta masing-masing supaya kelak ketika kita di hadapan tahta Anak Domba perbuatan kita bisa menjadi pertanggungjawaban yang baik. Tuhan memberkati.
Sumber:
• Data tentang Gunung Athos: Wikipedia Bahasa Inggris
• Data tentang mural filsuf: John Sanidopoulos dalam wordpressnya (johnsanidopoulos.com)

Special thanks to: Innokentios Chang, Seminarian Orthodox
Penulis: Andreas Henry Kurniadi

Tak Berkategori

Pengantar Kitab Habakuk

Jika melihat dari kitab Habakuk secara langsung, diperkirakan Habakuk hidup di sekitar abad ke-7 SM, sezaman dengan Nabi Yeremia, Zefanya dan Nahum[1]. Sangat minim penjelasan mengenai latar belakang Nabi Habakuk di bagian lain alkitab. Namun, dalam Deuterokanonika, nama Habakuk sempat disebut sebagai yang memberi makan kepada Daniel ketika Daniel berada dalam gua singa (Dan 14:33-39). Sedangkan, dalam LXX (Septuaginta), pasal 1:1 diberi tambahan “anak dari Yesus, seorang imam Lewi”[2]. Saya sendiri lebih condong ke LXX, alasannya akan saya kemukakan kemudian.

Menafsirkan pasal 3 tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan 2 pasal sebelumnya. Dalam pasal 1, Habakuk menyadari realita kebobrokan Yehuda dan meminta Tuhan menunjukkan keadilan-Nya. Habakuk gelisah akan diamnya melihat terjadinya kekerasan dan penindasan yang dilakukan orang fasik (Hab 1:2-4). Tuhan menjawab kegelisahan Habakuk tersebut dengan mengirim orang Kasdim sebagai penakluk Israel (Hab 1:5-11). Ini kiranya menggambarkan situasi kebangkitan Imperium Babilonia (orang-orang Kasdim) pasca runtuhnya Imperium Asyur. Menariknya, hal ini menimbulkan keterkejutan yang tak kalah hebat dengan yang pertama. Habakuk kembali mempertanyakan keputusan Tuhan memilih bangsa yang sama bobroknya dengan Yehuda untuk menghukum mereka (Hab 1:12-17). Habakuk melihat bahwa tindakan Tuhan mengirim orang Kasdim yang bengis tidaklah sesuai sifat Tuhan yang penuh kasih dan keadilan (Hab 1: 12-13).

Keterkejutan dan pertanyaan Habakuk awalnya tidak mendapatkan jawaban sehingga ia menantikan di tempat pengintaian. Pada zaman kerajaan, sangat lazim sebuah kota membangun benteng-benteng perlindungan. Dalam benteng perlindungan tersebut, didirikan juga menara pengintaian yang jauh lebih tinggi dari bagian benteng lain sehingga pengintai dapat melihat kedatangan musuh dari jauh. Di menara seperti inilah Habakuk mencari jawaban Tuhan dan mendapatkannya (Hab 2:1-2). Tuhan pun memberi ia jawaban atas tindakanNya memilih orang Kasdim. Tuhan meminta Habakuk untuk menunggu saat dimana hukuman atas orang-orang jahat akan menimpa mereka (Hab 2:3-5). Dari teks ini, kita melihat bahwa Tuhan memang menggunakan orang lalim untuk mewujudkan kehendak-Nya, namun itu tidak berarti Tuhan setuju atas perbuatan lalim mereka. Disini juga terasa pengaruh tradisi imamat dalam pasal 2:6-20. Di sini, Habakuk menuliskan kembali perintah Tuhan dan hukuman bagi yang melanggarnya. Hal inilah yang membuat saya condong dengan pendapat LXX karena jika memang Habakuk adalah anak seorang imam, sangat mungkin pemikirannya mengikuti tradisi imamat yang sangat menekankan unsur legal berdasarkan Torah.

John J Collins berusaha melihat keterkaitan bagian ini dengan konteks waktu itu. Collins melihat bahwa kesia-siaan akan berhala yang ditunjukkan pada ayat 19-20 menggambarkan situasi zaman deutro-Yesaya yang menghadapi polemik penyembahan ilah-ilah lain oleh bangsa Yehuda (Bdk 44:9-20)[3]. Penghukuman yang akan menimpa Babel juga dilihat sebagai kemiripan dengan nubuatan hukuman terhadap Asyur yang tertulis dalam Yesaya 10[4].

Pasal 3 sendiri berisi nyanyian ungkapan iman atas jawaban dan tindakan Tuhan yang digambarkan dalam pasal 1-2. J A Telnoni membagi pasal ini menjadi 3 bagian yaitu bagian pertama (Hab 3:1-7), bagian kedua (Hab 3:8-13) dan bagian ketiga (Hab 3:14-19)[5]. Disini Telnoni berbeda dengan TB-LAI yang tidak membagi pasal ini dalam perikop-perikop seperti dua pasal sebelumnya. Saya sendiri lebih memilih untuk membagi pasal ini sesuai dengan bentuk awalnya yaitu madah. Hal itu saya lakukan dengan memperhatikan kata sela pada teks ini. Hasilnya, saya membagi teks ini menjadi 4 bagian juga dengan beberapa perbedaan yaitu bagian pertama (Hab 3:1-3a), bagian kedua (Hab 3:3b-9a), bagian ketiga (Hab 3:9b-13) dan bagian keempat (Hab 3:14-19).

Bagian pertama menceritakan secara singkat bagaimana Habakuk menyadari bahwa tindakan Tuhan atas bangsa-bangsa, termasuk Israel, sedang terjadi. Kata T’eman disini diartikan Telnoni sebagai badai yang terjadi di Selatan sebagai wujud kekuatan Tuhan atau jalur masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan pasca eksodus[6]. Pegunungan Paran sendiri menunjuk pada pegunungan yang menjadi tempat Bangsa Israel tinggal setelah peristiwa di gunung Sinai. Bertolak dari pendapat Telnoni, saya berpendapat bahwa penulis berusaha menunjukkan bahwa Allah kembali turut bertindak menyelamatkan umat-Nya layaknya peristiwa eksodus.

Perasaan takjub akan tindakan Allah yang muncul pada bagian pertama, diperkuat oleh bagain kedua. Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang mengatasi langit dan lautan serta menimbulkan ketakutan terhadap bangsa-bangsa. Penggambaran dalam ayat 9a saya kira sengaja dituliskan untuk menunjukkan bahwa Allah telah siap “berperang” melawan musuh-musuh umat-Nya. Ini juga lekat dengan penggambaran YHWH oleh bangsa Israel yang seringkali diindentikkan dengan dewa perang.

Bagian ketiga juga berusaha mengingatkan bangsa Israel akan kedahsyatan kekuatan Allah yang berkuasa atas alam (Sungai, Gunung, Air, Matahari). Kedahsyatan ini kemudian diarahkan untuk menghukum musuh-musuh dan menyelamatkan orang yang diurapi Tuhan (Hab 3:13). Allah kembali lagi digambarkan sebagai penghukum bangsa-bangsa yang lalim meskipun bangsa tersebut digunakan Allah sebagai alatnya.

Bagian keempat, mirip seperti konklusi dan penutup. Menyadari akan kedahsyatan dan besarnya kuasa serta kasih Tuhan, membuat Habakuk yakin dan takjub akan janji Tuhan (Hab 3:16a). Ketakjuban inilah yang mendorong untuk tetap setia dan taat menunggu pemenuhan janji Allah meskipun ia berada dalam kondisi terpuruk (3:16b-17). Kondisi terpuruk ini kemudian tidak ia jadikan alasan untuk meninggalkan Tuhan melainkan ia memilih tetap setia dan bersukacita menanti janji Tuhan (3:18-19).

Catatan kaki:

[1] Blommendaal, J (diterjemahkan oleh: Naipospos, P.S)., Pengantar kepada Perjanjian Lama. (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967). Hlm 107

[2] Bergant, Dianne dan Karris, Robert J (diterjemahkan oleh: Hadiwiyata, A. S)., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. (Yogyakarta: Kanisius, 2002). Hlm 689

[3] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333.

[4] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333

[5] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 105

[6] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 111

Penulis: Qohelet

Tak Berkategori

Kekristenan Dalam Al-Qur’an

Raja Al-Harith V
Seorang Raja dari Kerajaan Kristen yang bernama Ghassan, terletak di tanah Arabia. Kerajaan ini lalu jatuh ke dalam kekuasaan Kekhilafahan Islam.
Sumber gambar: http://www.royalghassan.org

Al-Qur’an sebagai kitab suci sekaligus world view dari umat Muslim seringkali menjadi dasar yang menentukan sikap Muslim terhadap agama lain hingga hari ini. Pada dasarnya di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat inklusif yang mendukung kedamaian dalam hidup berdampingan dengan agama yang lain. Namun di lain sisi ada juga ayat-ayat yang bersifat ekslusif dan bersifat mengkritik ajaran agama lain. Kritik ini seringkali dipandang sebagai penghambat dalam hidup berdampingan dan merusak kebijakan modern yang menjunjung tinggi sikap respek dan toleransi. Untuk itu hal yang kerap menjadi polemik itu harus diduskusikan agar dapat membangun dasar bagi dialog inter religius di era modern ini.

Ambivalensi sikap terhadap yang lain seringkali ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Misalnya pada QS 2:62 ditunjukan sikap yang simpatik berkaitan dengan jaminan keselamatan bagi yang lain. hal ini berlaku bagi orang yang percaya pada Tuhan dan melakukan perbuatan baik. Selain itu dalam QS 2:265 dan QS 190:5, kita dapat melihat bagaimana visi kebebasan beragama dijunjung dalam Al-Qur’an. Di sisi lain ada juga ayat Al-Qur’an yang bersifat sangat ekslusif, yang menganggap bahwa hanya Islam lah satu-satunya jalan menuju keselamatan (QS 3:19; 3:85; 5:3). Pada bagian tertentu (QS 5:17 dan 72) menunjukan kritik terhadap keliahian Yesus. Dibagian lain ada juga kritik terhadap doktrin Trinitas (QS 4:171; 5:73; dan 5:116) yang mana dalam Qur’an mereka memahami bahwa Tuhan disetarakan dengan Yesus dan Maria sebagai tiga persona dalam trinitas. Hal ini membuat kebanyakan Muslim mencoba menyerang Kekristenan dan Yahudi dengan keyakinan bahwa kitab mereka (yahudi dan kristen) telah dipalsukan. Walaupun demikian Al-Qur’an mengakui kitab-kitab suci yang telah ada sebelumnya (torah, injil, zabur, suhuf, dan alwah) bahkan dipandang sebagai sesuatu yang memberikan bimbingan dan cahaya. Penyelewengan terhadap perintah kitab suci serta asumsi bahwa kitab suci umat yahudi dan kristen telah dipalsukan akhirnya melatarbelakangi lahirnya teks-teks ekslusif. Lalu bagimana menyelesaikan ambivalensi sikap ini?

Untuk menyelesaikan ambivalensi ini ada dua strategi yang dilakukan oleh kalangan tradisonalis. Yang pertama adalah melihat sebab munculnya suatu wahyu (Asbab al nuzul) dalam hal ini konteks historisitas wahyu coba digali dengan metode eksegesis. Hal yang menjadi masalah dalam hal ini adalah perbedaan pendapat yang kontradiksi antara penafsir yang satu dengan yang lain. Strategi yang kedua adalah dengan melihat ayat yang membatalkan dan dibatalkan (al-nasikh wal mansukh). Dalam strategi ini ayat Alquran yang menjadi wahyu mula-mula dapat dibatalkan atau menjadi inactive oleh wahyu yang datang kemudian. Kedua strategi ini dapat dipahami sebagai upaya memahami kronologi fase-fase kehidupan yang dialami oleh Muhammad. Pada periode Mekah ketika agama Islam baru lahir dan masih lemah, sikap toleransi menjadi hal yang dijunjung tinggi, bahkan mereka sangat bersahabat dengan orang Kristen dan Yahudi. Julukan yang diberikan kepada kristen dan yahudi pun sangat ramah yakni “Ahl al kitab”. Akan tetapi ketika masuk ke periode Madinah, Muhammad mengalami perjumpaan yang berbeda dengan orang Kristen dan Yahudi disana. Karena kontak yang demikian besar dengan populasi umat Yahudi yang cukup banyak hal ini menjadi tema utama dalam periode Medinah. Klaim otoritatif atas teks kitab suci menjadi hal yang dikompetisikan antara Islam dan Yahudi. Belum lagi penolakan terhadap wahyu yang dibawa oleh Muhammad membuat ayat tertentu dalam Al- Qur’an merespons dengan keras agama yang lebih tua (Yahudi dan Kristen). Kemudian berdasarkan penelitian Angel Neuwirth jika kita membandingkan teks tentang Yesus dalam surah madinah (Surah al maryam) dan surah mekah (surah al imran), maka kita akan menjumpai agenda politis untuk melemahkan dominasi Yahudi di Medinah yang menganggap bahwa mereka telah menyalibkan Yesus sang Mesias. Dalam surah Medinah dikatakan bahwa Yesus tidaklah mati disalibkan, hal ini tentu saja sasaran utamanya bukan untuk mengkritik kekristenan tapi mengalahkan umat Yahudi. Dalam periode ini juga konsep teologi kekristenan berkaitan dengan Yesus dan Maria menjadi kontroversi. Walaupun demikian dalam sura Al maida (QS 5:48) pluralisme agama dipandang sebagai sebuah misteri ilahi yang harus diterima demi kemulusan relasi di ruang publik.

Pendekatan lain yang dapat digunakan selain kedua strategi di atas adalah heretical explanation yang dilakukan oleh para sarjana. Berdasarkan pendekatan ini, Quran sebenarnya tidak mengkritik doktrin Alkitab tentang trinitas tetapi mengkritik doktrin trinitas yang dibuat oleh beberapa sekte sesat dari kekristenan. Hal ini bisa dikatakan sebagai kesalahpahaman Islam dalam memahami doktrin kekristenan. Namun hal ini juga tidak sepenuhnya salah karena keristenan mempunyai beragam konsep tentang trinitas. Pandangan lain berpendapat bahwa teks tersebut berangkat dari praktek devosional yang dilakukan oleh orang Kristen yang mengkultuskan Maria. Praktek ini dilakukan oleh kalangan yang bernama Collyridians yang menganggap bahwa ada tiga tuhan : yakni Bapa, Putra, dan Maria. Rupanya sekte sesat ini nampaknya juga sempat ditentang dengan keras oleh St. Epiphanius of Salamis. Para sarjana juga mengatakan bahwa hal ini cukup wajar karena Arabia yang saat itu dikenal sebagia sumber ajaran sesat.

Dari sini kira bisa melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan staregi retorikal dan mengangkat pernyataan yang polemik guna memenangkan argumen melawan kalangan/orang yang menolaknya. Dari beragam pemaparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa pertama polemik Al-Qur’an terhadap orang Yahudi dan Kristen menunjukan sejauh mana Muhammad mengenal sejumlah besar istilah agama dan budaya dari komunitas yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu menurut para sarjana wajar jika Al-Qur’an meminjam istilah-istilah dari sumber Yahudi dan Kristen. pointnya bukanlah untuk membuktikan atau menolak teori “pinjaman” tetapi untuk menekankan bahwa studi polemik kitab suci sangat membantu dalam upaya merekonstruksi skenario agama periode awal dalam pengembangan komunitas agama. Kedua asal-usul Islam tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan pola interaksi antara agama monoteistik .Oleh karena itu polemik dalam kitab suci perlu direfleksikan dan di-reinterpretasikan dalam terang keberagaman agama di era modern.

Karya ini adalah resume dari buku:

“Other Religions” By Mun’im Sirry dalam The willet blackwell company to the Quran, second edition. edited by: Andrew Rippin and Jawid Mojaddeli.

Penulis: Eirens Josua Mata Hine

Tak Berkategori

WAHYU UMUM DAN WAHYU KHUSUS DALAM MEMANDANG AGAMA-AGAMA NON-KRISTEN

Nabi Musa di Gunung Sinai

Kadang kita bertanya: kalau Tuhan itu satu, mengapa banyak agama di dunia ini dengan ciri khasnya masing-masing. Hindu misalnya, identik dengan dewa-dewa yang berjumlah banyak sekali dan berpakaian ala India atau Bali sehingga rumit bagi golongan non-Hindu untuk mencerna kalau ternyata Yang di Atas itu berbeda budaya dari yang di bawah. Demikian pula Buddhisme dengan Boddhisatva dan Arhatnya atau Konghucu dengan pakaian ala Tiongkoknya.

Menanggapi keberagaman ini ada beberapa respon. Pertama, adalah mereka yang menganggap kalau Tuhan itu buatan manusia karena Tuhan tidak jauh-jauh menyerupai manusia tempat di mana Tuhan itu dipuja. Giliran ganti budaya otomatis ganti Tuhan. Voltaire, seorang Deis (percaya Tuhan tapi tidak percaya agama) menganggap, keberadaan wahyu-wahyu yang ditemui dalam berbagai agama membuat Tuhan tidak dapat diketahui sebab kalau Tuhan dapat diketahui, tentunya Ia akan mewahyukan kebenaran secara konsisten[1]. Golongan kedua menganggap bahwa semua wahyu ini sebenarnya memiliki 1 sumber Tuhan yang sama. Hanya saja karena mendarat di tempat yang berbeda maka mengalami refraksi (bias) namun tetap berfungsi untuk menyampaikan kebenaran. Golongan ini menganggap wahyu lain pun sama benarnya asal sudah disaring dari konteks tempat ia mendarat sehingga nampaklah wahyu yang ingin disampaikan Tuhan. Model yang diambil golongan ini adalah Gajah Ashoka, setiap agama hanyalah fragmen dari kebenaran besar yang tidak akan bisa dipahami manusia dan setiap fragmen ini terbuka untuk dikritik. Inilah model pluralis (yang juga tercermin dalam ekumenisme dalam Kekristenan)[2]. Golongan ketiga lebih tegas dalam menanggapi isu ini. Mereka berpemahaman bahwa hanya ada 1 wahyu yang benar dan yang lain adalah manipulasi dan tipu daya dari manusia[3A] atau kuasa jahat[3B]. Inilah prespektif fundamentalis.

Secara sepintas, ketiga pandangan ini tidak memuaskan menurut caranya masing-masing:

Pandangan Pertama meskipun tidak mendustai keberadaan Tuhan namun membuat Tuhan menjadi terlalu nan jauh di atas sana sehingga tidak punya urusan terhadap alam ini. Pandangan ini merekomendasikan Agnostikisme (tidak tahu akan keberadaan Tuhan) dan Deisme. Kelemahan pandangan ini adalah prespektif ini gagal menyadari bahwa manusia dalam kelemahannya pasti membutuhkan sosok untuk bersandar dan sosok ini harus accessible dan dekat. Jika Tuhan dibuat terlalu nan jauh di sana, maka tidak akan ada gunanya Tuhan ada atau tidak sebab Tuhan cuma pajangan

Pandangan Kedua selain relatif mendustai ortodoksi setiap agama yang tentunya akan membuat kaum fundamentalis memberang karena sifat kebenaran agama adalah konstan, juga membuat suatu kemunduran: wahyu yang dimaksudkan untuk membuat diri Tuhan diketahui menjadi manusia malah dimundurkan menjadi Tuhan yang abstrak sebab Tuhan bukan lagi Yesus, Brahma maupun Ahura Mazda melainkan Unknown yang mana Yesus, Brahma dan Ahura Mazda adalah cuma penerkaan manusia atas yang Unknown ini.

Pandangan Ketiga, sekalipun menegakkan ortodoksi tiap agama tempat pandangan ini berpijak, gagal menerka bahwa di luar agamanya sebenarnya ada orang-orang yang memiliki rasa keberimanan dan kerinduan akan yang ilahi. Bapa Reformator, John Calvin mempostulatkan adanya suatu sensus divinitatis atau perasaan akan keberadaan Ilahi pada semua orang[4], hanya saja tidak tahu mau dikemanakan atau diungkapkan perasaan itu. Menganggap bahwa semua orang di luar agamanya adalah pemuja setan, sebenarnya mendustai keberadaan sensus itu.

Maka, pengarang menawarkan pandangan keempat. Pandangan ini melibatkan wahyu umum. Sebelumnya, apa itu wahyu umum? Singkatnya, Wahyu Umum adalah pengungkapan ilahi yang nampak kepada semua orang tanpa memandang iman mereka. Wahyu Umum ada 5 yaitu[5]:

  • Alam Semesta
  • Musim-musim
  • Sejarah Dunia
  • Peristiwa-peristiwa sehari-hari dalam kehidupan manusia
  • Hati Nurani

Semua manusia secara spontan dapat mengetahui bahwa tidak mungkin dalam durasi yang sangat lama dan dalam skala yang sangat besar segala sesuatu bisa tertata sedemikian tepat dan rapinya tanpa kesengajaan dan tentunya, setiap yang sengaja pasti memiliki kehendak, dan dengan demikian, pribadi. Dari situ mereka bisa menginferensikan adanya Tuhan sekalipun tidak bisa mengamati-Nya.

Bagi kita orang Kristen yang tahu lewat kesaksian para Rasul bahwa alam semesta ini dijadikan oleh Firman Allah atau Kristus, kita tahu bahwa agama-agama lain pun mengamati Kristus juga dari gejala-gejala karya-Nya. Kita sudah tidak perlu lagi berdebat apakah Kristus ada atau tidak sebab agama lain pun tahu Kristus itu ada tetapi mereka tidak tahu siapa Kristus sehingga masih harus bergumul, menunggu, mencari dan berusaha untuk menggapai-Nya. Nah, bagi iman Kristen jelas bahwa Yesus adalah Kristus sehingga tugas setiap kita adalah mewartakan kepada mereka, bahwa yang telah mereka cari itu sudah datang sebagaimana yang dicontohkan Rasul Paulus pada penduduk Athena yang ditulis dalam Kisah Rasul 17:23 tentang mezbah kepada dewa yang tidak dikenal.

Banyak peradaban yang sebenarnya pararel dengan iman Kristen. Misal: Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un dalam Islam, sejajar dengan 1 Korintus 8: 6[6]; Sunyata dalam Buddhisme pararel dengan Kenosis pada Filipi pasal 2: 9[7]. Sementara Tao Te Jing dalam Taoisme sejajar secara substansi dengan Matius pasal 5: 1-12. Trimurti dalam Hinduisme pun bisa sejajar secara fungsional dengan Roma 11: 36. Pararelisme yang dicantumkan pada tulisan ini hanya sedikit dari banyak aspek yang ada. Kesejajaran ini mengimplikasikan 2 hal:

Pertama, tidak ada agama yang kurang secara substantif-fungsional baik Kristen maupun agama lain yang sampai menuntut adanya inkorporasi story agama satu ke agama yang lain (mendekati sinkretisme). Semua worldview agama-agama memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum karena mereka telah eksis selama ribuan tahun dengan obyek material (manusia, alam, Tuhan) dan obyek formal (kosmologis, antropologis, etis, eksistensial, dll) sama walaupun dengan narasi, ekspresi dan regulasi yang berbeda-beda. Demikian pula tidak perlu kita merasa rendah diri ketika berhadapan dengan teks lain yang menyajikan hal yang selama ini terkubur dalam iman kita. Tidak perlu sampai kemudian merasa terkhianati oleh Alkitab karena silau akan teks lain lalu berbalik menyerang iman Kristen dengan bermodalkan kitab lain sebagai kacamata, yang tentunya tidak fair.

Kedua, melihat bahwa secara substansi ada kesejajaran antara Kristen dengan non-Kristen mestinya kita tidak perlu melihat iman non-Kristen sebagai sesuatu yang pasti, seluruhnya, dan selamanya datang dari setan melainkan suatu upaya manusia yang ingin menggapai Tuhan namun tidak mendapatkan kesempatan untuk menerima pengungkapan khusus yaitu Inkarnasi Yesus. Agar mereka bisa menggapai itulah Gereja perlu bermisi. Alih-alih memposisikan teologi iman lain sebagai musuh dan berusaha menghancurkan tatanan mereka dalam rangka menang atas setan, Kekristenan mestinya memposisikan teologi lain ini sebagai slot untuk diisi oleh Kristus, subyek yang mereka cari-cari selama ini.

Referensi:

1. https://enacademic.com/dic.nsf/enwiki/197208 diakses pada 1 Oktober 2019

2. Said, Nur. 2015. Nalar Pluralisme John Hick Dalam Keberagamaan Global dalam FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 3

3A. https://www.gotquestions.org/so-many-religions.html diakses pada 1 Oktober 2019

3B. https://www.gotquestions.org/oldest-religion.html diakses pada 1 Oktober 2019

4. Pritchard, Duncan. 2014. What Is This Thing Called Knowledge; New York; Routledge halaman 136

5. Katekisasi dengan Pater Lazarus Bambang Sucanto, Gereja Ortodoks Aghios Dionysios Zakynthos, Yogyakarta pada tanggal 20 November 2018

6. Dr. Bambang Noorsena dalam ceramahnya di GKJ Adisucipto, Yogyakarta pada 11 Juni 2019

7. Pdt. Seno Adhi Noegroho, M.th dalam lekturnya di AKINDO Yogyakarta pada 30 September 2019

Penulis: Henry Kurniadi

Tak Berkategori

Mengapa Bahasa Yunani Digunakan Untuk Menulis Alkitab Perjanjian Baru ?

Tuhan sertamu !

Mengapa Kitab Suci orang Kristen berbahasa Yunani ? Mengapa orang Kristen banyak menggunakan artian Yunani ? Mengapa tulisan Ulama Kristen jaman dulu banyak menggunakan bahasa Yunani ?

YUNANI KOINE

Bahasa Yunani yang digunakan orang Kristen adalah bahasa Yunani Koine.
Κοινη Ελληνικη(Koini Elliniki: Yunani Koine) artinya bahasa Yunani umum, bahasa ini adalah turunan dari bahasa Yunani Kuno, pada awalnya Yunani Koine dituturkan oleh para tentara Alexander Agung lalu berkembang pada abad 4 SM setelah Alexander Agung wafat. Bahasa ini jelas berbeda dari bahasa Yunani jaman sparta atau bahasa Yunani yang digunakan untuk menulis hikayat Dewa-Dewi Yunani, perbedaannya mungkin ‘sedrastis’ bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Jawa yang dituturkan sekarang ini. Walaupun para tentara Alexander Agung berasal dari Makedonia, tetapi karena banyak daerah yang ditaklukan, bahasa ini dituturkan dari Alexandria Mesir sampai ke beberapa wilayah India. Karena luas daerah penuturnya, bahasa Yunani Koine menjadi sangat berbeda dengan bahasa Yunani pendahulunya yaitu Yunani Kuno, mungkin bisa dibilang seperti perbedaan bahasa Melayu Kuno dan bahasa Melayu Klasik yang banyak mendapat pengaruh bahasa Arab.
Agama Kristen mengklaim sebagai penerus dari Agama Yahudi baik secara sejarah, tradisi ataupun rohani. Oleh karena ini rentetan panjang sejarah Agama Yahudi SECARA PENUH TANPA PILAH-PILIH pada masa sebelum Masehi dianggap oleh orang Kristen sebagai sejarah Kekristenan juga. Pada zaman sebelum Kristus(sebelum Masehi), bangsa Yahudi sudah mendapat pengaruh Helenis(Yunani) yang bermula dari luar Yudea(Sebutan untuk Palestina-Israel pada masa penjajahan Romawi). Begini sejarahnya.

SEPTUAGINTA: CARA FIRAUN YUNANI MENGHELENISASI YAHUDI PERANTAUAN

Saat Alexander Agung sekarat, para teman-temannya bertanya “kepada siapa engkau akan mewariskan Kerajaan ini ?”, Alexander Agung menjawab “kepada yang terkuat”. Setelah Alexander Agung wafat, perkataan ini menjadi perdebatan di dalam Kerajaan ditambah karena istri Alexander Agung yang bernama Roxane baru ketahuan hamil setelah Sang Raja wafat, ini menjadi pelajaran untuk para wanita kalau merasa mual tidak wajar tolong langsung check ke dokter. Lalu para Jendral dan pihak-pihak dalam Kerajaan berebut wilayah dan saling bunuh sana sini, sampai akhirnya wilayah taklukan Alexander Agung dibagi menjadi 4, untuk detilnya masalah ini tentu tidak akan dijelaskan disini. Di Alexandria Mesir, Ptolemaios Soter mantan Jendral Alexander Agung mengangkat diri menjadi Firaun(sebutan untuk penguasa Mesir) dan memulai Dinasti Ptolemaik di Mesir. Lalu Ptolemaios Soter digantikan oleh anaknya Ptolemaios Philadelphos.
Pada masa pemerintahan Ptolemaios Philadelphos, Orang Yahudi di Alexandria sudah banyak yang tidak bisa lagi bahasa Ibrani, kemungkinan juga karena pengaruh kuatnya Helenisasi pada masa itu. Melihat ini Ptolemaios Philadelphos berinisiatif untuk mensubsidi para Sarjana-Sarjana Yahudi datang ke Alexandria untuk menterjemahkan Kitab Taurat, Kitab Para Nabi, Kitab sejarah dan Kitab-Kitab Syair yang disebut oleh orang Yahudi sebagai Tanakh(lalu Kitab ini dipakai juga oleh orang Kristen dan disebut Perjanjian Lama, sampai sekarang orang Yahudi juga masih menggunakan ini), selain Tanakh ini sastra-sastra Yahudi lain juga ikut diterjemahkan seperti: Tobit, Yudit, Makabe 1-3, Dll yang dalam Gereja Katolik masih dipakai disebut Deuterokanonika(Kanon kedua) atau dalam Gereja Orthodox disebut Anaginoskomena(Kitab-Kitab yang layak dibaca).
Kata Septuaginta digunakan untuk menyebut terjemahan Kitab-Kitab Yahudi ini, yang dalam bahasa Yunani disebut Evdomikonta, artinya ‘Sang Tujuh Puluh’ yaitu taksiran dari jumlah 72 Sarjana Yahudi yang menerjemahkan Kitab-Kitab ini.
Lalu orang-orang Yahudi yang berbudaya Helenis(Yunani) ini juga ada beberapa yang datang kembali ke Yudea dan membentuk suatu komunitas juga, hal ini tercatat dalam Kitab Suci Kristen demikian:
Kisah Para Rasul 6:1
Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.

Terjemahan Kitab Suci Septuaginta ini juga akhirnya menjadi pedoman orang-orang Kristen mula-mula sebab mereka berbahasa Yunani, sekarang Septuaginta ini masih dipakai oleh Gereja Orthodox Yunani, dan terjemahan Perjanjian Lama Gereja Orthodox berbahasa Inggris juga berbasis Septuaginta ini.

KRISTUS BERBICARA MENGGUNAKAN BAHASA YUNANI

Kristus itu hidup bukan di daerah yang berkebudayaan tunggal, tetapi di daerah yang sangat multikultural. Kristus lahir pada saat bangsanya dijajah oleh Kekaisaran Romawi, bahkan Kristus saat lahir disensus sesuai hukum Romawi pada masa Kaisar Agustus(bdk. Lukas 2:1-5). Pada zaman Kristus ini bangsa Yahudi di Yudea tidak menggunakan bahasa Ibrani untuk sehari-hari, mereka hanya menggunakan bahasa Ibrani untuk keperluan ritual saja, sedangkan sehari-hari mereka menggunakan bahasa Aramia yang telah tercampur dengan bahasa Ibrani, biasanya disebut ‘Jewish Palestinian Aramaic’, bahkan dalam Talmud(Kitab Tafsir) Yahudi bahasa yang digunakan bahasa Aramia mix Ibrani ini dengan menggunakan aksara Ibrani.
Bahasa Yunani Koine ini juga mereka gunakan untuk berbicara dengan bangsa asing karena bekas pengaruh Alexander Agung, bahasa Yunani Koine menjadi lingua franca(bahasa internasional) pada masa itu, seperti bahasa Inggris pada zaman sekarang. Bahkan dalam Injil tercatat Kristus pernah berbicara dengan orang Yunani berkebangsaan(warga negara) Siro-Fenesia:
Markus 7:26-30
26. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.”
28. Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”
29. Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”
Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.

Dari sini sudah cukup membuktikan bahwa Kristus juga pernah berbicara menggunakan bahasa Yunani karena berkomunikasi dengan orang biasa yang tidak mungkin bisa bahasa Aramia Yahudi karena dia berkebudayaan Yunani, ditambah bahasa Yunani adalah bahasa internasional pada masa itu. Seperti saat masa penjajahan Belanda di Nusantara dulu, para kaum terpelajar Jawa sudah pasti bisa bahasa Belanda dan berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda dengan orang Belanda.

DARI YESHUA MENJADI IESOUS

Mungkin banyak dari kita bertanya-tanya “Yesus itu kan serapan bahasa Yunani, nama dalam bahasa daerahNya apa ? Kenapa nama diterjemahkan ?”. Nama Yesus itu memang serapan dari bahasa Yunani yaitu ιησους(Iesous/Iisous), ini bukan terjemahan namun karena bentuk dan aturan bahasa Yunani maka Nama Yesus harus ditulis Iesous. Sebagai contoh dalam bahasa Jepang nama Andreas menjadi アンドレアス(Andoreasu), atau nama Lee menjadi リー(Rii). Bahasa Yunani juga begini, sedangkan Nama Yesus dalam bahasa Ibrani adalah ישוע(Yeshua), etimologi Nama ini adalah dari יהוה(YHWH: Nama TUHAN dalam bahasa Ibrani) dan שוע‬(shua: penyelamat). Nama serupa juga ada dalam Kitab Yahudi:
2 Tawarikh 31:15
Di kota-kota imam ia dibantu dengan setia oleh Eden, Minyamin, Yesua, Semaya, Amarya dan Sekhanya dalam pembagian itu kepada saudara-saudara mereka menurut rombongan, kepada orang dewasa dan anak-anak,
דברי הימים ב 31:15
וְעַל־יָדֹו עֵדֶן וּמִנְיָמִן וְיֵשׁוּע(Yeshua)ַ וּשְׁמַעְיָהוּ אֲמַרְיָהוּ וּשְׁכַנְיָהוּ בְּעָרֵי הַכֹּהֲנִים בֶּאֱמוּנָה לָתֵת לַאֲחֵיהֶם בְּמַחְלְקֹות כַּגָּדֹול כַּקָּטָן׃
Nama Yeshua dalam 2 Tawarikh 31:15 ini oleh para 72 Sarjana Yahudi Pra-Kristus diterjemahkan ke Septuaginta menjadi Iesous dalam bahasa Yunani:
2 Chronicles 31:15
δια χειρος οδομ και βενιαμιν και ιησους και σεμει και αμαριας και σεχονιας δια χειρος των ιερεων εν πιστει δουναι τοις αδελφοις αυτων κατα τας εφημεριας κατα τον μεγαν και τον μικρον.
Dia kheiros odom kai Beniamin kai IESOUS kai Semei kai Amarias kai Sekhonias dia kheiros ton iereon en pistei doumai tois adelphois avtoon kata tas afimerias kata ton megan kai ton mikron.

Disini kita sudah mengetahui bahwa sebelum Kristus lahir sudah ada tokoh dalam Perjanjian Lama yang bernama Yeshua juga dan nama Yeshua ini oleh para Sarjana-Sarjana Yahudi ditulis ke dalam bahasa Yunani menjadi Iesous, jadi tidak salah bila Para Rasul Kristus menulis Nama Yeshua dalam Kitab-Kitab dan Surat-Surat dalam Perjanjian Baru menjadi Iesous.

TULISAN DI ATAS SALIB KRISTUS

Tercatat dalam Kitab Injil bahwa Pilatus wali negri Romawi untuk Yudea memerintahkan untuk ditaruh papan di bagian atas salib Kristus yang bertuliskan ‘Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi’ dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani:
Yohanes 19:19-20
19. Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.”
20. Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.

Dalam teks asli bahasa Yunani, bagian tulisan di papan yang berbahasa Yunani itu adalah ‘ιησους ο ναζωραιος ο βασιλευς των ιουδαιων’ bunyinya ‘Iesous o Nazoraios o Basileus ton Ioudaion’.

UNSUR-UNSUR YUNANI DAN IBRANI

Dari sini kita sudah mengetahui alasan logis mengapa Kitab Suci Perjanjian Baru oleh Para Rasul Kristus ditulis dalam bahasa Yunani Koine untuk keperluan agar Injil mudah disebar luaskan, mengingat bahasa Yunani Koine sebagai bahasa Internasional pada masa itu. Tentang proses penulisan Injil ini bisa kalian baca lebih lanjut di tulisan gua dan teman gua disini:
Alkitab Kristen sudah diubah ?
Kekristenan Adalah Agama Yang Melahirkan Karya Sastra
.
Walaupun Kitab Suci orang Kristen berbahasa Yunani dan kebanyakan menggunakan bahasa Yunani, tetapi unsur-unsur bahasa Ibrani tetap tidak dihilangkan dalam sastra dan buku-buku Ibadah umat Kristen, sebagai Contoh:
– αλληλουια(Allelouia) yang diambil dari bahasa Ibrani הללויה(haleluyah) yang artinya puji(הלל: halel) YAH(יה: YAH kependekan dari יהוה/YHWH/TUHAN).
– αμην(Amin) yang diambil dari bahasa Ibrani אמן(Amen) yang artinya bisa “terjadilah” atau “percaya”.
– Dll

BAHASA YUNANI YANG MAHA KAYA DAN KOMPLEKS

Bahasa Yunani karena dikembangkan oleh para pemikir-pemikir hebat pada jamannya dan disebar luaskan di banyak belahan dunia, akhirnya menciptakan sebuah bahasa yang kaya dan sangat bermakna. Sebagai contoh kata “cinta” dalam bahasa Yunani itu banyak kata, setiap katanya memiliki makna yang berbeda tetapi sangat jelas, berikut kata-kata yang menggambarkan “cinta” dalam bahasa Yunani:
– Αγαπη(Agape)
Dalam Kitab Suci Kristen, Agape digunakan untuk menggambarkan Cintakasih Sang Ilahi kepada manusia yang tidak menuntut balas. Namun dalam bahasa Yunani modern kata agape ini menjadi sangat luas maknanya dan digunakan untuk menerjemahkan “love” ke dalam bahasa Yunani modern, sebagai contoh “i love you” dalam bahasa Yunani diterjemahkan “se agapo”.
– Φιλια(Philia)
Kata philia digunakan untuk menyebut cinta persahabatan atau persaudaraan.
– Ερος(Eros)
Kata eros dalam perkembangan pada agama Yunani sering dikaitkan sebagai hubungan seksual yang merupakan ritual Agama Pagan pada zaman itu, namun sebenarnya makna asli eros tidaklah demikian. Eros adalah aktivitas cinta manusia kepada Sang Ilahi(Theos) secara badani, sebab manusia terdiri juga atas tubuh fisik, maka untuk mencintai Sang Ilahi secara penuh juga harus dilakukan aktivitas yang nyata dengan fisik, yang kebetulan pada zaman itu dalam Agama Pagan Yunani adalah dengan bakti seksual, sampai akhirnya sekarang kata eros sering dimaknakan sebagai sesuai yang berbau seksual.
– Στοργη(Storge)
Kata ini digunakan untuk menggambarkan cinta orang tua kepada anak.

KESIMPULAN

Penggunaan bahasa Yunani Koine sebagai bahasa Kitab Suci dan bahasa theologis dalam Agama Kristen bukanlah asal-asalan, tetapi ini adalah rentetan sejarah yang nyata dan dapat dibuktikan bahkan oleh orang sekuler sekalipun, yang mana Agama Kristen terlahir dari daerah yang multietnis dan multikultur. Namun dalam penyebarannya Agama Kristen tidak menuntut penggunaan unsur Yunani secara paksa, semuanya tergantung bahasa dan kebudayaan terkait.
Kata Χριστος(Khristos) dalam bahasa Yunani digunakan Para Rasul Kristus untuk menterjemahkan משיח(Mashiakh) dalam bahasa Ibrani ke bahasa Yunani, namun untuk orang Kristen Arab dalam bahasa Arab ada kata yang semakna dengan Mashiakh yaitu مسيح‎(Masih), jadi orang Kristen Arab menterjemahkan Ο Χριστος(O Khristos: Sang Kristus) menjadi المسيح(Al-Masih). Hal ini juga sama, karena Nama Yesus ditulis dalam bahasa Yunani menjadi Ιησους(Iesous) dari Nama bahasa Ibrani ישוע(Yeshua), orang Kristen Arab bisa langsung mengambil dari bahasa Ibrani ini menjadi يسوع(Yasu’), dengan ini Nama Yesus Kristus disebut dan ditulis oleh orang Kristen Arab menjadi يسوع المسيح(Yasu’ Al-Masih). Jadi tidak salah penerjemahan kata-kata dalam keagamaan Kristen, asalkan kata-katanya benar-benar dicari yang sangat semakna. Walaupun begini, namun beberapa unsur yang tidak bisa diterjemahkan tetap dipertahankan sebagaimana adanya.
Bahasa Yunani dan Ibrani memang sangat berguna untuk keperluan theologi menafsir Kitab Suci Kristen, namun orang Kristen TIDAK BERIMAN ATAS KATA-KATA, tapi orang Kristen beriman kepada yang dilukiskan dibalik kata-kata tersebut.

Penulis: Ephitimia

kresten

Apakah Nasrani dan Kristen itu sama ?

Εις το ονομα του Πατρος και του Υἱου και του Αγιου Πνευματος. Αμιν

Tuhan sertamu !

Mungkin banyak sekali orang non-Kristen yang menyebut orang Kristen dengan sebutan Nasrani tanpa mengetahui arti sebenarnya dari kata ini, ya wajar saja sebab dalam KBBI kata “Nasrani” didefinisikan sebagai “Kristen” tanpa embel-emel apapun yang artinya Kristen secara luas tanpa khusus sama sekali. Tapi apakah sebenarnya arti dari Nasrani ini ? apakah orang Kristen menggunakan artian ini ? apakah sopan memanggil orang Kristen secara umum dengan sebutan Nasrani ? mari kita pelajari.

ARTIAN NASRANI DALAM ALKITAB

Berbeda dari kata Kristen yang sering digunakan dalam Alkitab, kata Nasrani hanya sekali digunakan dalam Alkitab yaitu di dalam:
Kisah Para Rasul 24:5
Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani.
.
Pada waktu itu memang ada yang menyebut kelompok Para Rasul sebagai Nasrani, atau נוצרים(Notzrim) dalam bahasa Ibrani yang berasal dari kata Nazaret yaitu kampung halaman Kristus, atau bisa juga bermakna pengikut tunas(Netzer) yang maksudnya Kristus sebagai tunas Raja Daud. Hal ini hampir sama seperti penulis Arab Muslim yang menulis tentara Salib dengan artian Alfranj(الفرنج) atau Alfirinjiyah(الفرنجيّة) yang diambil dari kata Frank(bangsa Jerman) seperti dalam teks Al-Kamil fi Al-Tarikh karya Ali Ibn Al-Athir, padahal tidak semua tentara Salib itu Frank dan kata bahasa Arab tertepat untuk menyebut Tentara Salib adalah Salibi(صليبي) yang mana sekarang digunakan oleh para sejarawan Arab modern.
Disamping sebutan Nasrani ini, pada jaman Para Rasul juga bermula dari Antiokhia para fanboy Kristus yang dikepalai Para Rasul Kristus disebut sebagai Kristen:
Kisah Para Rasul 11:26
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.
.
Jadi ada sebutan Nasrani dan Kristen, namun Para Rasul lebih sering menyebut diri sebagai Kristen dan bukan Nasrani, sebab Nasrani hanya muncul sekali saja dalam Alkitab,
Roma 16:7
Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.
1 Petrus 4:16
Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.
.
Jadi Nasrani itu HANYA SEBUTAN, Kristen juga walau awalnya hanya sebutan tetapi menjadi nama ofisial dari Agama yang dikepalai Kristus melalui Rasul-RasulNya.

ARTIAN NASRANI SEBAGAI AJARAN SESAT

Kata Nasrani akhirnya berkembang secara khusus untuk menuju kepada orang-orang Kristen berdarah Yahudi atau orang non-Yahudi yang disunat dan mengikuti segala tata cara tradisi kebudayaan Yahudi, mereka ini disebut oleh orang Yahudi sebagai Minim(bidat/ajaran sesat) dan oleh Gereja pada masa itu juga disebut sebagai bidat sebab orang yang ingin menjadi Kristen dalam golongan mereka harus berkebudayaan Yahudi padahal sesuai kesepakatan Para Rasul dan Ulama-Ulama Kristen zaman Para Rasul yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15 tidak mewajibkan orang non-Yahudi yang ingin menjadi Kristen untuk melakukan adat istiadat Yahudi. Tentang bidat Nasrani ini dicatat pula oleh para Bapa-Bapa Gereja diantaranya sebagai berikut:
– …Pada zaman kita ada sebuah sekte di kalangan orang Yahudi di seluruh sinagoga-sinagoga di Timur, yang disebut Minim, dan sekarang dicap bidah pula oleh orang Farisi. Pengikut sekte ini dikenal luas sebagai kaum Nasrani, mereka percaya kepada Kristus, anak Allah, lahir dari perawan Maria, dan mereka berkata bahwa Ia yang menderita di bawah Pontius Pilatus, dan bangkit lagi, adalah orang yang sama seperti yang kita percayai. Tetapi sementara mereka ingin menjadi Yahudi dan Kristen sekaligus, mereka akhirnya tidak tergolong ke dalam salah satu pun…
…Pengikut sekte ini dikenal luas sebagai kaum Nasrani, mereka percaya kepada Kristus, anak Allah, lahir dari perawan Maria, dan mereka berkata bahwa Ia yang menderita di bawah Pontius Pilatus, dan bangkit lagi, adalah orang yang sama seperti yang kita percayai.
(Surat St Yerome kepada St Agustinus)
– “Mereka tidak mempunyai pendapat yang berbeda, namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang diperintahkan dalam Taurat, MENURUT TATA CARA YAHUDI – kecuali kepercayaan mereka terhadap Mesias…” (St Epiphanius Salamis. Panarion 29)
.
Menurut catatan Yahudi pun di dalam Barachot 29b versi catatan tua yang ditemukan di Genizah Kairo, Nasrani juga secara jelas disebut sebagai minim(bidat):
“Biarlah tidak ada pengharapan bagi para pemberontak, dan semoga kerajaan yang congkak segera dirubuhkan pada hari ini, dan orang Nasrani dan orang Minim menghilang dan dilenyapkan dari buku kehidupan. Terpujilah Engkau Tuhan yang merendahkan orang-orang congkak.”
.
Jadi disini dapat kita simpulkan pada perkembangannya kata Nasrani ini menjadi sebutan bagi kelompok yang mana bukan Kristen tetapi juga bukan Yahudi. “Kok kejam banget sih orang Kristen membidatkan Nasrani ?” Masalah bidat dan membidatkan ini bukan masalah kejam atau tidak kejam, masalahnya mereka sendiri juga tidak mau bergaul dengan orang-orang Kristen yang tidak bersunat, padahal di dalam Konsili Yerusalem yang diadakan oleh Para Rasul Kristus dan Ulama-Ulama Kristen pada abad pertama telah disepakati bahwa orang Kristen non-Yahudi tidak dituntut melakukan ADAT ISTIADAT Yahudi, dengan ini berarti orang Nasrani sendiri yang telah meludahi kesepakatan pertama di abad 1. Ingat ! Ini bukan berarti komunitas Kristen anti adat istiadat, tapi ini masalah orang diluar golongan mereka yang tidak berdarah Yahudi juga dituntut untuk sunat kalau ingin masuk ke dalam komunitas mereka. Di dalam tradisi Ethiopia karena mereka keturunan Raja Solomo, umat Kristen Ethiopia sampai sekarang masih melakukan tradisi sunat ke anak cucu mereka sebagai ADAT ISTIADAT MEREKA, tetapi mereka tidak menuntut orang Kristen non-Ethiopia untuk sunat.

NASRANI SEBAGAI SEBUTAN KELOMPOK ETNIS KEAGAMAAN

Kata Nasrani dipakai juga untuk umat Kristen hasil pengInjilan Rasul Thomas murid Kristus, khususnya yang berada di India yaitu umat Kristen Orthodox Malankara. Kata Nasrani ini juga digunakan oleh umat Kristen Asyria yang berfaham Nestorian, Nestorius yang adalah bapa Gereja dari kaum Nestorian ini sudah diputuskan sebagai penyebar ajaran sesat dalam Konsili Ekumenis di Efesus tahun 431, ajaran sesat ini berpusat di Asyria(Persia) Timur dan banyak berada di Jazirah Arab dari masa sebelum Hijriyah. Secara kelompok etnis keagamaan umat Kristen Orthodox Malankara dan umat Kristen Assyria Timur memang menyebut diri sebagai Nasrani, namun secara khusus keagamaan mereka menyebut diri Kristen. Kata Nasrani juga diabadikan di dalam judul film yang diproduksi di Kerala yaitu daerah di India yang mayoritas Kristen Nasrani.

KRISTEN ARAB: KAMI MASIHIYYUN !

Kata yang digunakan untuk menerjemahkan Χριστιανος(Khristianos) ke bahasa Arab adalah مسيحيون(Masihiyyun). Secara kelompok etnis keagamaan orang Kristen Arab juga memiliki sebutan, umat Kristen Orthodox Antiokhia yang beretnis Arab menyebut diri mereka sebagai Rum Orthodox, Rum sendiri artinya Byzantium yaitu Kekaisaran Kristen yang pernah ada dan berpusat di Turki, kata Rum juga digunakan pemerintahan Turki Utsmani untuk menyebut Milet(Semacam daerah istimewa) yang mayoritas memeluk Kristen Orthodox Timur. Orang Kristen Arab yang terkenal adalah Khalil Gibran, seorang penyair Lebanon yang beragama Kristen Katolik Maronit, Maronit sendiri adalah nama Gereja Katolik Lebanon yang berbudaya Suriah sekaligus menjadi sebutan untuk kelompok etnis keagamaan umat Kristen Lebanon.

BOLEH GAK SIH MENYEBUT ORANG KRISTEN SECARA UMUM DENGAN SEBUTAN NASRANI ?

Kalau di mimbar pribadi silahkan saja, tapi untuk memanggil secara langsung sudah tentu tidak sopan. Kita sekarang sudah mengetahui bahwa kata Nasrani bagi orang Kristen yang sesuai sejarah nyata bermakna ganda, yaitu antara kelompok etnis keagamaan atau aliran-aliran sesat yang mengaku diri Kristen, tentu bahaya bukan bila sembarangan menggunakan artian ini ?, Apalagi di Indonesia sendiri tidak/belum ada komunitas Kristen Orthodox India yang beretnis India, jadi lebih baik tidak usah menggunakan kata ini secara umum di publik karena dapat menyakiti hati orang-orang Kristen yang paham dengan sejarah kata Nasrani. Tapi kalau kalian mau sebut ini di dalam mimbar kalian sendiri atau hanya dalam kelompok kalian ya silahkan saja, yang masalah itu bila ada guru sekolah menggunakan mikrofon yang tersambung keseluruh speaker di kelas-kelas dalam sekolah umum dan berkata “anak-anak Nasrani diharap untuk segera menuju ruang ibadahnya”.
“Tapi kan di KBBI kata Nasrani itu sebagai kata ganti Kristen”, bener dan ini cukup menjengkelkan bagi orang-orang Kristen yang faham. KBBI itu adalah sebuah kamus bahasa yang dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan ini hal-hal terkait pendidikan dapat menggunakan artian Nasrani seperti misalnya untuk keperluan buku-buku pelajaran bahkan pelajaran yang non-Relijius.
Tulisan ini bukan sekedar dibuat untuk mempropagandakan orang non-Kristen di Indonesia untuk stop menyebut umat Kristen Indonesia sebagai Nasrani, tetapi untuk menunjukkan kepada para pembaca tentang arti kata Nasrani dalam sejarah dan bagaimana umat Kristen secara umum memandang kata Nasrani. Untuk selanjutnya diserahkan sesuai nalar dan kehendak bebas masing-masing pribadi yang membaca ini.

Source:
Nasrani
Kristen Arab
Rum Orthodox
Geotimes: Kristen bukan Nashara

Penulis: Ephitimia

kresten

Apakah Katolik bukan Kristen ?

AMBIGUITAS

Tuhan sertamu !

Banyak orang berpendapat “Katolik bukan Kristen dan Kristen bukan Katolik” dikarenakan dalam sistem identitas kenegaraan di Indonesia lembaga Kristen Katolik dipisahkan dari lembaga Kristen Protestan dan juga Kristen Orthodox. Diantara kita pasti banyak berpikir “apa sebenarnya Katolik itu ? apa Protestan itu ? apa Orthodox itu ? mengapa mereka berbeda ?”. Dari mempelajari sejarah Gereja Kristen mulai abad 1-8(baca artikel ini) telah memberikan titik pijak bagi kita untuk mempelajari perbedaan-perbedaan Gereja, yang mana ada Konsili(Muktamar). Dalam Konsili itu ada suatu putusan, putusan ini ada yang berisi juga tentang ajaran sesat, ajaran sesat yang diputuskan dalam Konsili di-anathema(ekskomunikasi: dikeluarkan dari komunitas) dan tidak boleh menerima Perjamuan Kudus/Ekaristi(sebuah ritual keagamaan yang sangat penting dalam agama Kristen). Oke langsung saja kita pelajari mulainya perpecahan yang cukup besar dalam sejarah Kekristenan:

GEREJA ASIRIA TIMUR

Latar belakang terbentuknya ajaran dalam Gereja Asiria Timuar dimulai dari Konsili Efesus(suatu daerah yang sekarang Turki) tahun 431. Dalam Konsili ini Nestorius seorang Patriarkh(Ulama tertinggi dalam suatu Negara) Konstantinopel mengajarkan bahwa Bunda Maria tidak melahirkan Firman Ilahi, dia mengajarkan bahwa Bunda Maria hanya melahirkan kodrat kemanusiaan Kristus yang lalu ‘berkembang’ menjadi Ilahi saat pembaptisan Kristus. Dalam Kitab Suci Kristen dijelaskan bahwa Bunda Maria selain melahirkan kodrat kemanusiaan Kristus juga melahirkan kodrat keilahian Kristus(Bdk. Yesaya 9:6 ; Matius 1:23 ; Lukas 1:35). Patriarkh Nestorius dianathema oleh Gereja arus utama dan diturunkan dari jabatannya, lalu para pengikutnya melarikan diri dadi Kekaisaran Konstantinopel ke Asiria, di Asiria pengikut Nestorius mempengaruhi ajaran Gereja Asiria Timur.

GEREJA ORTHODOX ORIENTAL

Perlu diingat bahwa Gereja Orthodox Oriental(Oriental Orthodox Church) dan Gereja Orthodox Timur(Eastern Orthodox Church) itu BERBEDA. Mendiang Bob Marley itu umat Kristen Orthodox Oriental yang berbudaya Ethiopia, sedangkan Presiden Rusia Vladimir Putin itu umat Kristen Orthodox Timur yang berbudaya Rusia. Gereja Orthodox Oriental terpisah dari Gereja arus utama bermula pada Konsili Khalsedon tahun 451 karena perbedaan pendapat tentang pemaknaan Pribadi Kristus, yang mana Orthodox Oriental menggunakan cara mengajar “Miafisit” dalam menjelaskan Pribadi Kristus.
Gereja Orthodox Oriental tidak seperti Gereja Katolik Roma yang mempunyaj satu pemimpin tunggal mutlak, mereka memiliki pemimpin-pemimpin tertinggal di masing-masing Yuridiksi(Wilayah Kegerejaan yang cukup besar dan mempengaruhi budaya) yang disebut Paus dan Patriarkh, adapun sebutan Paus hanya dalam Gereja Orthodox Koptik yang BERBEDA DARI Paus dalam Gereja Katolik Roma. Adapun Gereja-Gereja yang masuk ke dalam komunitas Gereja Orthodox Oriental adalah: Gereja Apostolik Armenia, Gereja Orthodox Koptik, Gereja Orthodox Ethiopia, Gereja Orthodox Eritrea, Gereja Orthodox Malankara, dan Gereja Orthodox Suriah.

SKISMA AKBAR TAHUN 1054

Skisma Akbar(perpecahan besar) tahun 1054 adalah peristiwa besar dalam komunitas Kristen yang mana Gereja Timur(Yang berpusat di Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem) dengan Gereja Barat(Yang berpusat di Roma) SALING MEMISAHKAN diri karena perbedaan tata cara peribadatan, cara mengajar iman, politik kenegaraan(Bizantium kontra Kekaisaran Romawi Suci), dll.
Awalnya pusat Kekristenan adalah di Yerusalem, namun karena beberapa konflik yang terjadi di Yerusalem akhirnya dipindahkanlah ke Antiokhia, oleh sebab ini bila kita membaca Kitab Kisah Para Rasul pasti semua Rasul yang mengInjil akan kembali ke Antiokhia lalu setelah itu baru mengInjil kebelahan dunia lain, di Antiokhia juga para pengikut Kristus pertama Kali disebut Kristen(bdk. Kisah Para Rasul 11:26) yang akhirnya nama Kristen ini menjadi nama ofisial bagi para pengikut Kristus. Setelah ini pusat dunia Kekristenan mengenal sistem Triarkhi(tiga pusat pemerintahan) yang mana Roma, Alexandria(Mesir) dan Antiokhia sebagai kota-kota pusat Kekristenan. Ibarat kata seperti sekarang ini kantor pusat Mentri Agama Indonesia berada di Jakarta karena Jakarta adalah pusat pemerintahan. Roma menjadi pusat teruatama karena Roma adalah ibu kota Kekaisaran pada waktu itu, Alexandria menjadi pusat kedua karena sebagai kota besar yang menyimpan banyak manuskrip-manuskrip Kristen di perpustakaan besarnya, Antiokhia menjadi pusat ketiga karena dulunya adalah pusat Kekristenan kuno. Baru pada Konsili Khalsedon tahun 451, dunia Kekristenan mengenal sistem Pentarkhi(5 pusat pemerintahan) dengan ditambahkan Konstantinopel dan Yerusalem. Kenapa Konstantinopel ditambah ? Konstantinopel ditambah dan ditaruh di posisi kedua Pentarkhi sebab Ibu kota Kekaisaran pada waktu itu dipindahkan oleh Konstantinus Agung dari Roma ke Konstantinopel, maka dibuatlah juga pusat Kekristenan di Konstantinopel, yang di Roma tetap dibiarkan dalam posisi pertama. Sedangkan Yerusalem ditambahkan di posisi kelima karena pada waktu itu kota suci Yerusalem menjadi milik Kristen, Ibu Suri Helana membangun banyak Gereja yang mengakibatkan membeludaknya angka peziarah Kristen beserta para imigran Kristen, akhirnya dibuatlah juga pemerintahan pusat di Yerusalem. Hal masalah administratif ini juga menjadi faktor skisma akbar tahun 1054.
Sebetulnya perpecahan kecil antara Kristen Timur dan Barat sudah dimulai sebelum tahun 1054 namun puncak perpecahannya memang pada tahun 1054. Pada tahun 1054 karena banyaknya masalah-masalah lokal baik di Barat atau Timur, para utusan Paus Roma menaruh bulla(surat ekskomunikasi) di dalam Gereja Haghia Sophia(Di Turki, yang sekarang menjadi Museum), surat ekskomunikasi ini dibalas oleh para Patriarkh(Pemimpin tertinggi dalam pusat-pusat kota Kekristenan tadi) dengan ekskomunikasi juga. Setelah kajadian ini secara resmi pada tahun 1054 Gereja Roma dengan Gereja Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem SALING MEMISAHKAN DIRI secara administratif dan juga lain-lainnya. Gereja Roma ini menyebut diri Gereja Katolik sedangkan Gereja Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia dan Yerusalem menyebut diri menjadi Gereja Orthodox Timur. Jadi kita tidak bisa berkata “Kristen Orthodox dan Kristen Katolik baru ada tahun 1054”, sebab mereka mengakui bahwa awalnya mereka saling sama-sama dari jaman Para Rasul Kristus masih hidup, baru karena satu dan lain hal pada tahun 1054 mereka SALING MEMISAHKAN DIRI.

GEREJA KATOLIK(ROMA)

Kata Kristen seperti sudah kita ketahui dipakai sebagai nama ofisial para pengikut Kristus sejak abad pertama, sedangkan kata “Katolik” berarti Universal yang menunjukkan sifat Gereja. Kata Katolik pada awalnya sudah dipakai dalam dunia Kekristenan bahkan oleh St Ignatius murid Rasul Yohanes, kata ini dipakai untuk menyebut sifat Gereja yang universal/menyeluruh secara iman dan administratif walaupun terpisah dari segi geografis dan juga budaya. Setelah skisma akbar tahun 1054 baru nama ini akhirnya menjadi nama resmi Gereja yang berpusat di Roma untuk membedakan diri dari Gereja lainnya yang dianggap skismatik(pecahan) ataupun bidat(aliran sesat). Dan Gereja Katolik secara jelas menyebut diri sebagai Kristen, tidak ada para petinggi Gereja Katolik yang menyebut bahwa Katolik bukan Kristen, Mgr Ignatius Suharyo Uskup Agung Jakarta bahkan sering mengungkapkan di hadapan media diawali dengan “kami sebagai umat Kristen”, sebab Katolik itu juga Kristen, yaitu Kristen yang menurut mereka bersifat Katolik(Universal).

GEREJA ORTHODOX TIMUR

Perlu diingat bahwa Kristen Orthodox Timur dan Kristen Orthodox Oriental walaupun secara harfiah memiliki arti yang sama namun mereka BERBEDA baik secara administratif ataupun cara mengajar. Kata Orthodox sendiri mulai digunakan oleh para Bapa-Bapa Gereja Yunani pada abad ke 4. Kata Orthodox diambil dari dua kata yaitu Orthos: lurus dan Doxa: ajaran, yang artinya ajaran yang lurus. Kata Orthodox pada awalnya digunakan untuk menyebut Gereja arus utama yang dibedakan dari para skismatik dan bidat, baru setelah tahun 1054 dipakai oleh Gereja Orthodox Timur untuk menyebut Gereja mereka berbeda dari para skismatik dan bisat menurut pandangan mereka secara administratif ataupun iman. Gereja Orthodox Timur juga dalam beberapa konsili mereka menyebut diri sebagai Gereja Katolik Orthodox, namun secara administratif lebih sering digunakan Gereja Orthodox Timur. Pada saat ini Gereja Orthodox Timur memiliki 9 Kepatriarkhan yang saling bersatu di bawah payung Gereja Orthodox Timur(namun baru-baru ini terjadi dorama antara Kepatriarkhan Moskow dengan Konstantinopel/Instanbul Turki), diantaranya: Konstantinopel, Alexandria, Antiokhia, Yerusalem, Moskow, Georgia, Serbia, Rumania, dan Bulgaria.

GEREJA KATOLIK TIMUR

Gereja Katolik Timur adalah Gereja-Gereja Timur yang pada waktu skisma tahun 1054 berada di pihak Roma, atau yang awalnya Gereja Orthodox Timur dan Gereja Orthodox Oriental lalu karena satu dan lain hal memilih pindah berada dalam naungan Gereja Katolik Roma namun masih menggunakan ritus(tata cara) Gereja Timur. Diantaranya Gereja-Gereja Katolik Timur adalah: Gereja Katolik Koptik, Gereja Katolik Eritrea, Gereja Katolik Ethiopia, Gereja Katolik Armenia, Gereja Katolik Yunani Albania, Gereja Katolik Yunani Belarusia, Gereja Katolik Yunani Bulgaria, Gereja Katolik Yunani Kroasia & Serbia, Gereja Katolik Yunani Byzantine, Gereja Katolik Yunani Hungaria, Gereja Katolik Yunani Italo-Albania, Gereja Katolik Yunani Makedonia, Gereja Katolik Yunani Melkit, Gereja Katolik Yunani Rumania, Gereja Katolik Yunani Rusia, Gereja Katolik Yunani Ruthenia, Gereja Katolik Yunani Slovakia, Gereja Katolik Yunani Ukraina, Gereja Katolik Khaldea, Gereja Katolik Syro-Malabar, Gereja Katolik Maronit, Gereja Katolik Suriah, dan Gereja Katolik Syro-Malankara.

REFORMASI GEREJA DI BARAT MENGHASILKAN GEREJA PROTESTAN

Pada tahun 1517 seorang Imam Gereja Katolik Roma bernama Martin Luther dari Jerman membuat 95 dalil kesesatan Gereja Katolik Roma pada saat itu menurut dia, lalu pihak Gereja Katolik Roma menuntut Romo Luther menarik seluruh tulisannya, hal ini tidak diindahkan oleh Romo Luther yang berujung pada pemberian surat bulla(ekskomunikasi) dari Paus Roma, Luther dan pengikutnya pun dipisahkan dari Gereja Katolik Roma baik secara administratif ataupun iman. Setelah ini muncul lagi reformator Protestan yang ternama yaitu Yohanes Kalvin seorang ahli hukum. Para umat Gereja Protestan ini baik dari kubu Luther dan murid-muridnya Luther maupun kubu Kalvin dan murid-muridnya dilawan oleh Gereja Katolik dengan Konsili Trente yang berlangsung bertahun-tahun pada abad 16. Gereja-Gereja Protestan khususnya Gereja yang bermula dari reformasi Kalvin juga ikut membuat Sinode-Sinode lokal dan tulisan-tulisan tandingan yang menanggapi keputusan-keputsan Gereja Katolik Roma dalam Konsili Trente. Perang da’lil dan pengajaran iman sangat panas pada masa ini yang juga menjadi faktor perang saudara 30 tahun di Barat khususnya Eropa Barat. Setelah perang selesai dan para bangsawan Eropa memutuskan bahwa setiap rakyat dalam Kerajaan mereka berhak menganut agama secara bebas baik itu Kristen Katolik ataupun Kristen Protestan, akhirnya perang da’lil dan perang darah ini berakhir. Walaupun memang perang da’lil masih berlangsung bahkan sampai sekarang, namun dalam skala kecil.

PASCA REFORMASI

Pasca reformasi di Barat menyebabkan adanya kegerakan-kegerakan Kristen lokal di Inggris(biasanya disebut Kristen Puritan) yang berujung pada kegerakan-kegerakan di Amerika. Hal ini menyebabkan makin pecahnya tubuh Gereja Protestan khususnya di Amerika yang menghasilkan puluhan ribu aliran Gereja yang tercatat di Amerika, hal ini mungkin juga difaktori karena bebasnya kehidupan beragama di sana tanpa kontrol pemerintah. Dari berbagai macam aliran-aliran ini banyak diantaranya yang sudah tidak diakui sebagai Kristen oleh umat Kristen Mainstream, contohnya: Jehovah Witness dan Mormon.

UPAYA PERSATUAN MELAHIRKAN GERAKAN EKUMENISME

Pada tahun 1948 para petinggi Gereja-Gereja dunia membuat suatu kegerakan yang bernama Oikumene(Ekumene/Ekumenisme), yaitu gerakan persatuan umat Kristen yang berbeda-beda pemahaman iman, yang secara lembaga disebut World Council of Churches(WCC) yaitu Konsili Gereja-Gereja Dunia. Adapun anggota dari lembaga ini adalah: Gereja Asiria Timur, Gereja Orthodox Oriental, Gereja Orthodox Timur, dan Gereja-Gereja Protestan. Gereja Katolik Roma walaupun tidak secara resmi bergabung dengan kegerakan ini, namun sering berpartisipasi dengan kegiatan-kegiatan di dalamnya, bahkan Paus Roma mulai dari abad 20 sering memakai Basilika Santo Petrus untuk Vesper(Ibadah senja) bersama umat Kristen lainnya yang non-Katolik.
Setelah ada organisasi ini, pada tahun 1964 Paus Paulus VI bertemu dengan Patriarkh Athenagoras dari Konstantinopel di Yerusalem. Pertemuan ini menghasilkan pencabutan surat kutuk ekskomunikasi kedua belah pihak yang pernah dilayangkan 900 tahun lebih yang lalu. Walaupun secara penuh umat kedua belah pihak belum diperbolehkan menerima Perjamuan Kudus satu sama lain, namun setelah kajadian ini upaya persatuan dari kedua belak pihak mulai meningkat sedikit demi sedikit.

JUMLAH

Secara skala dunia jumlah umat Kristen kira-kira ± 2.42 Miliar umat. Dengan jumlah berdasarkan denominasi(aliran) sebagai berikut: Kristen Katolik(termasuk Katolik Timur) ± 1.2 Miliar umat, aliran-aliran Kristen Protestan ± 900 Juta, Gereja Orthodox Timur ± 300 Juta, Gereja Orthodox Oriental ± 86 Juta, Dll.

DALAM SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA

Kristen Katolik dan Kristen Protestan secara administratif dibedakan, biasanya secara penulisan di KTP untuk Protestan ditulis hanya “Kristen” saja, sedangkan Kristen Katolik ditulis “Katolik”. Hal ini menjadi ambigu di kalangan umat Kristen Indonesia, padahal sejak awal secara politik umat Kristen Protestan dan Kristen Katolik berada di dalam kubu yang sama walaupun pada akhirnya kedua belah pihak secara politik kenegaraan mendirikan partai-partainya sendiri, yang Kristen Katolik mendidikan Partai Katolik dan yang Kristen Protestan mendirikan Parkindo(Partai Kristen Indonesia). Tetapi sebenarnya secara penyebutan kedua belak pihak sama-sama menyebut diri Kristen, adapun umat yang berkata “Katolik bukan Kristen dan Kristen bukan Katolik” ini adalah ambigu yang tercipta dari pemisahan penulisan secara identitas kenegaraan, padahal kalau kita tanya dengan para petinggi Agama Kristen Katolik dan Kristen Protestan sudah tentu tidak akan mengatakan hal konyol seperti itu.
Lalu ada masalah ambigu juga dengan Gereja Orthodox Timur. Gereja Orthodox Timur hadir ke Indonesia pada tahun 1988 oleh seorang Imam Gereja Orthodox bernama Romo Daniel Byantoro. Secara administrasi kenegaraan pada tahun 1996 lembaga Gereja Orthodox Indonesia(payung hukum bagi lembaga Gereja Orthodox Timur di Indonesia) diresmikan oleh Kementrian Agama, BIMAS KRISTEN(PROTESTAN) dengan UU hukum pemerintah: SK Dirjen Bimas Kristen Depag R.I. no.: F/Kep/Hk.00.5/19/637/1996, lalu pada tahun 2006 dengan SK Depag.R.I. No. DJ.III/Kep.HK.00.5/190/3212/2006. Secara administratif kenegaraan DI INDONESIA, Kristen Orthodox Timur bernaung di bawah lembaga Kristen Protestan, namun secara pengajaran dan praktik sudah tentu sangat-sangat berbeda.

KESIMPULAN

Berhenti menjadi konyol dengan mempercayai perkataan tak berdasar dari orang lain, dan MULAILAH BELAJAR SEJARAH !

Source:
Sejarah Gereja
Eastern Catholic
Oikumene
Jumlah umat Kristen Keseluruhan
Jumlah umat Orthodox Timur
Jumlah Umat Katolik

Penulis: Ephitimia

kresten