Malaikat dan orang-orang Majus dari Timur.

Ilustrasi by: Timothy Aditya Riyoza

Matius 2:1-12
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Ketika Natal telah tiba, pembicaraan mengenai kelahiran Yesus dengan berbagai pengajaran selalu dibicarakan di Gereja-gereja, guna untuk mengingatkan semua orang bahwa pernah lahir Mesias di dunia ini.
Pada tulisan saya yang ini, saya ingin membahas, sesuatu yang tabu. Bahkan mungkin yang jarang kita ketahui dan dengar di Gereja saat Natal. Yaitu kehadiran sosok Malaikat dengan orang-orang Majus.

Menjelang akhir Oktober kemarin 2018(saya lupa tanggalnya) Tuhan berbicara kepada saya di sore hari, dengan sedikit kalimat seperti: siapakah orang-orang Majus ini?

Dengan perkataan yang seperti itu, saya berusaha mencari tau secara teliti siapa orang-orang Majus ini melalui Alkitab dan berbagai sumber di Internet. Tidak banyak sumber di Alkitab mengenai orang-orang Majus ini, tapi puji Tuhan, Hikmat membuka pikiran saya tentang peristiwa ini untuk menuliskannya.

Cobak mari kita berpikir sejenak mengenai ini. Apa kalian pernah bertanya-tanya, siapa orang Majus ini? Mengapa mereka bisa datang ke Israel hanya untuk bertemu bayi Yesus? Siapa yang memberitahu orang-orang ini? Atau pertanyaan-tanyaan lain yang mungkin kalian sedang pikirkan?
Dan inilah yang ingin saya beritahukan kepada kalian yang ingin mengetahuinya melalui tulisan saya yang sederhana ini.

Pertama-tama kita perlu mengetahui terlebih dulu latar belakang orang-orang Majus ini.

Kata Majus adalah sebutan bagi para pengikut Agama Zoroaster. Yang diajarkan lewat seorang Nabi orang Persia bernama Zarathustra pada abad ke 6SM(mundur 600 tahun sebelum kelahiran Yesus)
Mereka juga menyembah Dewa yang bernama Ahura-Mazda, dalam bahasa Indonesia artinya Dewa yang bijaksana.

Inilah yang menjadi pertanyaan besar yang jarang dibicarakan di Gereja ketika hari Natal.
SADARKAH ORANG-ORANG MAJUS INI? Sehingga mereka datang jauh-jauh untuk menyembah dan memberikan harta benda mereka kepada bayi Yesus? Apa yang menyebabkan mereka semua melakukan itu ?

Namun sebelum saya menjelaskan secara mendetail lagi, perlu diketahui lagi terlebih dulu. Bahwa orang-orang Majus ini datang dan menyembah Yesus hanya sebagai Raja orang Yahudi, tidak lebih. Itulah yang tertulis dalam: Matius 2:2
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, RAJA ORANG YAHUDI yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.

Lalu apa yang menyebabkan orang-orang Majus ini melakukan semua ini?

Jawabannya yaitu Malaikat Tuhan. Lalu dimana kata Malaikat di satu Perikob tersebut ? Sepertinya tidak disebutkan kata Malaikat?

Kata BINTANG yang tertulis dalam Matius 2:2,7,9,10 dan 12. Adalah Malaikat Tuhan yang Tuhan utus untuk memberitahukan orang-orang Majus ini, mengenai kelahiran Yesus di bumi.
Saya tidak berspekulasi, Beropini atau Berasumsi sendiri tentang hal ini. Di dalam Alkitab, penyebutan Malaikat terkadang ditulis kata BINTANG, tapi itu hanya sebagian kecil saja dari semua kata BINTANG yang tertulis di dalam Alkitab. Dan Tidak semua BINTANG adalah Malaikat.

Sebagai dasar pembuktiannya, saya akan memberikan Tiga ayat di dalam Alkitab, mengenai Bintang adalah Malaikat, dan Tiga alasan yang secara Logis bahwa hal itu Benar Malaikat.

Pertama: Yesaya 14:12
“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai BINTANG Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Kedua: Daniel 8:10
Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari BINTANG-BINTANG, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.

Ketiga: Wahyu 1:20
Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh BINTANG ITU IALAH MALAIKAT ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”

Apakah ini sudah cukup jelas? Jika yang tertulis dalam Yesaya adalah Bintang biasa, bisakah Bintang mengalahkan bangsa-bangsa ? Jika Bintang yang tertulis dalam Daniel adalah Bintang biasa, mungkinkah Bintang tersebut mempunyai Bala Tentara ? Dan di dalam Wahyu menulisnya, Ketujuh Bintang itu ialah Malaikat.

Jika bukti ayat-ayat itu kurang cukup, maka saya akan memberikan bukti lain secara Logis, supaya mudah dipahami lebih lagi.

Pertama: jika itu bukan Malaikat, maka tidak bisa memberikan informasi yang jelas secara rinci, mengenai kelahiran bayi kepada orang Majus ini:
Matius 2:2
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Perhatikan apa yang dikatakan orang Majus ini, mereka mengetahui kelahiran seorang Bayi sebagai Raja.
Apakah mungkin Bintang biasa bisa memberikan informasi lengkap seperti itu ?
Seorang Astronom memang bisa meramalkan kapan Gerhana terjadi, meteor jatuh ke bumi, melalui perhitungan Matematika yang tepat. Tapi untuk kelahirang seorang anak, apakah seorang Astronom bisa meramalkan kejadiannya secara rinci, lengkap dengan status bayi tersebut? Mustahil bukan.Kedua: bukti kedua adalah Jarak. Jarak bumi dan Bintang itu sangat jauh sekali, banyak variasi mengenai jarak dari bumi ke Bintang. Entah Ratusan juta atau Miliayaran tahun cahaya, saya tidak tau. Yang pasti sangaaaat jauh sekali.
Mungkinkah jarak yang begitu sangat jauh sekali, menuntun orang-orang Majus dari Timur(Persia) ke Yerusalem, sampai ke tempat dimana Yesus itu lahirkan?: Matius 2:1,9: Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem.9: Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Ketiga: Bintang biasa tidak bisa memberikan Sukacita: Matius2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

Ketiga penjelasan secara Logis dan ketiga ayat tersebut, saya rasa sudah cukup untuk membuktikan bahwa Bintang yang dimaksud tersebut adalah sosok Malaikat.

Setelah saya membahas latar belakang dan apa yang menyebabkan orang-orang Majus ini datang dan rela melakukan semua ini, maka saya akan mengajak kalian masuk lebih dalam lagi. Yaitu, apakah makna dan penjelasan dari semua Kajadian ini?

Tuhan pasti mempunyai maksud mengutus Malaikat-Nya kepada orang-orang Majus ini.
Karena tidak mungkin orang yang beda Negara, Agama dan Budaya. Rela dan mau datang jauh-jauh, hanya untuk melakukan semua ini.

Ada dua hal lagi, yang sangat perlu diketahui, dari kedatangan orang-orang Majus ini. Yaitu?

Penjelasan Pertama: menjadi saksi sejarah kelahiran Yesus di Dunia: 2 Korintus 13:1
Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.

Dengan pembuktian diluar orang-orang Israel, maka sejarah ini sangat Valid buktinya.
Banyak penafsir yang mengatakan, kalau jumlah orang-orang Majus ini Tiga, karena bukti persembahan yang mereka berikan kepada Yesus, yaitu Emas, Kemenyan dan Mur.
Ada yang mengatakan jumlah orang Majus itu 4 atau bahkan 40 orang Majus.
Saya tidak mempermasalahkan jumlahnya berapa, yang jelas atas kesaksian 2 atau 3 orang maka sejarah ini benar adanya, dan kelahiran Yesus ini disaksian oleh orang diluar Israel.

Kedua: kelahiran Yesus di dunia ini, atau yang dikenal sebagai hari Natal. Tidak hanya menjadi Sukacita bagi orang-orang Israel/Kristen semata. Melainkan orang yang jauh diluar kita yang sama sekali tidak mengetahui hal ini harus menjadi Sukacita bagi mereka semua. Inilah yang Tuhan mau dan makna terdalam dari Matius 2:1-12 ini.

Hari Natal harus menjadi Sukacita bagi semua orang, itulah arti kedatangan orang-orang Majus ini.
Apakah Gerejamu memikirkan ini? Banyak sekali Gereja-Gereja diluar sana. Baik itu Gereja besar atau Kecil. Mereka mengundang siapa saja untuk datang pada hari Natal, namun menekankan sebuah HADIAH MELALUI UNDIAN.
Bukankah ini sangat MEMALUKAN ? Apakah dengan cara ini, orang tersebut pulang dan mengingat Hadiahnya, ketimbang Yesus?
Tidak salah berbagi di hari Natal, kalau bisa lakukan aksi Sosial, keluar dari Gereja. Berikan sesuatu, yang sepantasnya apa yang pantas untuk diberikan kepada mereka.
Ingatlah, bahwa orang-orang Majus ini keluar dari tempat tinggalnya(Persia) datang ke Betlehem dan memberikan sesuatu kepada Bayi Yesus.

Maka kelahiran Yesus begitu sangat mendalam dan berarti bagi umat Manusia. Tidak peduli kaya atau miskin, jauh atau dekat, Ia tetap memberitakan Sukacitanya kepada siapa saja yang Ia Kehendaki’Nya. Namun ingat, meski saya mengatakan bahwa kelahiran Yesus menjadi Sukacita bagi banyak orang, tapi tidak bagi Raja Herodes, Imam Kepala dan Ahli Taurat. Yang sebagai simbol keangkuhan hidup keagamaan mereka dan status sosialnya sebagai raja.

Sekiranya damai dan sukacita turun atas kita semua.

Penulis: Gabriel R

BalasTeruskan
Tak Berkategori

Allah Maha Hadir

Sumber Gambar: http://www.lutherplace.org

Renungan Hari Ini

Salah satu pertanyaan yang paling menantang sebagai pengikut Yesus adalah pertanyaan ini, “Dari mana Allah berasal?” Secara pribadi, saya tidak menyukai pertanyaan ini karena saya tidak dapat menjawabnya! Allah tidak berasal dari mana pun. Dia telah ada sebelum segalanya yang kita ketahui dan pahami ada. Yohanes memulai suratnya dengan membuat pernyataan bahwa setiap orang harus memutuskan untuk mempercayainya atau tidak. Apakah Allah sungguh nyata? Apakah Yesus adalah Allah dalam bentuk daging? Ini adalah keputusan yang harus dihadapi semua orang di alam semesta. Mereka harus memutuskan untuk mempercayainya atau tidak.  jika Anda masih memperdebatkannya. Anda dapat bertanya, “Bagaimana saya dapat tahu dengan pasti bahwa Allah sungguh ada, dan Yesus benar-benar adalah perwujudan dari Allah?” Pernyataan Yohanes dapat menjadi suatu kebenaran maupun bukan kebenaran. Anda harus memutuskan dengan iman. 

Doa Hari Ini

Ya Bapa di Surga, aku telah memilih untuk menerima Yesus dalam hidupku, dan percaya dalam Nama-Nya. Terima kasih atas hak istimewa yang luar biasa untuk menjadi anak-Mu. Aku tidak memahami segala sesuatu tentang Engkau maupun cara-Mu, tetapi aku akan memercayai Engkau untuk terus memperkuat imanku di dalam-Mu. Terima kasih telah datang ke dunia sebagai Anak Domba Allah yang menebus dosaku! Baptislah aku dalam Roh Kudus. Dalam Nama Yesus aku berdoa, Allah maha hadir

Penulis: Eddy Sigalingging

Tak Berkategori

ULASAN KHOTBAH THE SOUND OF PENTECOST

St. Seraphim of Sarov
Sumber Gambar: http://damascenegallery.com/

Dari perkataan Pdt. Pieter Faraknimella, yang saya tangkap adalah bahwa persentase kekristenan di Amerika turun 12%, namun hanya satu aliran yang tetap bertahan, yaitu Karismatik. Beliau juga berkata bahwa hanya gereja yang mengandalkan Roh Kudus yang akan bertahan, yang berarti hanya gereja karismatik yang mengandalkan Roh Kudus. Gereja-gereja tradisi berarti tidak mengandalkan Roh Kudus karena persentasenya menurun. Saya tidak setuju, karena pada denominasi lain juga mengakui Roh Kudus dan peranannya.

Contohnya adalah perkataan Santo Serafim dari Sarov : “It is the classical teaching of the Orthodox Church, made popular in recent times by Saint Seraphim of Sarov (19th c.), that the very essence of Christian spiritual life, the very essence of life itself, is the acquisition of the Holy Spirit of God. Without the Holy Spirit, there is no true life for man. In spite of our sinfulness, in spite of the darkness surrounding our souls, the Grace of the Holy Spirit, conferred by baptism in the name of the Father and the Son and the Holy Spirit, still shines in our hearts with the inextinguishable light of Christ . . . and when the sinner turns to the way of repentance the light smooths away every trace of the sins committed, clothing the former sinner in the garments of incorruption, spun of the Grace of the Holy Spirit. It is this acquisition of the Holy Spirit about which I have been speaking . . . (Saint Seraphim of Sarov, Conversation with Motovilov). https://www.oca.org/orthodoxy/the-orthodox-faith/spirituality/orthodox-spirituality/the-holy-spirit

Penulis: Devon Josiah

Tak Berkategori

INKARNASI, ALLAH ADALAH KASIH

Father, Son, and Holy Spirit karya Munir Alawi
Sumber Gambar: http://www.fineartamerica.com

Saya dulu pernah berpikir, mengapa Allah kita itu kok mau-maunya jadi manusia? Kok Allah kita itu mau menyatakan diriNya didalam Yesus Kristus. Ada agama yang membangga-banggakan allahnya karena ia menganggap bahwa allah mereka yang tidak pernah kelihatan itu jauh lebih kudus daripada Allah kita. Saya sempat terguncang dengan berbagai pertanyaan dan tudingan dari oknum agama tertentu dan jujur saja sempat mempertanyakan iman saya. Dan juga karena Allah mau turun ke dunia, hal ini lantas menjadi olok-olokan oknum agama tertentu dengan mengatakan bahwa Tuhan kita kok dibunuh ciptaanNya? Mengapa Allah orang Kristen itu mau menampakkan diriNya dan mau dengan repotnya datang ke dunia?

Jawabannya adalah DOSA (Yohanes 8:34, Roma 3:23). Namun mereka yang tetap berkeras hati tetap mengajukan pertanyaan yang menyerang. Mereka beranggapan bahwa jika Allah orang Kristen mau mengampuni dosa umatNya kenapa tidak langsung diampuni saja? Mengapa Allah orang Kristen malah repot-repotnya untuk datang ke dunia, menjadi manusia lemah?

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:1-25), hubungan antara manusia dengan Allah cenderung merenggang, tidak intim seperti sebelum kejatuhan manusia dalam dosa. Dosa yang dilakukan manusia membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dosa juga telah membentuk suatu jurang pemisah antara manusia dan Allah  (Yesaya 59:2) sehingga manusia yang berdosa tidak mampu menjangkau Allah, karena Ia kudus (Yesaya 6:3, 1 Petrus 1:16) Allah memberikan hukuman kepada manusia atas dosa yang diperbuat (Yehezkiel 18:30, Mazmur 62:12-13, Yohanes 5:29, Wahyu 22:12), dosa telah mengikat manusia dan sukar untuk terlepas dari kencenderungan berbuat dosa (Matius 26:41). Setiap saat manusia selalu berbuat dosa baik kecil maupun besar. Allah kita adalah Allah yang maha adil (Mazmur 11:7, Mazmur 116:5, Yesaya 30:18, Yeremia 12:1), sudah layak dan sepantasnya kita mendapatkan hukuman atas dosa yang kita perbuat dan hukuman yang setimpal adalah kebinasaan yang kekal (Roma 6:23). Namun di balik sifat Allah yang Maha adil dan Maha berdaulat itu adapula sifat Allah yang paling utama adalah KASIH (Mazmur 86:15, Roma 5:8, Efesus 2:4-5, 1 Yohanes 3:1, 1 Yohanes 4:10,16) dan bukan sembarangan kasih, bukan kasih eros, fileo ataupun storge, tetapi kasih Agape, kasih sejati yang tidak mengenal perhitungan dan tidak mementingkan diri sendiri serta rela berkorban (Yohanes 15:13). Namun bukankah akan menjadi hal yang bertentangan, antara menyelamatkan manusia berdosa dengan keadilan Allah untuk menghukum manusia?

Untuk itulah Allah mengosongkan diriNya dan menjadi rupa insan (Yohanes 1:14). Ia yang adalah KASIH yang AGAPE itu telah menjadikan diriNya sebagai korban tebusan (Roma 3:25, Yohanes 10:17, Efesus 1:7, Ibrani 7:27)  yang terbaik (1 Petrus 1:18-19) agar manusia yang percaya padaNya diselamatkan (Yohanes 3:16) serta tidak akan dipermalukan (Roma 10:11, 1 Petrus 2:6). Hal ini terjadi supaya keadilan serta kasih daripada Allah itu tidak saling bertentangan.

Allah harus langsung turun tangan untuk menyelamatkan manusia karena manusia yang berdosa adalah sukar untuk menggapai dan memandang Allah yang Kudus itu (Keluaran 33:20) maka dari itu Ia harus turun  dan berinkarnasi menjadi manusia fana seperti kita (Yohanes 1:14, 1 Timotius 3:16, 1 Yohanes 4:2). Dan hanya Ia yang mampu dan layak menyelamatkan kita dari jeratan dosa dan mengantar kita pada Bapa, sebab Ialah yang satu-satunya tak bernoda dan berdosa (Yohanes 14:6, 2 Korintus 5:21).

Meskipun Ia dilahirkan dalam rupa insan, Ia sungguh Allah (Yohanes 1:1, Yohanes 8:58, Yohanes 13:13, Yohanes 20:28, Roma 9:5, Kolose 2:9), bukan setengah Allah bukan setengah manusia tetapi Ia juga sungguh adalah manusia yang utuh seperti kita juga (Matius 4:2, Roma 5:15, 1Timotius 2:5). Ia menunjukkan diriNya sebagai Mesias (Matius 16:16-17, Markus 8:29) dan Jalan Kehidupan (Yohanes 14:6, Yohanes 11:25-26) serta adalah Allah itu sendiri (Yohanes 10:30, Yohanes 8:58) Namun bangsa yang dipilihNya (Keluaran 19:5-6, Ulangan 14:2) justru menolak  diriNya (Yohanes 1:10-11) serta bersepakat untuk menangkap (Matius 26:4, Markus 14:1, Yohanes 18:12) , mengadili (Matius 27:27, Yohanes 18:33) dan menyalibkan Dia (Matius 27:35, Markus 15:24, Lukas 23:33, Yohanes 19:23). Peristiwa penyaliban Yesus ini menjadi suatu momentum dimana Allah yang adil, berdaulat itu mau menunjukkan kasihNya yang Maha Dahsyat (Yohanes 3:16) kepada kita melalui pengorbanan Yesus dan oleh darahNya yang Kudus, dosa kita turut disucikan (1 Yohanes 1:7). Melalui pengorbananNya juga kita yang percaya kepada Kristus beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16, Roma 10:9). Kasih yang dahsyat melalui kematian Yesus dan kebangkitan Yesus, membuat hidup kita telah beroleh pengampunan (Efesus 1:7, Kolose 1:14) sehingga kita layak menjadi anak-anak Allah oleh sebab Yesus Kristus (Galatia 3:26-27, Galatia 4:7) Kita patut bersyukur karena memiliki Allah yang Adil dan juga adalah Allah yang KASIH sebab keselamatan yang daripada Allah bukan hasil usaha kita dan perbuatan baik kita tetapi anugerah semata/ Sola Gratia (Efesus 2:8)

Penulis: Elisa Hendriko Hutabarat (San Gorge Wilayah Kalimantan. Jemaat HKBP Teluk Mulus Ress. Pontianak)

Tak Berkategori

MENGAPA ADA LUKISAN FILSUF YUNANI KUNO DI GUNUNG ATHOS?

Jika kamu penganut Ortodoks Timur maka kamu tidak akan asing dengan Gunung Athos. Ya, gunung yang di atasnya berdiri 20 biara tempat para monachos atau biarawan khusus pria ini terkenal karena begitu ketatnya aturan masuk di sana terutama avaton atau larangan masuk untuk wanita sampai-sampai binatang-binatang besar yang berkelamin betina seperti ayam, sapi, domba, kambing, kuda dan babi pun tidak boleh ada di sana.

Gunung Athos, menurut tradisi dimulai sebagai pusat kebiaraan Kristen sejak Bunda Maria ibu Yesus terdampar di semenanjung itu bersama Rasul Yohanes Penginjil. Karena begitu terpukau dengan keindahan panorama semenanjung itu maka Bunda Maria memohon kepada Anaknya agar semenanjung itu menjadi tamannya dan permintaan itu makbul oleh Kristus sendiri lewat suara dari surga. Sejak itu, gunung ini menjadi suaka bagi yang ingin mengakses keselamatan yang telah dianugerahkan Allah dengan berkarya dalam kebiaraan.
Menariknya, meskipun memiliki nuansa agamis yang kentara, dapat ditemukan mural-mural di sekitar biara yang berbau sekuler. Beberapa mural seperti peristiwa Alexander Agung dan para filsuf seperti Solon, Sybil, Sokrates, Plutarkhos, Homer, Theucydides, Plato dan Aristoteles. Mural-mural ini berada di biara seperti Meteora, Hagia Lavra dan Vatopedi).

Lukisan para Filsuf Yunani Kuno (pra Kristen) di salah satu Biara di Gunung Athos

Pertanyaanya adalah, “mengapa mural-mural sekuler ini bisa ada di tempat yang sakral seperti ini?” Well, jawabannya adalah karena selama periode Ottoman, biara adalah tempat untuk menimba ilmu berhubung sekolah-sekolah berbasis keagamaan dilarang di masa pemerintahan Turki. Akibatnya, biara bukan hanya sebagai tempat menimba spiritualitas tetapi juga pengetahuan yang sifatnya kognitif dan fresko atau mural ini digambar sebagai ilustrasi untuk mempermudah para pelajar yang menimba ilmu di sana. Lalu apa makna mural-mural ini dan apakah tidak bertentangan dengan kehidupan religius biara? Untuk menjawabnya kita perlu tahu apa bagaimana Gereja dalam memandang kehidupan non-religius.
Pertama, mengutip Janasuci Maximos sang Pengaku Iman yang pernah berkata, “tidak ada kejahatan di dalam segala sesuatu, yang jahat hanya ada di dalam penyalahgunaannya” Gereja sama sekali tidak menolak ilmu-ilmu sekuler yang satu bidang dengan para filsuf di mural tersebut. Tidak ada pertentangan antara jiwa-raga di mana yang ragawi harus kalah. Malah sebaliknya, yang ragawi bisa dipakai untuk memuliakan yang rohani dan sebaliknya, rohani memuliakan yang jasmani. Kasus-kasus di mana Gereja bersinergi dengan filsafat, sains, seni, ilmu sosial, dan lain-lain seperti ini sudah mulai marak sejak zaman Romawi-Yunani hingga dunia modern saat ini seperti uskup ROCOR Alm. Alexander Mileant (1938-2005) yang adalah pasca-sarjana teknik elektronika yang bekerja di laboratorium pengembangan propulsi pesawat jet NASA sekaligus penulis 300 pamflet penginjilan dalam 4 bahasa dan uskup Nicholas Hatzinikolaou (1954-) dari Gereja Yunani yang pernah menjadi peneliti kardiovaskular dan medis luar angkasa untuk NASA.

Kedua, para filsuf sendiri memang mengajarkan filosofi duniawi. Tapi, jika dipakai dengan benar akan mengantarkan kita pada kebenaran Kristus sehingga para filsuf ini berjasa dalam perkembangan teologi kekristenan karena karya-karya mereka dapat dipakai untuk memahami, menjabarkan dan membela pemahaman terhadap wahyu Tuhan. Karya-karya mereka berkontribusi untuk kemajuan umat manusia yang ujungnya adalah demi kebaikan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Namun sekali lagi, jika penggunaannya baik dan benar.
Oleh karena itu, adalah hoax jika iman membunuh akal budi, membinasakan kreativitas, dan memupuk fanatisme buta. Mari kita berdayakan akal budi, nurani, dan kehendak bebas kita agar bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan lewat kasih dengan sesama sesuai dengan talenta masing-masing supaya kelak ketika kita di hadapan tahta Anak Domba perbuatan kita bisa menjadi pertanggungjawaban yang baik. Tuhan memberkati.
Sumber:
• Data tentang Gunung Athos: Wikipedia Bahasa Inggris
• Data tentang mural filsuf: John Sanidopoulos dalam wordpressnya (johnsanidopoulos.com)

Special thanks to: Innokentios Chang, Seminarian Orthodox
Penulis: Andreas Henry Kurniadi

Tak Berkategori

Pengantar Kitab Habakuk

Jika melihat dari kitab Habakuk secara langsung, diperkirakan Habakuk hidup di sekitar abad ke-7 SM, sezaman dengan Nabi Yeremia, Zefanya dan Nahum[1]. Sangat minim penjelasan mengenai latar belakang Nabi Habakuk di bagian lain alkitab. Namun, dalam Deuterokanonika, nama Habakuk sempat disebut sebagai yang memberi makan kepada Daniel ketika Daniel berada dalam gua singa (Dan 14:33-39). Sedangkan, dalam LXX (Septuaginta), pasal 1:1 diberi tambahan “anak dari Yesus, seorang imam Lewi”[2]. Saya sendiri lebih condong ke LXX, alasannya akan saya kemukakan kemudian.

Menafsirkan pasal 3 tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan 2 pasal sebelumnya. Dalam pasal 1, Habakuk menyadari realita kebobrokan Yehuda dan meminta Tuhan menunjukkan keadilan-Nya. Habakuk gelisah akan diamnya melihat terjadinya kekerasan dan penindasan yang dilakukan orang fasik (Hab 1:2-4). Tuhan menjawab kegelisahan Habakuk tersebut dengan mengirim orang Kasdim sebagai penakluk Israel (Hab 1:5-11). Ini kiranya menggambarkan situasi kebangkitan Imperium Babilonia (orang-orang Kasdim) pasca runtuhnya Imperium Asyur. Menariknya, hal ini menimbulkan keterkejutan yang tak kalah hebat dengan yang pertama. Habakuk kembali mempertanyakan keputusan Tuhan memilih bangsa yang sama bobroknya dengan Yehuda untuk menghukum mereka (Hab 1:12-17). Habakuk melihat bahwa tindakan Tuhan mengirim orang Kasdim yang bengis tidaklah sesuai sifat Tuhan yang penuh kasih dan keadilan (Hab 1: 12-13).

Keterkejutan dan pertanyaan Habakuk awalnya tidak mendapatkan jawaban sehingga ia menantikan di tempat pengintaian. Pada zaman kerajaan, sangat lazim sebuah kota membangun benteng-benteng perlindungan. Dalam benteng perlindungan tersebut, didirikan juga menara pengintaian yang jauh lebih tinggi dari bagian benteng lain sehingga pengintai dapat melihat kedatangan musuh dari jauh. Di menara seperti inilah Habakuk mencari jawaban Tuhan dan mendapatkannya (Hab 2:1-2). Tuhan pun memberi ia jawaban atas tindakanNya memilih orang Kasdim. Tuhan meminta Habakuk untuk menunggu saat dimana hukuman atas orang-orang jahat akan menimpa mereka (Hab 2:3-5). Dari teks ini, kita melihat bahwa Tuhan memang menggunakan orang lalim untuk mewujudkan kehendak-Nya, namun itu tidak berarti Tuhan setuju atas perbuatan lalim mereka. Disini juga terasa pengaruh tradisi imamat dalam pasal 2:6-20. Di sini, Habakuk menuliskan kembali perintah Tuhan dan hukuman bagi yang melanggarnya. Hal inilah yang membuat saya condong dengan pendapat LXX karena jika memang Habakuk adalah anak seorang imam, sangat mungkin pemikirannya mengikuti tradisi imamat yang sangat menekankan unsur legal berdasarkan Torah.

John J Collins berusaha melihat keterkaitan bagian ini dengan konteks waktu itu. Collins melihat bahwa kesia-siaan akan berhala yang ditunjukkan pada ayat 19-20 menggambarkan situasi zaman deutro-Yesaya yang menghadapi polemik penyembahan ilah-ilah lain oleh bangsa Yehuda (Bdk 44:9-20)[3]. Penghukuman yang akan menimpa Babel juga dilihat sebagai kemiripan dengan nubuatan hukuman terhadap Asyur yang tertulis dalam Yesaya 10[4].

Pasal 3 sendiri berisi nyanyian ungkapan iman atas jawaban dan tindakan Tuhan yang digambarkan dalam pasal 1-2. J A Telnoni membagi pasal ini menjadi 3 bagian yaitu bagian pertama (Hab 3:1-7), bagian kedua (Hab 3:8-13) dan bagian ketiga (Hab 3:14-19)[5]. Disini Telnoni berbeda dengan TB-LAI yang tidak membagi pasal ini dalam perikop-perikop seperti dua pasal sebelumnya. Saya sendiri lebih memilih untuk membagi pasal ini sesuai dengan bentuk awalnya yaitu madah. Hal itu saya lakukan dengan memperhatikan kata sela pada teks ini. Hasilnya, saya membagi teks ini menjadi 4 bagian juga dengan beberapa perbedaan yaitu bagian pertama (Hab 3:1-3a), bagian kedua (Hab 3:3b-9a), bagian ketiga (Hab 3:9b-13) dan bagian keempat (Hab 3:14-19).

Bagian pertama menceritakan secara singkat bagaimana Habakuk menyadari bahwa tindakan Tuhan atas bangsa-bangsa, termasuk Israel, sedang terjadi. Kata T’eman disini diartikan Telnoni sebagai badai yang terjadi di Selatan sebagai wujud kekuatan Tuhan atau jalur masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan pasca eksodus[6]. Pegunungan Paran sendiri menunjuk pada pegunungan yang menjadi tempat Bangsa Israel tinggal setelah peristiwa di gunung Sinai. Bertolak dari pendapat Telnoni, saya berpendapat bahwa penulis berusaha menunjukkan bahwa Allah kembali turut bertindak menyelamatkan umat-Nya layaknya peristiwa eksodus.

Perasaan takjub akan tindakan Allah yang muncul pada bagian pertama, diperkuat oleh bagain kedua. Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang mengatasi langit dan lautan serta menimbulkan ketakutan terhadap bangsa-bangsa. Penggambaran dalam ayat 9a saya kira sengaja dituliskan untuk menunjukkan bahwa Allah telah siap “berperang” melawan musuh-musuh umat-Nya. Ini juga lekat dengan penggambaran YHWH oleh bangsa Israel yang seringkali diindentikkan dengan dewa perang.

Bagian ketiga juga berusaha mengingatkan bangsa Israel akan kedahsyatan kekuatan Allah yang berkuasa atas alam (Sungai, Gunung, Air, Matahari). Kedahsyatan ini kemudian diarahkan untuk menghukum musuh-musuh dan menyelamatkan orang yang diurapi Tuhan (Hab 3:13). Allah kembali lagi digambarkan sebagai penghukum bangsa-bangsa yang lalim meskipun bangsa tersebut digunakan Allah sebagai alatnya.

Bagian keempat, mirip seperti konklusi dan penutup. Menyadari akan kedahsyatan dan besarnya kuasa serta kasih Tuhan, membuat Habakuk yakin dan takjub akan janji Tuhan (Hab 3:16a). Ketakjuban inilah yang mendorong untuk tetap setia dan taat menunggu pemenuhan janji Allah meskipun ia berada dalam kondisi terpuruk (3:16b-17). Kondisi terpuruk ini kemudian tidak ia jadikan alasan untuk meninggalkan Tuhan melainkan ia memilih tetap setia dan bersukacita menanti janji Tuhan (3:18-19).

Catatan kaki:

[1] Blommendaal, J (diterjemahkan oleh: Naipospos, P.S)., Pengantar kepada Perjanjian Lama. (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967). Hlm 107

[2] Bergant, Dianne dan Karris, Robert J (diterjemahkan oleh: Hadiwiyata, A. S)., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. (Yogyakarta: Kanisius, 2002). Hlm 689

[3] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333.

[4] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333

[5] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 105

[6] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 111

Penulis: Qohelet

Tak Berkategori

Kekristenan Dalam Al-Qur’an

Raja Al-Harith V
Seorang Raja dari Kerajaan Kristen yang bernama Ghassan, terletak di tanah Arabia. Kerajaan ini lalu jatuh ke dalam kekuasaan Kekhilafahan Islam.
Sumber gambar: http://www.royalghassan.org

Al-Qur’an sebagai kitab suci sekaligus world view dari umat Muslim seringkali menjadi dasar yang menentukan sikap Muslim terhadap agama lain hingga hari ini. Pada dasarnya di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat inklusif yang mendukung kedamaian dalam hidup berdampingan dengan agama yang lain. Namun di lain sisi ada juga ayat-ayat yang bersifat ekslusif dan bersifat mengkritik ajaran agama lain. Kritik ini seringkali dipandang sebagai penghambat dalam hidup berdampingan dan merusak kebijakan modern yang menjunjung tinggi sikap respek dan toleransi. Untuk itu hal yang kerap menjadi polemik itu harus diduskusikan agar dapat membangun dasar bagi dialog inter religius di era modern ini.

Ambivalensi sikap terhadap yang lain seringkali ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Misalnya pada QS 2:62 ditunjukan sikap yang simpatik berkaitan dengan jaminan keselamatan bagi yang lain. hal ini berlaku bagi orang yang percaya pada Tuhan dan melakukan perbuatan baik. Selain itu dalam QS 2:265 dan QS 190:5, kita dapat melihat bagaimana visi kebebasan beragama dijunjung dalam Al-Qur’an. Di sisi lain ada juga ayat Al-Qur’an yang bersifat sangat ekslusif, yang menganggap bahwa hanya Islam lah satu-satunya jalan menuju keselamatan (QS 3:19; 3:85; 5:3). Pada bagian tertentu (QS 5:17 dan 72) menunjukan kritik terhadap keliahian Yesus. Dibagian lain ada juga kritik terhadap doktrin Trinitas (QS 4:171; 5:73; dan 5:116) yang mana dalam Qur’an mereka memahami bahwa Tuhan disetarakan dengan Yesus dan Maria sebagai tiga persona dalam trinitas. Hal ini membuat kebanyakan Muslim mencoba menyerang Kekristenan dan Yahudi dengan keyakinan bahwa kitab mereka (yahudi dan kristen) telah dipalsukan. Walaupun demikian Al-Qur’an mengakui kitab-kitab suci yang telah ada sebelumnya (torah, injil, zabur, suhuf, dan alwah) bahkan dipandang sebagai sesuatu yang memberikan bimbingan dan cahaya. Penyelewengan terhadap perintah kitab suci serta asumsi bahwa kitab suci umat yahudi dan kristen telah dipalsukan akhirnya melatarbelakangi lahirnya teks-teks ekslusif. Lalu bagimana menyelesaikan ambivalensi sikap ini?

Untuk menyelesaikan ambivalensi ini ada dua strategi yang dilakukan oleh kalangan tradisonalis. Yang pertama adalah melihat sebab munculnya suatu wahyu (Asbab al nuzul) dalam hal ini konteks historisitas wahyu coba digali dengan metode eksegesis. Hal yang menjadi masalah dalam hal ini adalah perbedaan pendapat yang kontradiksi antara penafsir yang satu dengan yang lain. Strategi yang kedua adalah dengan melihat ayat yang membatalkan dan dibatalkan (al-nasikh wal mansukh). Dalam strategi ini ayat Alquran yang menjadi wahyu mula-mula dapat dibatalkan atau menjadi inactive oleh wahyu yang datang kemudian. Kedua strategi ini dapat dipahami sebagai upaya memahami kronologi fase-fase kehidupan yang dialami oleh Muhammad. Pada periode Mekah ketika agama Islam baru lahir dan masih lemah, sikap toleransi menjadi hal yang dijunjung tinggi, bahkan mereka sangat bersahabat dengan orang Kristen dan Yahudi. Julukan yang diberikan kepada kristen dan yahudi pun sangat ramah yakni “Ahl al kitab”. Akan tetapi ketika masuk ke periode Madinah, Muhammad mengalami perjumpaan yang berbeda dengan orang Kristen dan Yahudi disana. Karena kontak yang demikian besar dengan populasi umat Yahudi yang cukup banyak hal ini menjadi tema utama dalam periode Medinah. Klaim otoritatif atas teks kitab suci menjadi hal yang dikompetisikan antara Islam dan Yahudi. Belum lagi penolakan terhadap wahyu yang dibawa oleh Muhammad membuat ayat tertentu dalam Al- Qur’an merespons dengan keras agama yang lebih tua (Yahudi dan Kristen). Kemudian berdasarkan penelitian Angel Neuwirth jika kita membandingkan teks tentang Yesus dalam surah madinah (Surah al maryam) dan surah mekah (surah al imran), maka kita akan menjumpai agenda politis untuk melemahkan dominasi Yahudi di Medinah yang menganggap bahwa mereka telah menyalibkan Yesus sang Mesias. Dalam surah Medinah dikatakan bahwa Yesus tidaklah mati disalibkan, hal ini tentu saja sasaran utamanya bukan untuk mengkritik kekristenan tapi mengalahkan umat Yahudi. Dalam periode ini juga konsep teologi kekristenan berkaitan dengan Yesus dan Maria menjadi kontroversi. Walaupun demikian dalam sura Al maida (QS 5:48) pluralisme agama dipandang sebagai sebuah misteri ilahi yang harus diterima demi kemulusan relasi di ruang publik.

Pendekatan lain yang dapat digunakan selain kedua strategi di atas adalah heretical explanation yang dilakukan oleh para sarjana. Berdasarkan pendekatan ini, Quran sebenarnya tidak mengkritik doktrin Alkitab tentang trinitas tetapi mengkritik doktrin trinitas yang dibuat oleh beberapa sekte sesat dari kekristenan. Hal ini bisa dikatakan sebagai kesalahpahaman Islam dalam memahami doktrin kekristenan. Namun hal ini juga tidak sepenuhnya salah karena keristenan mempunyai beragam konsep tentang trinitas. Pandangan lain berpendapat bahwa teks tersebut berangkat dari praktek devosional yang dilakukan oleh orang Kristen yang mengkultuskan Maria. Praktek ini dilakukan oleh kalangan yang bernama Collyridians yang menganggap bahwa ada tiga tuhan : yakni Bapa, Putra, dan Maria. Rupanya sekte sesat ini nampaknya juga sempat ditentang dengan keras oleh St. Epiphanius of Salamis. Para sarjana juga mengatakan bahwa hal ini cukup wajar karena Arabia yang saat itu dikenal sebagia sumber ajaran sesat.

Dari sini kira bisa melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan staregi retorikal dan mengangkat pernyataan yang polemik guna memenangkan argumen melawan kalangan/orang yang menolaknya. Dari beragam pemaparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa pertama polemik Al-Qur’an terhadap orang Yahudi dan Kristen menunjukan sejauh mana Muhammad mengenal sejumlah besar istilah agama dan budaya dari komunitas yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu menurut para sarjana wajar jika Al-Qur’an meminjam istilah-istilah dari sumber Yahudi dan Kristen. pointnya bukanlah untuk membuktikan atau menolak teori “pinjaman” tetapi untuk menekankan bahwa studi polemik kitab suci sangat membantu dalam upaya merekonstruksi skenario agama periode awal dalam pengembangan komunitas agama. Kedua asal-usul Islam tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan pola interaksi antara agama monoteistik .Oleh karena itu polemik dalam kitab suci perlu direfleksikan dan di-reinterpretasikan dalam terang keberagaman agama di era modern.

Karya ini adalah resume dari buku:

“Other Religions” By Mun’im Sirry dalam The willet blackwell company to the Quran, second edition. edited by: Andrew Rippin and Jawid Mojaddeli.

Penulis: Eirens Josua Mata Hine

Tak Berkategori