Menyadari kematian, membuka diri terhadap yang lain, dalam realitas acak yang membingungkan: pandangan teologi berdasarkan pembacaan Pengkhotbah 9:1-12

Pendahuluan: gambaran umum

Dalam agama Israel kuno, terdapat tiga kelompok yang memiliki pandangan-pandangan terhadap hukum Taurat yaitu Imam (penjaga Taurat), Nabi (pelaksana Taurat) dan tradisi hikmat (penafsir taurat). ketiga ini tradisi ini saling berkait kelindan dalam alkitab (bersama dengan golongan apokaliptik yang terkemudian). Pengaruh golongan hikmat sendiri mulai terasa sejak zaman para raja dimana saat itu golongan hikmat dijadikan penasihat disamping golongan imam yang memimpin upacara ritus dan golongan nabi yang melakukan reformasi terhadap masyarakat israel dengan membawa visi profetik dari Tuhan.

Wim Van Der Weiden melihat kemungkinan bahwa Salomo-lah yang memulai tradisi hikmat dan hikmat dengan “mengimpor” tradisi intelektual Mesir yang waktu itu adalah sekutu Israel dan mendirikan sekolah kepegawaian yang mirip dengannya. Tradisi ini kemudian terus-menerus berkembang karena posisinya yang dekat dengan kalangan bangsawan. Tradisi ini jugalah yang mengalami alkuturasi paling banyak dengan budaya dari negeri-negeri sekitar ABDk (Asia Barat Daya kuno) karenanya sifatnya yang lebih inklusif dibanding 2 golongan lain. Pasca pembuangan dan kembalinya bangsa Israel ke tanah Palestina, tradisi hikmat juga mengalami perkembangan sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai keyahudian dalam menghadapi banyaknya pemikiran lain dari luar Israel. Inilah konteks sosial historis yang dihadapi oleh penulis tradisi-tradisi terkemudian, termasuk penulis (dan editor) kitab pengkhotbah.

Titik tolak: Pandangan Barth tentang golongan hikmat

Dari antara tiga golongan ini, golongan hikmat lah yang muncul kemudian sebagai penyeimbang dari kekuatan dua golongan lain. Barth sendiri melihat bahwa golongan hikmat berusaha mengkritisi teologi-teologi yang mengklaim diri sebagai kebenaran mutlak. Barth juga melihat bahwa ajaran-ajaran yang dibawa oleh golongan Hikmat lebih berpatokan dari pengalaman dan realita kehidupan yang dihadapi masyarakat Israel waktu itu. Golongan-golongan tumbuh pesat di Yerusalem yang waktu itu menjadi pusat ekonomi, pendidikan dan keagamaan.

Hikmat sendiri awalnya diajarkan oleh orangtua kepada anaknya sebagai upaya pembentukan karakter. Hikmat dipandang sebagai upaya yang perlu dilakukan manusia untuk dapat melihat dunia secara lebih luas, untuk kemudian memahaminya dalam terang Firman Tuhan. Yang menarik dari golongan ini menurut Barth juga adalah pandangannya terhadap kekuasaan, yang dalam hal ini adalah raja. Raja tidak selalu disetujui pandangan, namun kehadiran seorang raja tetaplah dihargai sebagai penguasa. Pengajaran yang disampaikan golongan hikmat juga tidaklah didasarkan atau mengutip langsung wahyu Allah dalam bagain lain kitab taurat, namun lebih kepada pengalaman kehidupan.

Kritik terhadap Barth

Barth perlu diakui dan diapresiasi usahanya dalam mendefinisikan apa pola teologi yang dibawa oleh kaum Hikmat dan pengaruhnya dalam agama Israel Kuno. Sayangnya, penjelasan Barth pada golongan ini masih kurang mendalam bila dibandingkan dengan penjelasan Barth tentang pola berteologi kedua golongan lain. Selain itu, Barth saya lihat belum menangkap bahwa ada perbedaan-perbedaan konsep teologi para hikmat, terutama dalam menafsir hukum taurat.

Kemudian, saya juga melihat pertentangan dalam gaya berteologi antara golongan imam dan nabi dengan golongan hikmat masih belum diekspos oleh Barth dengan baik. Padahal, jika pertetangan ini diperlihatkan lebih detail lagi, maka pembacaan dan perbandingan antara teks-teks tradisi imam, nabi dan golongan hikmat akan lebih kontekstual. Hal itu dapat terjadi karena jika pertentangan telah lebih jelas dan tajam, proses berteologi untuk menghasilkan teologi-teologi tersebut dapat lebih terlihat, untuk kemudian diproses lagi, baik dalam bentuk dekonstruksi maupun di rekonstuksi untuk membentuk teologi baru.

Pengantar: latar belakang keseluruhan kitab pengkhotbah

Seperti lazimnya kitab-kitab lain dalam alkitab, kitab pengkhotbah juga memiliki masalah terkait pertanyaan siapakah yang mengarangnya. Tafsiran tradisional yang berangkat dari pengetahuan umum mengenai alkitab akan berpendapat bahwa kitab ini dikarang oleh Raja Salomo. Pendapat ini didukung oleh ayat 1 dan 12 dari pasal pertama dalam kitab ini yang berbunyi:

 דִּבְרֵי קֹהֶלֶת בֶּן-דָּוִד, מֶלֶךְ בִּירוּשָׁלִָם1 1

Transliterasi: divarey qohelet ben-dawid, melek birusyalam

TB-LAI: inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem

NKJV: The words of the Preacher, the son of David, king in Jerusalem.

EGS: Perkataan-perkataan Kohelet, anak Daud, Raja di Yerusalem.

Dari ayat tersebut, beberapa pembaca biasanya langsung mengasumsikan bahwa penulis kitab ini adalah anak Daud yang menjadi raja di Yerusalem yang tak lain adalah Salomo. Pendapat ini biasanya disertai penjelasan bahwa Salomo menuliskan kitab ini dalam usia tuanya pasca ia bertobat atas sikap menyembah berhalanya (1 Raj 11:1-43).

Namun melalui beberapa metode tafsir, ditemukan adanya ketidak-cocokan antara isi kitab ini dan pendapat bahwa Salomo-lah pengarang kitab ini. Emanuel Gerrith Singgih pun dalam bukunya menunjukkan beberapa alasan mengenai kemungkinan tersebut. Alasan yang menjadi sorotan saya adalah alasan gaya bahasa dan penulisan. Singgih melihat gaya bahasa dan penulisan kitab ini terkesan lebih “modern” dengan adanya serapan bahasa yang sekiranya belum ada di zaman Salomo. Kemudian, keunikan kitab ini yang sebagian besar mengkritik ajaran hikmat tidak sesuai dengan konteks historis Salomo yang mana tradisi hikmat belum cukup mapan untuk setidaknya dikritik. Saya melihat kedua alasan ini menjadikan penjelasan akan konteks sekitar penulisan kitab Pengkhotbah dan posisinya dalam golongan hikmat menjadi lebih jelas.

Berkaitan dengan konteks historis kitab Pengkhotbah, para penafsir seperti misalnya Singgih dan Van der Weiden melihat bahwa kitab ini ditulis pada sekitaran abad 3 SM yaitu ketika paham helenis mulai menyebar di wilayah ABDk, yang termasuk wilayah Imperium Yunani. Van der Weiden kemudian bertolak lebih jauh dengan melihat ideologi penulis yaitu usaha mengintegrasikan tradisi hikmat Yahudi dengan ajaran filsafat Yunani yang masuk ke Israel.

Seperti lazim ditemukan dalam metode kritik naratif, penulis suatu teks dalam alkitab tidaklah selalu sama dengan pengarang teks tersebut. Hal ini ditunjukkan lagi dalam ayat 1 pasal 1 yang terkesan seperti pengantar dan pembuka yang diberikan untuk memasuki suatu paparan dan ayat 9-13 pasal 12 yang terkesan seperti sebuah penutup dan tanggapan oleh orang yang berbeda dengan yang memberikan paparan di ayat-ayat sebelumnya. Atas dasar hal inilah maka saya berani berpendapat bahwa pengarang kitab Pengkhotbah tidaklah sama dengan orang yang mengumpulkan dan mengedit hingga sampai ke bentuk sekarang (lazim disebut editor).

Mengenai adanya kemungkinan bahwa penulis dan editor adalah orang yang berbeda, Singgih melihat indikasi bahwa telah ada perbedaan pandangan teologis yang bertumbukan kemudian mencapai bentuk final dalam kitab ini. Adapun pandangan teologis yang “diselipkan” editor kemungkinan ada dalam Pkh 12:1-7 &12-14 yang lebih bernuansa eskatologis dibandingkan dengan bagian lain. Hal ini dapat dilihat dari penekan yang ada dalam bagian ini yang lebih menekankan hukuman Tuhan atas mereka yang tidak mau taat akan perintah Tuhan dan malah menyibukkan diri mencari pengetahuan.

Salah satu yang menjadi ciri khas kitab Pengkhotbah adalah digunakannya pemikiran-pemikiran Yunani/Helenis dalam kerangka berteologinya. Adapun ajaran filsafat Yunani yang sangat jelas terasa pengaruhnya adalah ajaran untuk menikmati kehidupan. Kehidupan, bagi Pengkhotbah adalah sesuatu yang singkat, namun justru karena itulah kehidupan menjadi berharga. Ini tidak serta merta menjadikan Pengkhotbah adalah seorang yang menolak pemikiran Yudaisme. Malahan, ia mencoba menawarkan prespektif baru dalam melihat realita kehidupan dan bagaimana hal tersebut berkolerasi dengan kehadiran Allah dan kuasa-Nya. Singgih dalam buku Dunia yang Bermakna melihat bahwa dalam penulisan kitab Pengkhotbah, antitesa antara pemikiran Yudaisme yang dinamis dan pemikiran Helenis yang statis dipertemukan dan kemudian menghasilkan dialektika sifatnya kolaboratif. Helenisme yang masuk dan hadir bukannya ditentang mati-matian dan dianggap sebagai ajaran yang merusak keimanan namun dipakai untuk membaca pemikiran Yudaisme yang dalam beberapa titik menemukan celah dan kekosongan secara makna.

Intermezzo: menyoal sebutan “Pengkhotbah”

Kebanyakan penafsir, terutama yang bertolak dari prespektif historis kritis, melihat bahwa penggunaan kata “pengkhotbah” (bhs ingg: Preacher, bhs Jer: der Prediger) masih kurang tepat menangkap makna dari kata aslinya yaitu Qohelet (קֹהֶלֶת) dalam bahasa ibrani dan Ecclesiastes (Εκκλεσιαστες) dalam bahasa Yunani LXX. Saya melihat, penggunaan kata pengkhotbah dalam kebanyakan terjemahan alkitab tak lain adalah upaya mempermudah pembaca awam yang konteksnya lebih banyak ada dalam lingkup Gereja. Tentulah dengan persona yang dibangun ketika membaca Kitab ini akan menggiring jemaat pada imaji seorang “pengkhotbah” yang menyampaikan hasil tafsirannya.

Namun, saya setuju dengan pendapat kebanyakan penafsir untuk tidak puas pada pemutlakan kata pengkhotbah sebagai terjemahan dari kata qohelet/ecclesiastes. Saya juga bahwa pemutlakkan terjemahan ini hanya mereduksi makna yang ingin dibawa oleh Kitab ini. Untuk itu, saya akan coba me-dekontruksinya untuk kemudian dicari kata yang lebih pas.

Derek Kidner dan Robert Davidson sebagaimana dituliskan Singgih cenderung memilih kata “the professor” sebagai kelanjutan dari kata “Philosopher” pilihan terjemahan GNB (terjemahan inggris modern) untuk memberikan kesan netral. Singgih sendiri mengikuti terjemahan bahasa jawa yang hanya mentransliterasikan kata tersebut ke dalam bahasa jawa “kohelet” agar tidak mengalami reduksi makna. Saya sendiri, berdasarkan pemaparan yang telah dilakukan EGS akan makna dari dasar katanya yaitu qahal atau ecclesia yang berarti umat/perkumpulan, lebih memilih padanan kata “pentolan/pemuka”. Kata ini saya lihat menjadi dapat menangkap makna qohelet/ecclesiates yang sangat bergantung pada kata qahal/ecclesia. Sang “pengkhotbah” tak lain adalah pemuka/pentolan dari satu perkumpulan hikmat di Yerusalem yang berusaha memberi pendapatnya akan realita kehidupan dengan menggunakan dialektika akan dua pemikiran yang kuat di konteksnya, yaitu helenisme dan yudaisme.

(salah satu) Teologi  kitab Pengkhotbah

Dalam rangka mengelaborasi sekaligus mengembangkan apa yang telah dilakukan Barth, maka saya akan memperdalam penelaahan atas teologi yang ada dalam teks hasil produksi golongan hikmat. Adapun teks yang saya ambil adalah teks Pengkhotbah 9:1-12. Singgih melihat frasa “tangan Allah” menunjukkan bahwa ketersembunyian dari pengetahuan manusia. Bagi Pengkhotbah, kehidupan adalah sebuah misteri acak yang membingungkan dan kompleks, sehingga akal manusia tidak dapat memahami sepenuhnya (9:1).

Pengkhotbah kemudian juga menyatakan bahwa semua orang akan merasakan hal yang sama: kematian. Tak peduli apa pekerjaannya, secerdas apa dirinya, sesaleh apapun dirinya, semua orang akan mati. Kematian dilihat pengkhotbah sebagai sebuah kepastian bagi semua mahluk yang hidup (9:2). Namun, kehidupan masih dipandang Pengkhotbah lebih baik karena memiliki harapan (9:4), tetapi tidak dijelaskan harapan apa yang dimaksud Pengkhotbah. Pandangan Pengkhotbah mengenai kehidupan yang berpengharapan ini saya lihat dilakukan Pengkhotbah untuk memberi semangat kepada mereka yang masih ada, untuk kemudian diteruskan dan dimaknai selagi waktunya masih ada.

Pendapat ini saya lihat menggema dalam ayat-ayat berikutnya. Di ayat 7-10, Pengkhotbah mengajak pembacanya untuk menikmati hidup. Namun, bukan hanya kenikmatan seperti pesat pora saja yang Pengkhotbah anjurkan untuk nikmati, namun juga segala pekerjaan yang diberikan kepada manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan mengerjakan sesuatu dengan sekuat tenaga, sebelum kematian tiba.

Pengkhotbah kemudian mendapati hal lain dalam realita: sifat acak. Pengkhotbah melihat bahwa meskipun manusia telah melakukan sesuatu dalam hidupnya, itu tidak serta merta menjadikan dirinya mendapat apa yang (menurut manusia) pantas ia dapatkan. Dalam realita, Pengkhotbah melihat bahwa tak selalu kebaikan diganjar hadiah, pun juga kejahatan diganjar hukuman. Ini menuntun Pengkhotbah pada satu kesimpulan: Manusia “terperangkap” dalam misteri waktu layaknya hewan-hewan terperangkap dalam jerat (9:11-12). Manusia dalam segala usahanya tak dapat memungkiri kenyataan bahwa ada kematian yang menantinya.

Konteks Indonesia post-modern: pemetaan

Jika melihat dalam konteks Indonesia, sangat jelas bahwa masih terjadi stagnansi dalam kehidupan beragama dan spiritual. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pola beragama di Indonesia yang masih berpatokan pada dogma secara kaku, terutama dalam hal menafsir teks suci. Saya juga melihat bahwa hal ini sedikit banyak terjadi karena kaum agamawan maupun orang awam kebanyakan meniru (baik sadar maupun tidak sadar) pandangan Barth terhadap teologi-teologi Perjanjian Lama. Peniruan ini saya lihat membawa dampak negatif, terutama pada teologi-teologi tertentu yang cenderung eksklusif dan menegasikan keberadaan mereka yang berbeda.

Contoh dari teologi-teologi tersebut misalnya saja teologi umat pilihan ataupun teologi “Tuhan yang membalas”. Teologi-teologi ini saya lihat berusaha meninggikan posisi umat kristen sebagai umat pilihan dan melupakan hakikat panggilan kristiani yaitu dipilih untuk melayani. Pun juga dengan teologi “Tuhan yang membalas”. Teologi ini saya lihat sangat jelas dalam konteks Indonesia ketika menghadapi bencana. Warga yang terdampak oleh bencana tersebut akan dipandang sebagai “yang dikutuk” oleh Tuhan ataupun menerima hukuman atas dosa-dosanya. Hal ini juga kemudian mendorong kelompok-kelompok tertentu untuk menyalahkan warga yang terdampak, alih-alih membantunya. Padahal secara realita, belum tentulah bencana  tersebut adalah cara Tuhan menghukum dan belum tentulah warga yang terkena bencana telah melakukan dosa sehingga layak dihakimi.

Saya juga menemukan bahwa kebanyakan penafsir dan pengkhotbah biasanya melihat teks kitab Pengkhotbah dalam kacamata PB atau dogma kristiani sehingga pandangannya akan realita kehidupan malah digeserkan menjadi kepatuhan mutlak akan hukum dan aturan (alih-alih ketaatan pada Tuhan). Hal yang miris jika kita melihat judul dari kitab ini dalam bahasa Indonesia yaitu pengkhotbah. Ini juga saya lihat mirip dengan sikap editor kitab Pengkhotbah yang menggeser pandangan teologis pengkhotbah akan realita kehidupan yang rumit menjadi lebih mudah asalkan tetap berpegang pada hukum-hukum Tuhan dalam penafsiran Taurat dan doktrin Yudaisme, yang nyatanya masih kurang menangkap realita kehidupan secara utuh.

Secara konteks-historis, dapat juga dilihat bahwa kitab pengkhotbah sendiri menggunakan alat-alat dan pedoman-pedoman filsafat Yunani yang mulai masuk waktu itu sebagaimana telah disebutkan di atas (tahun 400 SM). Pandangan filsafat ini menekankan pada pemikiran (rasio) dan pengalaman (indrawi) dalam menafsirkan realitas. Ini kiranya cocok dengan pola utama postmodernisme dimana dalam usaha mencari makna, subjektivitas individu dipandang sebagai salah satu penentu bahkan menjadi penentu final.

Kesimpulan: sebuah jalan dan cara berteologi yang berbeda

Dalam pemaparan telah jelas bahwa dalam satu teologi saja, Kitab Pengkhotbah sudah memiliki perbedaan yang signifikan dengan teologi-teologi mainstream dalam PL, yang otomatis menjadikan pemikiran berbeda lain dengan tradisi ortodoks Yudaisme. Namun sebagaimana telah dipaparkan, kitab ini sendiri telah mengalami peyuntinggan yang memperlihatkan adanya pertentangan pandangan teologis didalamnya. Pertentangan ini saya lihat bukanlah sebagai sesuatu yang harus ditemukan titik temunya untuk kemudian dipadatkan sebagai dogma yang kaku, melainkan sebuah dialektika yang harus terus menerus digumuli dalam setiap konteks. Apalagi, dalam ranah postmodern, subyektifitas adalah sesuatu yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Sehingga saya berpikir pembacaan atas suatu teologi tertentu dapat dengan sangat mudah mendapat hasil yang berbeda tergantung subyeknya.

Mengenai kematian, Pengkhotbah mengajak kita untuk berusaha sepanjang hidup untuk memberi makna akan kehidupan, karena telah jelas bahwa makna dari kehidupan kita tidak diberikan secara ontologis namun tetap kita beri sebagai subjek yang menghidupinya. Kematian juga tak perlu dilihat sebagai suatu kemengerian yang harus dihindari, melainkan suatu kepastian yang malah menambayh keindahan kehidupan dengan memberinya batas. Dan dengan ditunjukkan oelh Pengkhotbah bahwa kehidupan adalah realitas acak, kita diajak untuk berani mengambil pilihan dan mengkajinya, sembari tetap menghargai pilihan orang lain akan kehidupannya.

Mengenai konteks yang mempengaruhi subyek dan keterbalikkannya, kiranya baik juga untuk memperhatikan konteks kitab Pengkhotbah. Seperti telah dipaparkan sebelumnya, Pengkhotbah menuliskan pandangannya dengan menggabungkan pandangan Yudaisme dan Helenis yang saling mempengaruhi pola pikir dan berteologi masyarakat Israel. Menariknya, konteks yang mengelilingi tidak serta ia tolak melainkan ia olah bersama-sama untuk menghasilkan pemikiran, yang meskipun berbeda, nyatanya memberi sumbangsih dalam upaya memahami realitas kehidupan dan kenyataan akan hadirnya Allah. Ini dapat menjadi refleksi bagi diri kita untuk tidak langsung menolak dan bersikap anti-pati terhadap suatu pemikiran yang berbeda dengan kita. Pemikiran tersebut ternyata bisa juga diolah, dipelajari, dikritisi bahkan digunakan utnuk menghasilkan pemikiran teologis baru.

Daftar pustaka

Barth, Christoph, dan Marie-Claire Barth-Frommel. Teologi Perjanjian Lama 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010.

Der Weiden, Wim Van. Seni Hidup: Sastra Kebijaksanaan Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Singgih, Emanuel Gerrith. Hidup di bawah bayang-bayang maut: Sebuah tafsir kitab Pengkhotbah. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

———. “Sebuah Kapak Buat Laut yang Beku: Kitab Kohelet dan para Pembacanya: Tafsiran Pengkhotbah 12:9-14.” Dalam Dunia Yang Bermakna: Kumpulan Karangan Tafsir Perjanjian Lama, 1 ed. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2019.

penulis: Qohelet


Tak Berkategori

Malaikat dan orang-orang Majus dari Timur.

Ilustrasi by: Timothy Aditya Riyoza

Matius 2:1-12
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.
Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.
Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:
Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.
Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Ketika Natal telah tiba, pembicaraan mengenai kelahiran Yesus dengan berbagai pengajaran selalu dibicarakan di Gereja-gereja, guna untuk mengingatkan semua orang bahwa pernah lahir Mesias di dunia ini.
Pada tulisan saya yang ini, saya ingin membahas, sesuatu yang tabu. Bahkan mungkin yang jarang kita ketahui dan dengar di Gereja saat Natal. Yaitu kehadiran sosok Malaikat dengan orang-orang Majus.

Menjelang akhir Oktober kemarin 2018(saya lupa tanggalnya) Tuhan berbicara kepada saya di sore hari, dengan sedikit kalimat seperti: siapakah orang-orang Majus ini?

Dengan perkataan yang seperti itu, saya berusaha mencari tau secara teliti siapa orang-orang Majus ini melalui Alkitab dan berbagai sumber di Internet. Tidak banyak sumber di Alkitab mengenai orang-orang Majus ini, tapi puji Tuhan, Hikmat membuka pikiran saya tentang peristiwa ini untuk menuliskannya.

Cobak mari kita berpikir sejenak mengenai ini. Apa kalian pernah bertanya-tanya, siapa orang Majus ini? Mengapa mereka bisa datang ke Israel hanya untuk bertemu bayi Yesus? Siapa yang memberitahu orang-orang ini? Atau pertanyaan-tanyaan lain yang mungkin kalian sedang pikirkan?
Dan inilah yang ingin saya beritahukan kepada kalian yang ingin mengetahuinya melalui tulisan saya yang sederhana ini.

Pertama-tama kita perlu mengetahui terlebih dulu latar belakang orang-orang Majus ini.

Kata Majus adalah sebutan bagi para pengikut Agama Zoroaster. Yang diajarkan lewat seorang Nabi orang Persia bernama Zarathustra pada abad ke 6SM(mundur 600 tahun sebelum kelahiran Yesus)
Mereka juga menyembah Dewa yang bernama Ahura-Mazda, dalam bahasa Indonesia artinya Dewa yang bijaksana.

Inilah yang menjadi pertanyaan besar yang jarang dibicarakan di Gereja ketika hari Natal.
SADARKAH ORANG-ORANG MAJUS INI? Sehingga mereka datang jauh-jauh untuk menyembah dan memberikan harta benda mereka kepada bayi Yesus? Apa yang menyebabkan mereka semua melakukan itu ?

Namun sebelum saya menjelaskan secara mendetail lagi, perlu diketahui lagi terlebih dulu. Bahwa orang-orang Majus ini datang dan menyembah Yesus hanya sebagai Raja orang Yahudi, tidak lebih. Itulah yang tertulis dalam: Matius 2:2
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, RAJA ORANG YAHUDI yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.

Lalu apa yang menyebabkan orang-orang Majus ini melakukan semua ini?

Jawabannya yaitu Malaikat Tuhan. Lalu dimana kata Malaikat di satu Perikob tersebut ? Sepertinya tidak disebutkan kata Malaikat?

Kata BINTANG yang tertulis dalam Matius 2:2,7,9,10 dan 12. Adalah Malaikat Tuhan yang Tuhan utus untuk memberitahukan orang-orang Majus ini, mengenai kelahiran Yesus di bumi.
Saya tidak berspekulasi, Beropini atau Berasumsi sendiri tentang hal ini. Di dalam Alkitab, penyebutan Malaikat terkadang ditulis kata BINTANG, tapi itu hanya sebagian kecil saja dari semua kata BINTANG yang tertulis di dalam Alkitab. Dan Tidak semua BINTANG adalah Malaikat.

Sebagai dasar pembuktiannya, saya akan memberikan Tiga ayat di dalam Alkitab, mengenai Bintang adalah Malaikat, dan Tiga alasan yang secara Logis bahwa hal itu Benar Malaikat.

Pertama: Yesaya 14:12
“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai BINTANG Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!

Kedua: Daniel 8:10
Ia menjadi besar, bahkan sampai kepada bala tentara langit, dan dari bala tentara itu, dari BINTANG-BINTANG, dijatuhkannya beberapa ke bumi, dan diinjak-injaknya.

Ketiga: Wahyu 1:20
Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh BINTANG ITU IALAH MALAIKAT ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat.”

Apakah ini sudah cukup jelas? Jika yang tertulis dalam Yesaya adalah Bintang biasa, bisakah Bintang mengalahkan bangsa-bangsa ? Jika Bintang yang tertulis dalam Daniel adalah Bintang biasa, mungkinkah Bintang tersebut mempunyai Bala Tentara ? Dan di dalam Wahyu menulisnya, Ketujuh Bintang itu ialah Malaikat.

Jika bukti ayat-ayat itu kurang cukup, maka saya akan memberikan bukti lain secara Logis, supaya mudah dipahami lebih lagi.

Pertama: jika itu bukan Malaikat, maka tidak bisa memberikan informasi yang jelas secara rinci, mengenai kelahiran bayi kepada orang Majus ini:
Matius 2:2
dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”
Perhatikan apa yang dikatakan orang Majus ini, mereka mengetahui kelahiran seorang Bayi sebagai Raja.
Apakah mungkin Bintang biasa bisa memberikan informasi lengkap seperti itu ?
Seorang Astronom memang bisa meramalkan kapan Gerhana terjadi, meteor jatuh ke bumi, melalui perhitungan Matematika yang tepat. Tapi untuk kelahirang seorang anak, apakah seorang Astronom bisa meramalkan kejadiannya secara rinci, lengkap dengan status bayi tersebut? Mustahil bukan.Kedua: bukti kedua adalah Jarak. Jarak bumi dan Bintang itu sangat jauh sekali, banyak variasi mengenai jarak dari bumi ke Bintang. Entah Ratusan juta atau Miliayaran tahun cahaya, saya tidak tau. Yang pasti sangaaaat jauh sekali.
Mungkinkah jarak yang begitu sangat jauh sekali, menuntun orang-orang Majus dari Timur(Persia) ke Yerusalem, sampai ke tempat dimana Yesus itu lahirkan?: Matius 2:1,9: Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem.9: Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Ketiga: Bintang biasa tidak bisa memberikan Sukacita: Matius2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

Ketiga penjelasan secara Logis dan ketiga ayat tersebut, saya rasa sudah cukup untuk membuktikan bahwa Bintang yang dimaksud tersebut adalah sosok Malaikat.

Setelah saya membahas latar belakang dan apa yang menyebabkan orang-orang Majus ini datang dan rela melakukan semua ini, maka saya akan mengajak kalian masuk lebih dalam lagi. Yaitu, apakah makna dan penjelasan dari semua Kajadian ini?

Tuhan pasti mempunyai maksud mengutus Malaikat-Nya kepada orang-orang Majus ini.
Karena tidak mungkin orang yang beda Negara, Agama dan Budaya. Rela dan mau datang jauh-jauh, hanya untuk melakukan semua ini.

Ada dua hal lagi, yang sangat perlu diketahui, dari kedatangan orang-orang Majus ini. Yaitu?

Penjelasan Pertama: menjadi saksi sejarah kelahiran Yesus di Dunia: 2 Korintus 13:1
Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.

Dengan pembuktian diluar orang-orang Israel, maka sejarah ini sangat Valid buktinya.
Banyak penafsir yang mengatakan, kalau jumlah orang-orang Majus ini Tiga, karena bukti persembahan yang mereka berikan kepada Yesus, yaitu Emas, Kemenyan dan Mur.
Ada yang mengatakan jumlah orang Majus itu 4 atau bahkan 40 orang Majus.
Saya tidak mempermasalahkan jumlahnya berapa, yang jelas atas kesaksian 2 atau 3 orang maka sejarah ini benar adanya, dan kelahiran Yesus ini disaksian oleh orang diluar Israel.

Kedua: kelahiran Yesus di dunia ini, atau yang dikenal sebagai hari Natal. Tidak hanya menjadi Sukacita bagi orang-orang Israel/Kristen semata. Melainkan orang yang jauh diluar kita yang sama sekali tidak mengetahui hal ini harus menjadi Sukacita bagi mereka semua. Inilah yang Tuhan mau dan makna terdalam dari Matius 2:1-12 ini.

Hari Natal harus menjadi Sukacita bagi semua orang, itulah arti kedatangan orang-orang Majus ini.
Apakah Gerejamu memikirkan ini? Banyak sekali Gereja-Gereja diluar sana. Baik itu Gereja besar atau Kecil. Mereka mengundang siapa saja untuk datang pada hari Natal, namun menekankan sebuah HADIAH MELALUI UNDIAN.
Bukankah ini sangat MEMALUKAN ? Apakah dengan cara ini, orang tersebut pulang dan mengingat Hadiahnya, ketimbang Yesus?
Tidak salah berbagi di hari Natal, kalau bisa lakukan aksi Sosial, keluar dari Gereja. Berikan sesuatu, yang sepantasnya apa yang pantas untuk diberikan kepada mereka.
Ingatlah, bahwa orang-orang Majus ini keluar dari tempat tinggalnya(Persia) datang ke Betlehem dan memberikan sesuatu kepada Bayi Yesus.

Maka kelahiran Yesus begitu sangat mendalam dan berarti bagi umat Manusia. Tidak peduli kaya atau miskin, jauh atau dekat, Ia tetap memberitakan Sukacitanya kepada siapa saja yang Ia Kehendaki’Nya. Namun ingat, meski saya mengatakan bahwa kelahiran Yesus menjadi Sukacita bagi banyak orang, tapi tidak bagi Raja Herodes, Imam Kepala dan Ahli Taurat. Yang sebagai simbol keangkuhan hidup keagamaan mereka dan status sosialnya sebagai raja.

Sekiranya damai dan sukacita turun atas kita semua.

Penulis: Gabriel R

BalasTeruskan
Tak Berkategori

Allah Maha Hadir

Sumber Gambar: http://www.lutherplace.org

Renungan Hari Ini

Salah satu pertanyaan yang paling menantang sebagai pengikut Yesus adalah pertanyaan ini, “Dari mana Allah berasal?” Secara pribadi, saya tidak menyukai pertanyaan ini karena saya tidak dapat menjawabnya! Allah tidak berasal dari mana pun. Dia telah ada sebelum segalanya yang kita ketahui dan pahami ada. Yohanes memulai suratnya dengan membuat pernyataan bahwa setiap orang harus memutuskan untuk mempercayainya atau tidak. Apakah Allah sungguh nyata? Apakah Yesus adalah Allah dalam bentuk daging? Ini adalah keputusan yang harus dihadapi semua orang di alam semesta. Mereka harus memutuskan untuk mempercayainya atau tidak.  jika Anda masih memperdebatkannya. Anda dapat bertanya, “Bagaimana saya dapat tahu dengan pasti bahwa Allah sungguh ada, dan Yesus benar-benar adalah perwujudan dari Allah?” Pernyataan Yohanes dapat menjadi suatu kebenaran maupun bukan kebenaran. Anda harus memutuskan dengan iman. 

Doa Hari Ini

Ya Bapa di Surga, aku telah memilih untuk menerima Yesus dalam hidupku, dan percaya dalam Nama-Nya. Terima kasih atas hak istimewa yang luar biasa untuk menjadi anak-Mu. Aku tidak memahami segala sesuatu tentang Engkau maupun cara-Mu, tetapi aku akan memercayai Engkau untuk terus memperkuat imanku di dalam-Mu. Terima kasih telah datang ke dunia sebagai Anak Domba Allah yang menebus dosaku! Baptislah aku dalam Roh Kudus. Dalam Nama Yesus aku berdoa, Allah maha hadir

Penulis: Eddy Sigalingging

Tak Berkategori

ULASAN KHOTBAH THE SOUND OF PENTECOST

St. Seraphim of Sarov
Sumber Gambar: http://damascenegallery.com/

Dari perkataan Pdt. Pieter Faraknimella, yang saya tangkap adalah bahwa persentase kekristenan di Amerika turun 12%, namun hanya satu aliran yang tetap bertahan, yaitu Karismatik. Beliau juga berkata bahwa hanya gereja yang mengandalkan Roh Kudus yang akan bertahan, yang berarti hanya gereja karismatik yang mengandalkan Roh Kudus. Gereja-gereja tradisi berarti tidak mengandalkan Roh Kudus karena persentasenya menurun. Saya tidak setuju, karena pada denominasi lain juga mengakui Roh Kudus dan peranannya.

Contohnya adalah perkataan Santo Serafim dari Sarov : “It is the classical teaching of the Orthodox Church, made popular in recent times by Saint Seraphim of Sarov (19th c.), that the very essence of Christian spiritual life, the very essence of life itself, is the acquisition of the Holy Spirit of God. Without the Holy Spirit, there is no true life for man. In spite of our sinfulness, in spite of the darkness surrounding our souls, the Grace of the Holy Spirit, conferred by baptism in the name of the Father and the Son and the Holy Spirit, still shines in our hearts with the inextinguishable light of Christ . . . and when the sinner turns to the way of repentance the light smooths away every trace of the sins committed, clothing the former sinner in the garments of incorruption, spun of the Grace of the Holy Spirit. It is this acquisition of the Holy Spirit about which I have been speaking . . . (Saint Seraphim of Sarov, Conversation with Motovilov). https://www.oca.org/orthodoxy/the-orthodox-faith/spirituality/orthodox-spirituality/the-holy-spirit

Penulis: Devon Josiah

Tak Berkategori

INKARNASI, ALLAH ADALAH KASIH

Father, Son, and Holy Spirit karya Munir Alawi
Sumber Gambar: http://www.fineartamerica.com

Saya dulu pernah berpikir, mengapa Allah kita itu kok mau-maunya jadi manusia? Kok Allah kita itu mau menyatakan diriNya didalam Yesus Kristus. Ada agama yang membangga-banggakan allahnya karena ia menganggap bahwa allah mereka yang tidak pernah kelihatan itu jauh lebih kudus daripada Allah kita. Saya sempat terguncang dengan berbagai pertanyaan dan tudingan dari oknum agama tertentu dan jujur saja sempat mempertanyakan iman saya. Dan juga karena Allah mau turun ke dunia, hal ini lantas menjadi olok-olokan oknum agama tertentu dengan mengatakan bahwa Tuhan kita kok dibunuh ciptaanNya? Mengapa Allah orang Kristen itu mau menampakkan diriNya dan mau dengan repotnya datang ke dunia?

Jawabannya adalah DOSA (Yohanes 8:34, Roma 3:23). Namun mereka yang tetap berkeras hati tetap mengajukan pertanyaan yang menyerang. Mereka beranggapan bahwa jika Allah orang Kristen mau mengampuni dosa umatNya kenapa tidak langsung diampuni saja? Mengapa Allah orang Kristen malah repot-repotnya untuk datang ke dunia, menjadi manusia lemah?

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:1-25), hubungan antara manusia dengan Allah cenderung merenggang, tidak intim seperti sebelum kejatuhan manusia dalam dosa. Dosa yang dilakukan manusia membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Dosa juga telah membentuk suatu jurang pemisah antara manusia dan Allah  (Yesaya 59:2) sehingga manusia yang berdosa tidak mampu menjangkau Allah, karena Ia kudus (Yesaya 6:3, 1 Petrus 1:16) Allah memberikan hukuman kepada manusia atas dosa yang diperbuat (Yehezkiel 18:30, Mazmur 62:12-13, Yohanes 5:29, Wahyu 22:12), dosa telah mengikat manusia dan sukar untuk terlepas dari kencenderungan berbuat dosa (Matius 26:41). Setiap saat manusia selalu berbuat dosa baik kecil maupun besar. Allah kita adalah Allah yang maha adil (Mazmur 11:7, Mazmur 116:5, Yesaya 30:18, Yeremia 12:1), sudah layak dan sepantasnya kita mendapatkan hukuman atas dosa yang kita perbuat dan hukuman yang setimpal adalah kebinasaan yang kekal (Roma 6:23). Namun di balik sifat Allah yang Maha adil dan Maha berdaulat itu adapula sifat Allah yang paling utama adalah KASIH (Mazmur 86:15, Roma 5:8, Efesus 2:4-5, 1 Yohanes 3:1, 1 Yohanes 4:10,16) dan bukan sembarangan kasih, bukan kasih eros, fileo ataupun storge, tetapi kasih Agape, kasih sejati yang tidak mengenal perhitungan dan tidak mementingkan diri sendiri serta rela berkorban (Yohanes 15:13). Namun bukankah akan menjadi hal yang bertentangan, antara menyelamatkan manusia berdosa dengan keadilan Allah untuk menghukum manusia?

Untuk itulah Allah mengosongkan diriNya dan menjadi rupa insan (Yohanes 1:14). Ia yang adalah KASIH yang AGAPE itu telah menjadikan diriNya sebagai korban tebusan (Roma 3:25, Yohanes 10:17, Efesus 1:7, Ibrani 7:27)  yang terbaik (1 Petrus 1:18-19) agar manusia yang percaya padaNya diselamatkan (Yohanes 3:16) serta tidak akan dipermalukan (Roma 10:11, 1 Petrus 2:6). Hal ini terjadi supaya keadilan serta kasih daripada Allah itu tidak saling bertentangan.

Allah harus langsung turun tangan untuk menyelamatkan manusia karena manusia yang berdosa adalah sukar untuk menggapai dan memandang Allah yang Kudus itu (Keluaran 33:20) maka dari itu Ia harus turun  dan berinkarnasi menjadi manusia fana seperti kita (Yohanes 1:14, 1 Timotius 3:16, 1 Yohanes 4:2). Dan hanya Ia yang mampu dan layak menyelamatkan kita dari jeratan dosa dan mengantar kita pada Bapa, sebab Ialah yang satu-satunya tak bernoda dan berdosa (Yohanes 14:6, 2 Korintus 5:21).

Meskipun Ia dilahirkan dalam rupa insan, Ia sungguh Allah (Yohanes 1:1, Yohanes 8:58, Yohanes 13:13, Yohanes 20:28, Roma 9:5, Kolose 2:9), bukan setengah Allah bukan setengah manusia tetapi Ia juga sungguh adalah manusia yang utuh seperti kita juga (Matius 4:2, Roma 5:15, 1Timotius 2:5). Ia menunjukkan diriNya sebagai Mesias (Matius 16:16-17, Markus 8:29) dan Jalan Kehidupan (Yohanes 14:6, Yohanes 11:25-26) serta adalah Allah itu sendiri (Yohanes 10:30, Yohanes 8:58) Namun bangsa yang dipilihNya (Keluaran 19:5-6, Ulangan 14:2) justru menolak  diriNya (Yohanes 1:10-11) serta bersepakat untuk menangkap (Matius 26:4, Markus 14:1, Yohanes 18:12) , mengadili (Matius 27:27, Yohanes 18:33) dan menyalibkan Dia (Matius 27:35, Markus 15:24, Lukas 23:33, Yohanes 19:23). Peristiwa penyaliban Yesus ini menjadi suatu momentum dimana Allah yang adil, berdaulat itu mau menunjukkan kasihNya yang Maha Dahsyat (Yohanes 3:16) kepada kita melalui pengorbanan Yesus dan oleh darahNya yang Kudus, dosa kita turut disucikan (1 Yohanes 1:7). Melalui pengorbananNya juga kita yang percaya kepada Kristus beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16, Roma 10:9). Kasih yang dahsyat melalui kematian Yesus dan kebangkitan Yesus, membuat hidup kita telah beroleh pengampunan (Efesus 1:7, Kolose 1:14) sehingga kita layak menjadi anak-anak Allah oleh sebab Yesus Kristus (Galatia 3:26-27, Galatia 4:7) Kita patut bersyukur karena memiliki Allah yang Adil dan juga adalah Allah yang KASIH sebab keselamatan yang daripada Allah bukan hasil usaha kita dan perbuatan baik kita tetapi anugerah semata/ Sola Gratia (Efesus 2:8)

Penulis: Elisa Hendriko Hutabarat (San Gorge Wilayah Kalimantan. Jemaat HKBP Teluk Mulus Ress. Pontianak)

Tak Berkategori

MENGAPA ADA LUKISAN FILSUF YUNANI KUNO DI GUNUNG ATHOS?

Jika kamu penganut Ortodoks Timur maka kamu tidak akan asing dengan Gunung Athos. Ya, gunung yang di atasnya berdiri 20 biara tempat para monachos atau biarawan khusus pria ini terkenal karena begitu ketatnya aturan masuk di sana terutama avaton atau larangan masuk untuk wanita sampai-sampai binatang-binatang besar yang berkelamin betina seperti ayam, sapi, domba, kambing, kuda dan babi pun tidak boleh ada di sana.

Gunung Athos, menurut tradisi dimulai sebagai pusat kebiaraan Kristen sejak Bunda Maria ibu Yesus terdampar di semenanjung itu bersama Rasul Yohanes Penginjil. Karena begitu terpukau dengan keindahan panorama semenanjung itu maka Bunda Maria memohon kepada Anaknya agar semenanjung itu menjadi tamannya dan permintaan itu makbul oleh Kristus sendiri lewat suara dari surga. Sejak itu, gunung ini menjadi suaka bagi yang ingin mengakses keselamatan yang telah dianugerahkan Allah dengan berkarya dalam kebiaraan.
Menariknya, meskipun memiliki nuansa agamis yang kentara, dapat ditemukan mural-mural di sekitar biara yang berbau sekuler. Beberapa mural seperti peristiwa Alexander Agung dan para filsuf seperti Solon, Sybil, Sokrates, Plutarkhos, Homer, Theucydides, Plato dan Aristoteles. Mural-mural ini berada di biara seperti Meteora, Hagia Lavra dan Vatopedi).

Lukisan para Filsuf Yunani Kuno (pra Kristen) di salah satu Biara di Gunung Athos

Pertanyaanya adalah, “mengapa mural-mural sekuler ini bisa ada di tempat yang sakral seperti ini?” Well, jawabannya adalah karena selama periode Ottoman, biara adalah tempat untuk menimba ilmu berhubung sekolah-sekolah berbasis keagamaan dilarang di masa pemerintahan Turki. Akibatnya, biara bukan hanya sebagai tempat menimba spiritualitas tetapi juga pengetahuan yang sifatnya kognitif dan fresko atau mural ini digambar sebagai ilustrasi untuk mempermudah para pelajar yang menimba ilmu di sana. Lalu apa makna mural-mural ini dan apakah tidak bertentangan dengan kehidupan religius biara? Untuk menjawabnya kita perlu tahu apa bagaimana Gereja dalam memandang kehidupan non-religius.
Pertama, mengutip Janasuci Maximos sang Pengaku Iman yang pernah berkata, “tidak ada kejahatan di dalam segala sesuatu, yang jahat hanya ada di dalam penyalahgunaannya” Gereja sama sekali tidak menolak ilmu-ilmu sekuler yang satu bidang dengan para filsuf di mural tersebut. Tidak ada pertentangan antara jiwa-raga di mana yang ragawi harus kalah. Malah sebaliknya, yang ragawi bisa dipakai untuk memuliakan yang rohani dan sebaliknya, rohani memuliakan yang jasmani. Kasus-kasus di mana Gereja bersinergi dengan filsafat, sains, seni, ilmu sosial, dan lain-lain seperti ini sudah mulai marak sejak zaman Romawi-Yunani hingga dunia modern saat ini seperti uskup ROCOR Alm. Alexander Mileant (1938-2005) yang adalah pasca-sarjana teknik elektronika yang bekerja di laboratorium pengembangan propulsi pesawat jet NASA sekaligus penulis 300 pamflet penginjilan dalam 4 bahasa dan uskup Nicholas Hatzinikolaou (1954-) dari Gereja Yunani yang pernah menjadi peneliti kardiovaskular dan medis luar angkasa untuk NASA.

Kedua, para filsuf sendiri memang mengajarkan filosofi duniawi. Tapi, jika dipakai dengan benar akan mengantarkan kita pada kebenaran Kristus sehingga para filsuf ini berjasa dalam perkembangan teologi kekristenan karena karya-karya mereka dapat dipakai untuk memahami, menjabarkan dan membela pemahaman terhadap wahyu Tuhan. Karya-karya mereka berkontribusi untuk kemajuan umat manusia yang ujungnya adalah demi kebaikan sebagaimana yang dikehendaki Tuhan. Namun sekali lagi, jika penggunaannya baik dan benar.
Oleh karena itu, adalah hoax jika iman membunuh akal budi, membinasakan kreativitas, dan memupuk fanatisme buta. Mari kita berdayakan akal budi, nurani, dan kehendak bebas kita agar bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan lewat kasih dengan sesama sesuai dengan talenta masing-masing supaya kelak ketika kita di hadapan tahta Anak Domba perbuatan kita bisa menjadi pertanggungjawaban yang baik. Tuhan memberkati.
Sumber:
• Data tentang Gunung Athos: Wikipedia Bahasa Inggris
• Data tentang mural filsuf: John Sanidopoulos dalam wordpressnya (johnsanidopoulos.com)

Special thanks to: Innokentios Chang, Seminarian Orthodox
Penulis: Andreas Henry Kurniadi

Tak Berkategori

Pengantar Kitab Habakuk

Jika melihat dari kitab Habakuk secara langsung, diperkirakan Habakuk hidup di sekitar abad ke-7 SM, sezaman dengan Nabi Yeremia, Zefanya dan Nahum[1]. Sangat minim penjelasan mengenai latar belakang Nabi Habakuk di bagian lain alkitab. Namun, dalam Deuterokanonika, nama Habakuk sempat disebut sebagai yang memberi makan kepada Daniel ketika Daniel berada dalam gua singa (Dan 14:33-39). Sedangkan, dalam LXX (Septuaginta), pasal 1:1 diberi tambahan “anak dari Yesus, seorang imam Lewi”[2]. Saya sendiri lebih condong ke LXX, alasannya akan saya kemukakan kemudian.

Menafsirkan pasal 3 tidak bisa dilepaskan dari keterkaitannya dengan 2 pasal sebelumnya. Dalam pasal 1, Habakuk menyadari realita kebobrokan Yehuda dan meminta Tuhan menunjukkan keadilan-Nya. Habakuk gelisah akan diamnya melihat terjadinya kekerasan dan penindasan yang dilakukan orang fasik (Hab 1:2-4). Tuhan menjawab kegelisahan Habakuk tersebut dengan mengirim orang Kasdim sebagai penakluk Israel (Hab 1:5-11). Ini kiranya menggambarkan situasi kebangkitan Imperium Babilonia (orang-orang Kasdim) pasca runtuhnya Imperium Asyur. Menariknya, hal ini menimbulkan keterkejutan yang tak kalah hebat dengan yang pertama. Habakuk kembali mempertanyakan keputusan Tuhan memilih bangsa yang sama bobroknya dengan Yehuda untuk menghukum mereka (Hab 1:12-17). Habakuk melihat bahwa tindakan Tuhan mengirim orang Kasdim yang bengis tidaklah sesuai sifat Tuhan yang penuh kasih dan keadilan (Hab 1: 12-13).

Keterkejutan dan pertanyaan Habakuk awalnya tidak mendapatkan jawaban sehingga ia menantikan di tempat pengintaian. Pada zaman kerajaan, sangat lazim sebuah kota membangun benteng-benteng perlindungan. Dalam benteng perlindungan tersebut, didirikan juga menara pengintaian yang jauh lebih tinggi dari bagian benteng lain sehingga pengintai dapat melihat kedatangan musuh dari jauh. Di menara seperti inilah Habakuk mencari jawaban Tuhan dan mendapatkannya (Hab 2:1-2). Tuhan pun memberi ia jawaban atas tindakanNya memilih orang Kasdim. Tuhan meminta Habakuk untuk menunggu saat dimana hukuman atas orang-orang jahat akan menimpa mereka (Hab 2:3-5). Dari teks ini, kita melihat bahwa Tuhan memang menggunakan orang lalim untuk mewujudkan kehendak-Nya, namun itu tidak berarti Tuhan setuju atas perbuatan lalim mereka. Disini juga terasa pengaruh tradisi imamat dalam pasal 2:6-20. Di sini, Habakuk menuliskan kembali perintah Tuhan dan hukuman bagi yang melanggarnya. Hal inilah yang membuat saya condong dengan pendapat LXX karena jika memang Habakuk adalah anak seorang imam, sangat mungkin pemikirannya mengikuti tradisi imamat yang sangat menekankan unsur legal berdasarkan Torah.

John J Collins berusaha melihat keterkaitan bagian ini dengan konteks waktu itu. Collins melihat bahwa kesia-siaan akan berhala yang ditunjukkan pada ayat 19-20 menggambarkan situasi zaman deutro-Yesaya yang menghadapi polemik penyembahan ilah-ilah lain oleh bangsa Yehuda (Bdk 44:9-20)[3]. Penghukuman yang akan menimpa Babel juga dilihat sebagai kemiripan dengan nubuatan hukuman terhadap Asyur yang tertulis dalam Yesaya 10[4].

Pasal 3 sendiri berisi nyanyian ungkapan iman atas jawaban dan tindakan Tuhan yang digambarkan dalam pasal 1-2. J A Telnoni membagi pasal ini menjadi 3 bagian yaitu bagian pertama (Hab 3:1-7), bagian kedua (Hab 3:8-13) dan bagian ketiga (Hab 3:14-19)[5]. Disini Telnoni berbeda dengan TB-LAI yang tidak membagi pasal ini dalam perikop-perikop seperti dua pasal sebelumnya. Saya sendiri lebih memilih untuk membagi pasal ini sesuai dengan bentuk awalnya yaitu madah. Hal itu saya lakukan dengan memperhatikan kata sela pada teks ini. Hasilnya, saya membagi teks ini menjadi 4 bagian juga dengan beberapa perbedaan yaitu bagian pertama (Hab 3:1-3a), bagian kedua (Hab 3:3b-9a), bagian ketiga (Hab 3:9b-13) dan bagian keempat (Hab 3:14-19).

Bagian pertama menceritakan secara singkat bagaimana Habakuk menyadari bahwa tindakan Tuhan atas bangsa-bangsa, termasuk Israel, sedang terjadi. Kata T’eman disini diartikan Telnoni sebagai badai yang terjadi di Selatan sebagai wujud kekuatan Tuhan atau jalur masuknya bangsa Israel ke tanah Kanaan pasca eksodus[6]. Pegunungan Paran sendiri menunjuk pada pegunungan yang menjadi tempat Bangsa Israel tinggal setelah peristiwa di gunung Sinai. Bertolak dari pendapat Telnoni, saya berpendapat bahwa penulis berusaha menunjukkan bahwa Allah kembali turut bertindak menyelamatkan umat-Nya layaknya peristiwa eksodus.

Perasaan takjub akan tindakan Allah yang muncul pada bagian pertama, diperkuat oleh bagain kedua. Allah menunjukkan kemahakuasaan-Nya yang mengatasi langit dan lautan serta menimbulkan ketakutan terhadap bangsa-bangsa. Penggambaran dalam ayat 9a saya kira sengaja dituliskan untuk menunjukkan bahwa Allah telah siap “berperang” melawan musuh-musuh umat-Nya. Ini juga lekat dengan penggambaran YHWH oleh bangsa Israel yang seringkali diindentikkan dengan dewa perang.

Bagian ketiga juga berusaha mengingatkan bangsa Israel akan kedahsyatan kekuatan Allah yang berkuasa atas alam (Sungai, Gunung, Air, Matahari). Kedahsyatan ini kemudian diarahkan untuk menghukum musuh-musuh dan menyelamatkan orang yang diurapi Tuhan (Hab 3:13). Allah kembali lagi digambarkan sebagai penghukum bangsa-bangsa yang lalim meskipun bangsa tersebut digunakan Allah sebagai alatnya.

Bagian keempat, mirip seperti konklusi dan penutup. Menyadari akan kedahsyatan dan besarnya kuasa serta kasih Tuhan, membuat Habakuk yakin dan takjub akan janji Tuhan (Hab 3:16a). Ketakjuban inilah yang mendorong untuk tetap setia dan taat menunggu pemenuhan janji Allah meskipun ia berada dalam kondisi terpuruk (3:16b-17). Kondisi terpuruk ini kemudian tidak ia jadikan alasan untuk meninggalkan Tuhan melainkan ia memilih tetap setia dan bersukacita menanti janji Tuhan (3:18-19).

Catatan kaki:

[1] Blommendaal, J (diterjemahkan oleh: Naipospos, P.S)., Pengantar kepada Perjanjian Lama. (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1967). Hlm 107

[2] Bergant, Dianne dan Karris, Robert J (diterjemahkan oleh: Hadiwiyata, A. S)., Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. (Yogyakarta: Kanisius, 2002). Hlm 689

[3] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333.

[4] Collins, John J., Introduction To The Hebrew Bible. (Minneapolis: Fortress Press, 2004). Hlm. 333

[5] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 105

[6] Telnoni, J A., Tafsir Alkitab Kontekstual-Oikumenis Habakuk. (Jakarta: BPK Gunung Mulia). Hlm 111

Penulis: Qohelet

Tak Berkategori

Kekristenan Dalam Al-Qur’an

Raja Al-Harith V
Seorang Raja dari Kerajaan Kristen yang bernama Ghassan, terletak di tanah Arabia. Kerajaan ini lalu jatuh ke dalam kekuasaan Kekhilafahan Islam.
Sumber gambar: http://www.royalghassan.org

Al-Qur’an sebagai kitab suci sekaligus world view dari umat Muslim seringkali menjadi dasar yang menentukan sikap Muslim terhadap agama lain hingga hari ini. Pada dasarnya di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat inklusif yang mendukung kedamaian dalam hidup berdampingan dengan agama yang lain. Namun di lain sisi ada juga ayat-ayat yang bersifat ekslusif dan bersifat mengkritik ajaran agama lain. Kritik ini seringkali dipandang sebagai penghambat dalam hidup berdampingan dan merusak kebijakan modern yang menjunjung tinggi sikap respek dan toleransi. Untuk itu hal yang kerap menjadi polemik itu harus diduskusikan agar dapat membangun dasar bagi dialog inter religius di era modern ini.

Ambivalensi sikap terhadap yang lain seringkali ditunjukkan dalam Al-Qur’an. Misalnya pada QS 2:62 ditunjukan sikap yang simpatik berkaitan dengan jaminan keselamatan bagi yang lain. hal ini berlaku bagi orang yang percaya pada Tuhan dan melakukan perbuatan baik. Selain itu dalam QS 2:265 dan QS 190:5, kita dapat melihat bagaimana visi kebebasan beragama dijunjung dalam Al-Qur’an. Di sisi lain ada juga ayat Al-Qur’an yang bersifat sangat ekslusif, yang menganggap bahwa hanya Islam lah satu-satunya jalan menuju keselamatan (QS 3:19; 3:85; 5:3). Pada bagian tertentu (QS 5:17 dan 72) menunjukan kritik terhadap keliahian Yesus. Dibagian lain ada juga kritik terhadap doktrin Trinitas (QS 4:171; 5:73; dan 5:116) yang mana dalam Qur’an mereka memahami bahwa Tuhan disetarakan dengan Yesus dan Maria sebagai tiga persona dalam trinitas. Hal ini membuat kebanyakan Muslim mencoba menyerang Kekristenan dan Yahudi dengan keyakinan bahwa kitab mereka (yahudi dan kristen) telah dipalsukan. Walaupun demikian Al-Qur’an mengakui kitab-kitab suci yang telah ada sebelumnya (torah, injil, zabur, suhuf, dan alwah) bahkan dipandang sebagai sesuatu yang memberikan bimbingan dan cahaya. Penyelewengan terhadap perintah kitab suci serta asumsi bahwa kitab suci umat yahudi dan kristen telah dipalsukan akhirnya melatarbelakangi lahirnya teks-teks ekslusif. Lalu bagimana menyelesaikan ambivalensi sikap ini?

Untuk menyelesaikan ambivalensi ini ada dua strategi yang dilakukan oleh kalangan tradisonalis. Yang pertama adalah melihat sebab munculnya suatu wahyu (Asbab al nuzul) dalam hal ini konteks historisitas wahyu coba digali dengan metode eksegesis. Hal yang menjadi masalah dalam hal ini adalah perbedaan pendapat yang kontradiksi antara penafsir yang satu dengan yang lain. Strategi yang kedua adalah dengan melihat ayat yang membatalkan dan dibatalkan (al-nasikh wal mansukh). Dalam strategi ini ayat Alquran yang menjadi wahyu mula-mula dapat dibatalkan atau menjadi inactive oleh wahyu yang datang kemudian. Kedua strategi ini dapat dipahami sebagai upaya memahami kronologi fase-fase kehidupan yang dialami oleh Muhammad. Pada periode Mekah ketika agama Islam baru lahir dan masih lemah, sikap toleransi menjadi hal yang dijunjung tinggi, bahkan mereka sangat bersahabat dengan orang Kristen dan Yahudi. Julukan yang diberikan kepada kristen dan yahudi pun sangat ramah yakni “Ahl al kitab”. Akan tetapi ketika masuk ke periode Madinah, Muhammad mengalami perjumpaan yang berbeda dengan orang Kristen dan Yahudi disana. Karena kontak yang demikian besar dengan populasi umat Yahudi yang cukup banyak hal ini menjadi tema utama dalam periode Medinah. Klaim otoritatif atas teks kitab suci menjadi hal yang dikompetisikan antara Islam dan Yahudi. Belum lagi penolakan terhadap wahyu yang dibawa oleh Muhammad membuat ayat tertentu dalam Al- Qur’an merespons dengan keras agama yang lebih tua (Yahudi dan Kristen). Kemudian berdasarkan penelitian Angel Neuwirth jika kita membandingkan teks tentang Yesus dalam surah madinah (Surah al maryam) dan surah mekah (surah al imran), maka kita akan menjumpai agenda politis untuk melemahkan dominasi Yahudi di Medinah yang menganggap bahwa mereka telah menyalibkan Yesus sang Mesias. Dalam surah Medinah dikatakan bahwa Yesus tidaklah mati disalibkan, hal ini tentu saja sasaran utamanya bukan untuk mengkritik kekristenan tapi mengalahkan umat Yahudi. Dalam periode ini juga konsep teologi kekristenan berkaitan dengan Yesus dan Maria menjadi kontroversi. Walaupun demikian dalam sura Al maida (QS 5:48) pluralisme agama dipandang sebagai sebuah misteri ilahi yang harus diterima demi kemulusan relasi di ruang publik.

Pendekatan lain yang dapat digunakan selain kedua strategi di atas adalah heretical explanation yang dilakukan oleh para sarjana. Berdasarkan pendekatan ini, Quran sebenarnya tidak mengkritik doktrin Alkitab tentang trinitas tetapi mengkritik doktrin trinitas yang dibuat oleh beberapa sekte sesat dari kekristenan. Hal ini bisa dikatakan sebagai kesalahpahaman Islam dalam memahami doktrin kekristenan. Namun hal ini juga tidak sepenuhnya salah karena keristenan mempunyai beragam konsep tentang trinitas. Pandangan lain berpendapat bahwa teks tersebut berangkat dari praktek devosional yang dilakukan oleh orang Kristen yang mengkultuskan Maria. Praktek ini dilakukan oleh kalangan yang bernama Collyridians yang menganggap bahwa ada tiga tuhan : yakni Bapa, Putra, dan Maria. Rupanya sekte sesat ini nampaknya juga sempat ditentang dengan keras oleh St. Epiphanius of Salamis. Para sarjana juga mengatakan bahwa hal ini cukup wajar karena Arabia yang saat itu dikenal sebagia sumber ajaran sesat.

Dari sini kira bisa melihat bahwa Al-Qur’an menggunakan staregi retorikal dan mengangkat pernyataan yang polemik guna memenangkan argumen melawan kalangan/orang yang menolaknya. Dari beragam pemaparan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa pertama polemik Al-Qur’an terhadap orang Yahudi dan Kristen menunjukan sejauh mana Muhammad mengenal sejumlah besar istilah agama dan budaya dari komunitas yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu menurut para sarjana wajar jika Al-Qur’an meminjam istilah-istilah dari sumber Yahudi dan Kristen. pointnya bukanlah untuk membuktikan atau menolak teori “pinjaman” tetapi untuk menekankan bahwa studi polemik kitab suci sangat membantu dalam upaya merekonstruksi skenario agama periode awal dalam pengembangan komunitas agama. Kedua asal-usul Islam tidak dapat dipahami tanpa memperhitungkan pola interaksi antara agama monoteistik .Oleh karena itu polemik dalam kitab suci perlu direfleksikan dan di-reinterpretasikan dalam terang keberagaman agama di era modern.

Karya ini adalah resume dari buku:

“Other Religions” By Mun’im Sirry dalam The willet blackwell company to the Quran, second edition. edited by: Andrew Rippin and Jawid Mojaddeli.

Penulis: Eirens Josua Mata Hine

Tak Berkategori

WAHYU UMUM DAN WAHYU KHUSUS DALAM MEMANDANG AGAMA-AGAMA NON-KRISTEN

Nabi Musa di Gunung Sinai

Kadang kita bertanya: kalau Tuhan itu satu, mengapa banyak agama di dunia ini dengan ciri khasnya masing-masing. Hindu misalnya, identik dengan dewa-dewa yang berjumlah banyak sekali dan berpakaian ala India atau Bali sehingga rumit bagi golongan non-Hindu untuk mencerna kalau ternyata Yang di Atas itu berbeda budaya dari yang di bawah. Demikian pula Buddhisme dengan Boddhisatva dan Arhatnya atau Konghucu dengan pakaian ala Tiongkoknya.

Menanggapi keberagaman ini ada beberapa respon. Pertama, adalah mereka yang menganggap kalau Tuhan itu buatan manusia karena Tuhan tidak jauh-jauh menyerupai manusia tempat di mana Tuhan itu dipuja. Giliran ganti budaya otomatis ganti Tuhan. Voltaire, seorang Deis (percaya Tuhan tapi tidak percaya agama) menganggap, keberadaan wahyu-wahyu yang ditemui dalam berbagai agama membuat Tuhan tidak dapat diketahui sebab kalau Tuhan dapat diketahui, tentunya Ia akan mewahyukan kebenaran secara konsisten[1]. Golongan kedua menganggap bahwa semua wahyu ini sebenarnya memiliki 1 sumber Tuhan yang sama. Hanya saja karena mendarat di tempat yang berbeda maka mengalami refraksi (bias) namun tetap berfungsi untuk menyampaikan kebenaran. Golongan ini menganggap wahyu lain pun sama benarnya asal sudah disaring dari konteks tempat ia mendarat sehingga nampaklah wahyu yang ingin disampaikan Tuhan. Model yang diambil golongan ini adalah Gajah Ashoka, setiap agama hanyalah fragmen dari kebenaran besar yang tidak akan bisa dipahami manusia dan setiap fragmen ini terbuka untuk dikritik. Inilah model pluralis (yang juga tercermin dalam ekumenisme dalam Kekristenan)[2]. Golongan ketiga lebih tegas dalam menanggapi isu ini. Mereka berpemahaman bahwa hanya ada 1 wahyu yang benar dan yang lain adalah manipulasi dan tipu daya dari manusia[3A] atau kuasa jahat[3B]. Inilah prespektif fundamentalis.

Secara sepintas, ketiga pandangan ini tidak memuaskan menurut caranya masing-masing:

Pandangan Pertama meskipun tidak mendustai keberadaan Tuhan namun membuat Tuhan menjadi terlalu nan jauh di atas sana sehingga tidak punya urusan terhadap alam ini. Pandangan ini merekomendasikan Agnostikisme (tidak tahu akan keberadaan Tuhan) dan Deisme. Kelemahan pandangan ini adalah prespektif ini gagal menyadari bahwa manusia dalam kelemahannya pasti membutuhkan sosok untuk bersandar dan sosok ini harus accessible dan dekat. Jika Tuhan dibuat terlalu nan jauh di sana, maka tidak akan ada gunanya Tuhan ada atau tidak sebab Tuhan cuma pajangan

Pandangan Kedua selain relatif mendustai ortodoksi setiap agama yang tentunya akan membuat kaum fundamentalis memberang karena sifat kebenaran agama adalah konstan, juga membuat suatu kemunduran: wahyu yang dimaksudkan untuk membuat diri Tuhan diketahui menjadi manusia malah dimundurkan menjadi Tuhan yang abstrak sebab Tuhan bukan lagi Yesus, Brahma maupun Ahura Mazda melainkan Unknown yang mana Yesus, Brahma dan Ahura Mazda adalah cuma penerkaan manusia atas yang Unknown ini.

Pandangan Ketiga, sekalipun menegakkan ortodoksi tiap agama tempat pandangan ini berpijak, gagal menerka bahwa di luar agamanya sebenarnya ada orang-orang yang memiliki rasa keberimanan dan kerinduan akan yang ilahi. Bapa Reformator, John Calvin mempostulatkan adanya suatu sensus divinitatis atau perasaan akan keberadaan Ilahi pada semua orang[4], hanya saja tidak tahu mau dikemanakan atau diungkapkan perasaan itu. Menganggap bahwa semua orang di luar agamanya adalah pemuja setan, sebenarnya mendustai keberadaan sensus itu.

Maka, pengarang menawarkan pandangan keempat. Pandangan ini melibatkan wahyu umum. Sebelumnya, apa itu wahyu umum? Singkatnya, Wahyu Umum adalah pengungkapan ilahi yang nampak kepada semua orang tanpa memandang iman mereka. Wahyu Umum ada 5 yaitu[5]:

  • Alam Semesta
  • Musim-musim
  • Sejarah Dunia
  • Peristiwa-peristiwa sehari-hari dalam kehidupan manusia
  • Hati Nurani

Semua manusia secara spontan dapat mengetahui bahwa tidak mungkin dalam durasi yang sangat lama dan dalam skala yang sangat besar segala sesuatu bisa tertata sedemikian tepat dan rapinya tanpa kesengajaan dan tentunya, setiap yang sengaja pasti memiliki kehendak, dan dengan demikian, pribadi. Dari situ mereka bisa menginferensikan adanya Tuhan sekalipun tidak bisa mengamati-Nya.

Bagi kita orang Kristen yang tahu lewat kesaksian para Rasul bahwa alam semesta ini dijadikan oleh Firman Allah atau Kristus, kita tahu bahwa agama-agama lain pun mengamati Kristus juga dari gejala-gejala karya-Nya. Kita sudah tidak perlu lagi berdebat apakah Kristus ada atau tidak sebab agama lain pun tahu Kristus itu ada tetapi mereka tidak tahu siapa Kristus sehingga masih harus bergumul, menunggu, mencari dan berusaha untuk menggapai-Nya. Nah, bagi iman Kristen jelas bahwa Yesus adalah Kristus sehingga tugas setiap kita adalah mewartakan kepada mereka, bahwa yang telah mereka cari itu sudah datang sebagaimana yang dicontohkan Rasul Paulus pada penduduk Athena yang ditulis dalam Kisah Rasul 17:23 tentang mezbah kepada dewa yang tidak dikenal.

Banyak peradaban yang sebenarnya pararel dengan iman Kristen. Misal: Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un dalam Islam, sejajar dengan 1 Korintus 8: 6[6]; Sunyata dalam Buddhisme pararel dengan Kenosis pada Filipi pasal 2: 9[7]. Sementara Tao Te Jing dalam Taoisme sejajar secara substansi dengan Matius pasal 5: 1-12. Trimurti dalam Hinduisme pun bisa sejajar secara fungsional dengan Roma 11: 36. Pararelisme yang dicantumkan pada tulisan ini hanya sedikit dari banyak aspek yang ada. Kesejajaran ini mengimplikasikan 2 hal:

Pertama, tidak ada agama yang kurang secara substantif-fungsional baik Kristen maupun agama lain yang sampai menuntut adanya inkorporasi story agama satu ke agama yang lain (mendekati sinkretisme). Semua worldview agama-agama memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum karena mereka telah eksis selama ribuan tahun dengan obyek material (manusia, alam, Tuhan) dan obyek formal (kosmologis, antropologis, etis, eksistensial, dll) sama walaupun dengan narasi, ekspresi dan regulasi yang berbeda-beda. Demikian pula tidak perlu kita merasa rendah diri ketika berhadapan dengan teks lain yang menyajikan hal yang selama ini terkubur dalam iman kita. Tidak perlu sampai kemudian merasa terkhianati oleh Alkitab karena silau akan teks lain lalu berbalik menyerang iman Kristen dengan bermodalkan kitab lain sebagai kacamata, yang tentunya tidak fair.

Kedua, melihat bahwa secara substansi ada kesejajaran antara Kristen dengan non-Kristen mestinya kita tidak perlu melihat iman non-Kristen sebagai sesuatu yang pasti, seluruhnya, dan selamanya datang dari setan melainkan suatu upaya manusia yang ingin menggapai Tuhan namun tidak mendapatkan kesempatan untuk menerima pengungkapan khusus yaitu Inkarnasi Yesus. Agar mereka bisa menggapai itulah Gereja perlu bermisi. Alih-alih memposisikan teologi iman lain sebagai musuh dan berusaha menghancurkan tatanan mereka dalam rangka menang atas setan, Kekristenan mestinya memposisikan teologi lain ini sebagai slot untuk diisi oleh Kristus, subyek yang mereka cari-cari selama ini.

Referensi:

1. https://enacademic.com/dic.nsf/enwiki/197208 diakses pada 1 Oktober 2019

2. Said, Nur. 2015. Nalar Pluralisme John Hick Dalam Keberagamaan Global dalam FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Volume 3

3A. https://www.gotquestions.org/so-many-religions.html diakses pada 1 Oktober 2019

3B. https://www.gotquestions.org/oldest-religion.html diakses pada 1 Oktober 2019

4. Pritchard, Duncan. 2014. What Is This Thing Called Knowledge; New York; Routledge halaman 136

5. Katekisasi dengan Pater Lazarus Bambang Sucanto, Gereja Ortodoks Aghios Dionysios Zakynthos, Yogyakarta pada tanggal 20 November 2018

6. Dr. Bambang Noorsena dalam ceramahnya di GKJ Adisucipto, Yogyakarta pada 11 Juni 2019

7. Pdt. Seno Adhi Noegroho, M.th dalam lekturnya di AKINDO Yogyakarta pada 30 September 2019

Penulis: Henry Kurniadi

Tak Berkategori

APAKAH KRISTEN ADALAH AGAMA ?

Tuhan sertamu !

Sekarang ini banyak banget orang Kristen yang pakai tag line “Kristen bukan Agama tapi Kristen adalah hubungan Allah dengan manusia”, ya gua gk menyalahi bagian “Kristen adalah hubungan Allah dengan manusia” karena memang begini adanya menurut iman Kristiani, tapi bagian “Kisten bukan agama” ini cukup membuat gua mual yang mana mual yang dihasilkan dari gua membaca kumpulan huruf nir-makna ini melebihi daripada mual gua waktu nyium kaus kaki yang terkena air hujan dan ditaruh ditempat lembab selama berhari-hari. Oke gua sudahi keluh kesah gua sampai sini, nanti gua jelasin asal mula munculnya kalimat konyol tadi.

MAKNA-MAKNA KATA AGAMA

Secara etimologis kata agama berasal dari dua kata yaitu a yang berarti tidak dan gam yang berarti pergi, jadi agama berarti tidak pergi, maksudnya disini adalah tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi entah secara darah atau hubungan sosial dan semacamnya.[1]
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “agama/aga·ma/ n ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya”.

1. Apakah Kristen adalah Agama jika dipandang dari sisi etimologi ?

Kalau dipandang dari sisi etimologinya, Kristen sudah jelas sesuai dengan kata “agama”, dan ini dibuktikan didalam Kitab Suci Kristen sendiri, kalau pake terjemahan ntar gua dibilang ngada-ngada kan, jadi gua pakai bahasa aslinya dulu baru terjemahannya oke, kuy kita baca:

ΘΕΣΣΑΛΟΝΙΚΕΙΣ Β 2:15
αρα ουν αδελφοι στηκετε και κρατειτε τας παραδοσεις ας εδιδαχθητε ειτε δια λογου ειτε δι επιστολης ημων

Thessalonikeis B 2:15
Ara oun adelphoi stekete kai krateite tas PARADOSEIS as edidakhthete eite dia logou eite di epistolis imoonoun

2 Thessalonians 2:15 (KJV)
Therefore, brethren, stand fast, and hold the TRADITIONS which ye have been taught, whether by word, or our epistle.

*terjemahan gua*
2 Tesalonika 2:15
Oleh karena itu saudara-saudari, berdirilah teguh dan peganglah Tradisi-tradisi yang mana telah kalian terima, baik itu secara lisan, maupun surat apostolik kami.

Kata παραδοσεις(paradoseis) dalam bahasa Yunani berasal dari dua kata yaitu para yang artinya dari dekat dan didomi yang artinya menyerahkan, jadi paradoseis artinya sesuatu hal yang berada didekat lalu diserahkan, atau hemat katanya “tradisi”,[2] dan memang dalam Alkitab Bahasa Inggris terjemahan King James Version kata “paradoseis” ini diterjemahkan menjadi “traditions”.
Maka disini bisa disimpulkan bahwa Kristen adalah “agama” jika dipandang dari sisi etimologi.

2. Apakah Kristen adalah agama jika dipandang menurut definisi dari KBBI ?

Tadi udah diulas secara sisi etimologis, lalu gimana jika dipandang menurut KBBI ? ya sudah jelas sekali jelas sesuai dong, ayo kita kupas satu-satu terus kita goreng, kuy :
– Sistem yang mengatur tata keimanan, ini udah jelas ada dong, buktinya disini:

Kisah Para Rasul 16:31
Jawab mereka: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

dan masih banyak lagi selain ini, bahkan dalam Konsili-konsili Ekumenis masalah tata keimanan itu sangat dibahas secara detil supaya tidak ada benturan antara pengajaran yang satu dan pengajaran yang lainnya.

– peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, ya jelas dong ada :

1 Korintus 14:26
Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.

jadi jelas ada aturannya, bahkan ditekankan lagi didalam ayat selanjutnya,

1 Korintus 14:40
Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.

– tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya, sudah jelas Kekristenan juga mengatur hal ini :

Matius 5:44
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Dan bahkan juga ada tata aturan didalam komunitas Kristen sendiri :

Matius 18:15-17
15. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
16. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
17. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat(Yunani: Ekklesia, KJV: Church = Gereja). Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat(Gereja), pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah(Yunani: etnikos, KJV: heathen = bangsa/orang kafir) atau seorang pemungut cukai.

Maka disini bisa kita simpulkan bahwa Kristen adalah agama jika dipandang menurut KBBI.

KATA AGAMA DIDALAM ALKITAB

Ya kita tau ada banyak kata “agama” didalam Alkitab yang mana kebanyakannya ditujukan kepada tradisi dan hukum spiritual Yahudi a.k.a Yudaisme, tapi pernah gak sih lu nemuin kata “agama” yang ditujukan kepada kumpulan orang Kristen ? gak pernah ? makanya kuota internet tuh jangan cuman dipake untuk liat waifu kapal-kapalan aja, masih banyak hal yang berfaedah dapat lu cari di internet, okelah gua langsung kasih ayat-ayatnya aja oke:

ΙΑΚΩΒΟΥ 1:26-27
26. ει τις δοκει θρησκος ειναι εν υμιν μη χαλιναγωγων γλωσσαν αυτου αλλα απατων καρδιαν αυτου τουτου ματαιος η θρησκεια
27. θρησκεια καθαρα και αμιαντος παρα θεω και πατρι αυτη εστιν επισκεπτεσθαι ορφανους και χηρας εν τη θλιψει αυτων ασπιλον εαυτον τηρειν απο του κοσμου

IAKOVOU 1:26-27
26. Ei tis dokei THRESKOS einai en hymin mi khalinagoogoon glossan autou alla apatoon kardian autou toutou mataios i THRESKEIA
27. THRESKEIA kathara kai amiantos para Theoo kai Patri auti estin episkeptesthai arphanous kai khiras en ti thlipsei autoon aspilon eauton tirein apo tou kosmou

James 1:26-27
26. If any man among you seem to be RELIGIOUS, and bridleth not his tongue, but deceiveth his own heart, this man’s RELIGION is vain.
27. Pure RELIGION and undefiled before God and the Father is this, To visit the fatherless and widows in their affliction, and to keep himself unspotted from the world.

*terjemahan gua*
Yakobus 1:26-27
26. Jika ada seseorang diantara kamu tampak BERAGAMA, tetapi tidak mengekang lidahnya, tetapi menipu hatinya sendiri, AGAMA orang tersebut tampak sia-sia.
27. AGAMA yang sejati dan tidak bercacat dihadapan Allah, dan Sang Bapa adalah ini, mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.

θρησκεια(threskeia) adalah kata dalam bahasa Yunani yang bermakna : Ibadah keagamaan yang terutama secara external terdiri atas upacara, disiplin keagamaan, agama-agama dunia, dan kesalehan.[3]
Jadi secara definisinya bisa kita lihat bahwa threskeia serupa seperti definisi “agama” dalam bahasa Indonesia, dan memang dalam terjemahan Alkitab KJV kata threskeia ini diterjemahkan menjadi religion yang mana “religion” ini kita semua tau bisa diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi “agama”. Masih gak percaya ? coba lu check di Google translate kata “agama” dari bahasa Indonesia ke bahasa Yunani pasti hasilnya θρησκεία(threskeia).

PENGGUNAAN KATA AGAMA OLEH TOKOH-TOKOH KRISTEN

– Martin Luther
Dalam buku “Dictionary of Burning Words of Brilliant Writers” yang ditulis oleh Josiah Hotchkiss Gilbert pada halaman 320, tercatat bahwa Martin Luther pernah menulis “true religion” yang ditujukan kepada Kristen.[4]

– Yohanes Kalvin
Yohanes Kalvin memiliki karya tulis yang ia beri judul “institutio Christianae religionis” atau bila diterjemahkan menjadi “pengajaran agama Kristen”.[5]

– Bapa Gereja, Tertulianus(hidup tahun 155-230, SEBELUM KONSTANTIN)
Dalam tulisannya “apologeticum” pasal 35, babang Tertu menulis istilah “verae religionis” yang artinya “agama yang benar”, istilah ini ditujukkan kepada iman orang Kristen yang pada saat itu mengalami penganiayaan oleh Kekaisaran Romawi.[6]

ASAL MULA PERNYATAAN KRISTEN BUKAN AGAMA

Gak ada yang tau pasti kapan dan dari siapa munculnya pernyataan konyol ini, menurut rationalwiki yang memulai tag line konyol ini kebanyakan dari Kristen Evangelikal yang ingin dianggap beda dan untuk kepentingan branding, dan yang pasti tag line konyol ini baru dimulai pada abad 20/21.
Tapi uniknya ada seorang pembawa acara di Amerika, namanya Bill O’Reilly, dia seorang Katolik tapi ikut ambil bagian dalam menyuarakan tag line “Kristen bukan agama”.[7]

KESIMPULAN

Secara linguistik, biblikal, dan patristik telah dibuktikkan bahwa Kristen adalah sebuah agama, adapun orang-orang Kristen yang menolak dan menentang menyebut Kristen sebagai agama, mereka hanyalah sekumpulan orang yang mengekspresikan syahwat kedangkalan pengetahuan mereka, dan dengan ego supaya “Kristen” benar-benar dibedakan dari “agama/kepercayaan” lain bahkan secara klasifikasi yang luas.

Refrensi

1. Penaraka: pengertian agama

2. Biblehub: παραδοσεις

3. Biblehub: θρησκεια

4. Wikiquote: Martin Luther

5. Sabda.net: Institutio

6. Tertulianus, Apologeticum

7. Rationalwiki: Christianity is not a religion

Penulis: Ephitimia

Tak Berkategori